JAKARTA- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan terus memperkuat fungsi pengawasan dan deteksi dini terhadap aktivitas transaksi yang tidak wajar dan potensi pelanggaran di pasar modal. Selain itu juga meningkatkan sinergi dengan organisasi pengatur mandiri (Self Regulatory Organization atau SRO) dan pelaku pasar serta memperkuat formasi dengan aparat penegak hukum guna memastikan penegakan disiplin pasar, pemberantasan praktik manipulatif, dan juga perlindungan optimal bagi investor.
Hal itu ditegaskan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan Inarno Djajadi dalam pembukaan Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2025 di Gedung Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (17/10/2025).
Inarno menegaskan, sesuai dengan dialog dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait pasar modal, bahwa adalah penting meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal. Salah satunya dengan menjaga agar transaksi pasar modal berjalan dengan wajar, teratur dan juga efisien.
Inarno menyampaikan apresiasi bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi global, perubahan geopolitik, dan dinamika pasar keuangan internasional, pasar modal Indonesia tetap menunjukkan ketangguhan kemampuan beradaptasi serta optimism yang tinggi untuk terus bertumbuh.
“Ini tentu menggembirakan, namun di sisi lain juga menuntut tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga integritas. OJK memandang bahwa aspek perlindungan konsumen dan investor serta terjaganya integritas pasar menjadi hal fundamental yang harus menjadi perhatian,” kata Inarno.
Dia menambahkan, hingga 16 Otober 2025 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai 8.124 atau tumbuh sebesar 14,76 persen year to date (ytd). Adapun nilai kapitalisasi pasar saham telah mencapai Rp15.227 triliun atau setara 68,78 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Angka tersebut sudah mendekati target dari peta jalan (roadmap) kita, di mana roadmap 2023-2027 adalah 70 persen dan diharapkan dapat mencapai target pada tahun 2027 mendatang,” ujarnya.
Lebih jauh, Inarno membeberkan, penghimpunan dana di pasar modal tetap terjaga dengan baik. Hingga 15 Oktober 2025 OJK telah menerbitkan 161 pernyataan efektif atas emisi efek dengan total nilai penghimpunan dana yaitu sebesar Rp189,6 triliun. Sementara itu alternatif pendanaan lain melalui Securities Crowdfunding telah berhasil menghimpun dana bagi usaha skala kecil dan menengah sekitar Rp1,72 Triliun yang berasal dari 912 penerbit atau efek yang diterbitkan.
Sementara untuk total Single Identification Investor (SID) pasar modal, Inarno juga menyampaikan hampir mencapai target, di mana menurut data BEI saat ini sudah mencapai 19 juta investor per 15 Oktober 2020. “Jadi sedikit lagi, kita menargetkan 2027 itu adalah 20 juta ya, mudah-mudahan melebihi dari target yang telah direncanakan,” tambahnya.
Menyoal CMSE 2025, Inarno menegaskan, tema yang diusung “Pasar Modal untuk Rakyat, Satu Pasar Sejuta Peluang” adalah sangat relevan. Pasar modal bukan hanya milik investor besar dan sarana pendanaan bagi koorporasi, tetapi juga sebagai wadah partisipasi seluruh lapisan masyarakat dalam pembangunan ekonomi.
Semangat inklusif yang diusung melalui tema tersebut sejalan dengan arah kebijakan pembangunan nasionl dalam Asta Cita dan rencana pembangungan jangka panjang yang menempatkan penguatan ekonomi rakyat dan pemerataan akses keuangan sebagai prioritas Utama.
“Pasar modal adalah ruang ekonomi bersama di mana setiap warga memiliki kesempatan yang sama berpartisipasi dan berkontribusi, dan juga memperoleh manfaat dari kemajuan ekonomi Indonesia,” paparnya.
“Literasi kepada masyarakat pun terus diperluas agar investor memahami bahwa investasi yang bijak memerlukan pemahaman terhadap risiko, bukan semata-mata mengejar keuntungan cepat,” tukuknya.
Inarno menegaskan, OJK juga terus memperkuat fondasi pasar modal secara menyeluruh melalui berbagai program strategis. Terutama difokuskan kepada kebijakan pendalaman pasar dan perluasan akses investor.
CMSE 2025 merupakan rangkaian kegiatan dari peringatan 48 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia, yang diselenggarakan oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
CMSE 2025 yang menjadi ajang temu bagi para pemangku kepentingan pasar modal Indonesia itu diselenggarakan di Main Hall Bursa Efek Indonesia selama dua hari berturut-turut pada 17 – 18 Oktober 2025. CMSE 2025 menyajikan enam sesi kegiatan seminar dengan beragam topik yang menarik di pasar modal, serta dimeriahkan dengan doorprize dan hiburan, serta menghadirkan 95 tenant (88 booth) dari pelaku pasar/ industri dan UMKM. F







