PADANG- Bank Perkreditan Rakyat (BPR) baik konvensional maupun syariah berpotensi besar menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. Dengan daya jangkau yang menyentuh hingga ke pelosok, BPR dan BPRS masih memiliki market share yang bagus dan penyaluran kredit terbesarnya ke sektor UMKM.
Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Barat Roni Nazra dalam pertemuan dengan wartawan, Selasa (18/11/2025).
“BPR dan BPRS masih memiliki market share yang bagus ke depan dan diharapkan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi khususnya untuk mendorong perkembangan usaha mikro kecil dan menengah,” kata Roni.
Meskipun demikian, ia mengakui bahwa masih ada di antara BPR/BPRS yang memiliki kelemahan dalam pengelolaan. Namun, hal itu menjadi catatan tersendiri bagi OJK untuk terus mendorong agar BPR/BPRS tersebt meningkatkan kinerja.
“Bagi BPR dan BPRS tersebut kita terus mendorong untuk melakukan pembenahan dalam rangka pembenahan,” ujarnya.
Sementara itu, saat ini tercatat sebanyak 77 BPR dan BPRS di Sumatera Barat. Pada posisi September 2025 OJK melihat BPR/BPRS tersebut tumbuh dengan baik.
Roni merinci, per September 2025 total aset BPR/BPRS di Sumatera Barat adalah sebesar Rp2,93 triliun atau tumbuh 10,13 persen year on year (yoy). Total penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) adalah sebesar Rp2,13 triliun atau tumbuh 7,11 persen (yoy), dan total penyaluran kredit/pembiayaan sebesar Rp2,25 triliun atau tumbuh 8,95 persen (yoy).
“Dari total penyaluran kredit tersebut sebesar 71,19 persen di antaranya merupakan kredit aau pembiayaan bagi UMKM,” kata Roni. F







