PADANG- Perkembangan Indek Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Barat pada Juli 2024 secara umum tercatat mengalami deflasi. Kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan pengaruh terjadinya deflasi tersebut.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Mohamad Abdul Majid Ikram menyampaikan, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi sebesar -3,34 persen month to month (mtm) yang memberikan andil deflasi sebesar -1,14 persen mtm.
“Beberapa komoditas dominan yang memengaruhi inflasi pada kelompok tersebut yaitu, cabai merah, bawang merah, dan daging ayam ras. Penurunan harga dipengaruhi oleh meningkatnya pasokan baik dari dalam maupun luar Sumatera Barat,” kata Ikram mengutip siaran pers yang disampaikan Jumat (2/8/2024).
Selain itu, lanjutnya, mulai beroperasinya jalan nasional utama Padang-Bukittinggi via Padang Panjang memperlancar distribusi yang turut menurunkan biaya logistik.
Ikram menambahkan, kelompok penyumbang deflasi selanjutnya adalah kelompok transportasi yang mengalami deflasi sebesar -0,08 persen mtm dengan andil deflasi -0,01 persen mtm. Komoditas dominan yang mempengaruhi deflasi pada kelompok tersebut adalah tarif angkutan udara dengan andil deflasi sebesar -0,02 persen mtm.
Meningkatnya biaya pada kelompok Pendidikan menahan deflasi yang lebih dalam pada Juli 2024 dengan inflasi sebesar 1,03 persen mtm dengan andil inflasi 0,05 persen mtm, sejalan dengam momentum tahun ajaran baru. Komoditas yang menahan deflasi pada kelompok pendidikan adalah sekolah menengah atas, sekolah dasar, dan bimbingan belajar.
Ikram menyebutkan, deflasi di Sumatera Barat dialami oleh seluruh kabupaten dan kota penghitung inflasi. Deflasi tertinggi dialami Kabupaten Pasaman Barat dengan mencatatkan realisasi deflasi sebesar -1,74 persen mtm sementara pada Juni mengalami inflasi sebesar 0,10 persen mtm. Kemudian Kota Padang mencatatkan deflasi -0,87 persen mtm, naik dibandingkan Juni 2024 yang mengalami inflasi sebesar 0,08 persen mtm.
Selanjutnya Kabupaten Dharmasraya juga mencatatkan deflasi yaitu sebesar -1,52 persen mtm dibandingkan Juni 2024 yang mengalami inflasi sebesar 0,56 persen mtm. Kota Bukittinggi tercatat mengalami deflasi sebesar -0,60 persen mtm, dibandingkan bulan Juni 2024 yang mengalami inflasi sebesar 0,22 persen mtm.
“Secara tahunan, seluruh kabupaten/kota IHK tersebut tercatat mengalami inflasi, dengan rincian Kabupaten Pasaman Barat sebesar 3,32 persen year on year (yoy), Kota Bukittinggi sebesar 2,95 persen (yoy), Kabupaten Dharmasraya 2,48 persen (yoy), dan Kota Padang 2,11 persen yoy,” ulasnya.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Barat terus berkomitmen untuk mengendalikan inflasi tetap terkendali dan berada di sekitar target 2,5±1 persen (yoy). Komitmen tersebut dilakukan dengan berbagai upaya pengendalian inflasi daerah yang telah dilakukan. Sementara itu, sinergi juga terus dilanjutkan dengan memperkuat koordinasi dalam mengimplementasikan program pengendalian inflasi pangan secara lebih efektif.
:Berbagai upaya menjaga inflasi terkendali dalam sasaran tersebut pada gilirannya diharapkan dapat mendukung upaya mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat yang inklusif dan berkelanjutan,” tutupnya. */F






