JAKARTA- Inklusi keuangan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menyediakan aktivitas keuangan produktif yang pada akhirnya menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan dan mengurangi kemiskinan.
Hal itu ditegaskan Kepala Departeman Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) M. Ismail Riyadi dalam media gathering OJK dengan wartawan di wilayah kerja OJK Sumatera Bargian Utara, Senin (4/8/2025). Menurutnya, terdapat hubungan yang positif antara tingkat literasi keuangan dan kesejahteraan keuangan.
“Inklusi keuangan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menyediakan aktivitas keuangan produktif yang pada akhirnya menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan mengurangi kemiskinan,” kata Ismail.
Dia menyebutkan, globalisasi mendorong digitalisasi di berbagai lini kehidupan, termasuk sektor keuangan, namun sayangnya tingkat literasi di Indonesia masih rendah. Tingkat penetrasi Indonesia menurutnya pada tahun 2024 adalah 79,5 persen sementara indeks literasi digital Indonesia berada di angka 62 persen. “Paling rendah dibanding negara-negara ASEAN lainnya dengan rata-rata 70 persen. Digitalisasi belum diimbangi dengan literasi yang mumpuni,” ujarnya.
Ismail memaparkan, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2025, indeks literasi yang berada pada angka 65,45 persen tahun 2024 menjadi 66,46 persen pada tahun 2025 dan cakupan DNKI 66,64 persen. Sementara indeks inklusi keuangan dari 75,02 persen pada 2024 menjadi 80,51 persen dengan cakupan DNKI 92,74 persen.
Dalam upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, OJK terus menggencarkan edukasi dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Tujuannya adalah masyarakat mendapatkan edukasi yang baik terkait sektor jasa keuangan.
“Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari pelaksanaan fungsi perlindungan konsumen sehingga dengan meningkatnya literasi dan inklusi, masyarakat semakin bijak dan cerdas,” ujarnya.
Untuk tujuan tersebut, dia menegaskan, pemberian layanan informasi harus dilakukan termasuk dengan penguatan komunikasi melalui media massa. Dia menyebut, komunikasi dan informasi di era sigital sangat penting.
“Dukungan media massa sangat penting bagi industry jasa keuangan dan sebagai mitra strategis, Bersama menjaga stabilitas sistem keuangan dan reputasi industri jasa keuangan yang kredibel, serta memperkuat kepercayaan masyarakat,” bebernya.
Media massa menurutnya berfungsi sebagai sumber informasi utama bagi masyarakat tentang kebijakan, produk, dan inovasi di sektor jasa keuangan. Media dapat membangun narasi positif tentang stabilitas dan keamanan sektor jasa keuangan, terutama di tengah krisis atau perubahan kebijakan.
“Media massa berperan sebagai mitra strategis yang memastikan pelaku industri dan regulator bertindak sesuai dengan aturan dan menjaga kepentingan publik,”sebutnya.
Media Gathering OJK Wilayah Sumbagut tersebut diikuti oleh 50 wartawan dari lima provinsi yaitu Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau. Melalui kegiatan itu, OJK berharap dapat meningkatkan kemitraan dalam upaya mengedukasi masyarakat untuk mendongkrak literasi dan inklusi keuangan Indonesia. F







