PADANG- Bank Indonesia menilai, diperlukan upaya untuk meningkatkan produktivitas sektor tanaman pangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat ke depan.
Hal itu ditegaskan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram memaparkan peluang dan tantangan ekonomi dalam Dialog Ekonomi Sumatera Barat, Senin (19/1/2026). Menurutnya, dari sisi lapangan usaha sektor pertanian saat ini ditopang oleh tanaman perkebunan sementara tanaman pangan mengalami penurunan.
“Lapangan usaha pertanian meningkat didorong oleh tanaman perkebunan terutama kelapa sawit di tengah penurunan tanaman pangan padi,” kata Majid.
Dia menyebutkan, sejak tahun 2021, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat lebih rendah dari pertumbuhan nasional. Tahun 2025 diprakirakan berada pada kisaran 3,33-4,13 persen, lebih rendah dibanding nasional yang diprakirakan berada pada kisaran 4,7-5,5 persen.
Lebih jauh, Majid menerangkan, perkembangan pangsa subsektor pertanian, dari tahun 2019 hingga 2024 tanaman pangan mengalami penurunan. Di sisi lain tanaman perkebunan meningkat menjadi penyumbang Utama sektor pertanian.
“Tanaman pangan pada 2019 berkontribusi 38,11 persen terus menurun setiap tahun hingga tahun 2024 hanya 31,68 persen sementara tanaman perkebunan dari 32,44 persen pada 2019 naik menjadi 37,72 persen pada 2024,” ujarnya.
Kondisi itu menurut Majid juga tercermin dari perbandingan Nilai Tukar Petani (NTP) perkebunan rakyat dan NTP tanaman pangan. NTP Tanaman pangan melandai di angka 105,26 sementara NTP Perkebunan Rakyat berada di angka 148,61.
Majid menyoroti, menurunnya luas panen padi di tengah belum optimalnya produktivitas lahan turut menekan angka produksi padi di Sumatera Barat dari tahun ke tahun. Tahun 2019 tercatat luas panen padi 311.671 hektare namun pada tahun 2025 berkurang menjadi 283.819 hektare dengan rerata produktivitas 4,81 ton per hektare.
“Produksi gabah kering giling (GKG) pada tahun 2019 tercatat 1.482.996 ton namun pada tahun 2025 hanya 1.366.176 ton,” bebernya.
Selain sektor pertanian, komponen lapangan usaha yang turut melambat pada tahun 2025 menurut Majid adalah konstruksi, transportasi dan pergudangan. Tahun 2025 komponen lapangan usaha konstruksi memberikan kontribusi terhadap PDRB sebesar 9,61 persen, turun dibanding tahun 2024 yang masih berkontribusi 10,08 persen. Transportasi dan pergudangan turun dari 11,11 persen pada 2024 menjadi 10,89 persen pada 2025.
Majid mengungkapkan optimisme bahwa pada tahun 2026 pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat akan meningkat pada rentang 3,84-4,6 persen (year on year). Hal itu terutama dari menguatnya permintaan domestic serta peningkatan investasi seiring dengan proses pembangunan flyover Sitinjau Lauik.
“Meski demikian, terdapat potential risk yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi
menjadi lebih rendah, terutama apabila pemulihan ekonomi pascabencana tidak dilakukan secara cepat,” katanya.
Majid menegaskan, diperlukan upaya ekstra dalam hal mencari sumber pertumbuhan dari lapangan usaha non-tradisional penyumbang ekonomi saat ini mengingat target 7 persen belum pernah dicapai dalam 10 tahun terakhir. Pemerintah pusat menargetkan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat terus meningkat dari 5,7 persen pada 2026 menjadi 7,3 persen pada 2029. Beberapa contoh lapangan usaha non-tradisional seperti jasa Kesehatan, industri data center, serta pembangkit energi terbarukan.
“Akselerasi pemulihan ekonomi pascabencana menjadi penting untuk memastikan roda ekonomi dan aktivitas sektor riil dapat berjalan. Di sisi lain, terdapat tekanan inflasi baik dari global maupun domestik yang perlu diwaspadai,” tutupnya.
Dialog Ekonomi Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat tersebut juga menghadirkan narasumber dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Balai Pemeliharaan Jalan Nasional (BPJN) Kementerian Pekerjaan Umum, dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sumatera Barat. F






