Pasokan Menurun, Cabai Merah Masih Jadi Pemicu Inflasi Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Pasokan Menurun, Cabai Merah Masih Jadi Pemicu Inflasi Sumbar

Pasokan Menurun, Cabai Merah Masih Jadi Pemicu Inflasi Sumbar

Cabai gpm

PADANG- Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Sumatera Barat secara umum tercatat mengalami inflasi sebesar 0,85 persen (month to month/ mtm). Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga sejumlah komoditas pangan terutama cabai merah.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Andy Setyo Biwado menyebutkan, kenaikan harga cabai merah dipengaruhi oleh menurunnya produksi local dan terbatasnya pasokan dari luar provinsi. Selain itu, juga didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan dan biaya akademi/perguruan tinggi.

“Namun laju inflasi lebih tinggi dpat tertahan oleh penurunan harga beberapa komoditas pangan khususnya kelompok hortikultura,” katanya mengutip siaran pers yang diterima Rabu (8/10/2025).

Andy merinci, penyumbang inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatatkan inflasi 2,02 persen (mtm) dengan andil 0,68 persen. Hal itu disebabkan oleh turunnya pasokan cabai merah, cabai hijau, cabai rawit, ikan cakalang dan daging ayam ras.

“Harga cabai merah naik sekitar 54,50 persen (mtm) dampak berkurangnya pasokan dari sentra produksi lokal maupun daerah sekitar karena musim kering yang lebih panjang,” ujarnya.

Namun demikian, dia mengungkapkan, harga jual bawang merah justru mengalami penurunan sebesar 18,36 persen (mtm). Hal itu sejalan dengan meningkatnya produksi lokal dan masuknya musim panen di berbagai sentra nasional.

Selanjutnya, terang Andy, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 2,115 persen (mtm) dengan andil 0,11 persen. Kenaikan itu didorong oleh peningkatan harga emas perhiasan sebesar 7,74 persen (mtm) seiring dengan penguatan harga emas global.

Dia menerangkan, secara kumulatif, perkembangan harga di Sumatera Barat hingga September 2025 sebesar 3,46 persen (year to date/ytd). Secara spasial, seluruh kabupaten dan kota IHK mengalami inflasi. Tertinggi di Kabupaten Pasaman Barat yang mencatatkan inflasi 1,64 persen (mtm), disusul Kota Bukittinggi 1,32 persen (mtm), Kabupaten Dharmasraya 0,95 persen (mtm), dan Kota Padang 0,54 persen (mtm).

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat, tegasnya, senantiasa berkomitmen menjaga stabilisasi laju inflasi agar tetap terkendali dan berada dalam rentang sasaran. Daam pertemuan tingkat tinggi TPID pada tanggal 2 Oktober 2025 lalu, telah disepakati beberapa upaya pengendalian inflasi.

Langkah pengendalian inflasi tersebut salah satunya adalah intensifikasi Gerakan Pangan Murah (GPM) melalui perluasan penyelenggaraan pasar murah terhadap sejumlah komoditas pangan pokok. Kemudian memperkuat komunikasi publik yang efektif untuk penyebarluasan informasi jadwal GPM.

TPID juga terus menjaga kecukupan pasokan di masing-masing daerah, salah satunya melalui penguatan kerja sama antardaerah intra Provinsi Sumatera Barat. Menghidupkan Kembali Gerakan menanam cabai di pekarangan, serta terus memperkuat koordinasi di tingkat provinsi dan TPID kabupaten/ kota.

“Dengan penguatan sinergi dengan berbagai pihak, TPID Sumatera Barat optimistis program pengendalian inflasi pangan berjalan efektif. Komitmen ini akan terus dijaga untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam rentang 2,5±1 persen (yoy) sampai dengan akhir tahun 2025,” tutupnya. */F

Berita Terkait

Leave a Reply