
PADANG – Di tengah tantangan ekonomi global yang diprakirakan juga akan memberikan dampak kepada ekonomi domestik, pertumbuhan positif ekonomi Sumatera Barat terus berlanjut. Triwulan III tahun 2022 tumbuh sebesar 4,54 persen year onm year (yoy) seiring meningkatnya mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat meskipun dibayang-bayangi permintaan komoditas global yang mereda seiring meningkatnya ketidakpastian.
Hal itu disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah Sumatera Barat Wahyu Purnama A dalam penyampaian Outolook Perekonomian Sumatera Barat tahun 2023 di gedung Aunggun Nan Tongga, Rabu (25/1/2023).
“Pertumbuhan positif ekonomi Sumatera Barat berlanjut, pada triwulan III tahun 2022 tumbuh sebesar 4,54 persen (yoy) seiring meningkatnya mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat meskipun masih dibayangi permintaan komoditas global yang mereda seiring meningkatnya ketidakpastian,” papar Wahyu.
Wahyu mengungkapkan, prospek perekonomian Sumatera Barat di tahun 2023 dilihat dari lapangan usaha akan ditopang oleh lapangan usaha pertanian dan lapangan usaha industri pengolahan. Sementara lapangan usaha perdagangan dan lapangan usaha transportasi diprakirakan akan mengalami penurunan.
“Dari sisi pertanian, prakiraan cuaca pada tahun 2023 lebih menguntungkan, kemudian harga tandan buah segar (TBS) yang lebih optimal seiring dengan permintaan yang meningkat,” bebernya.
Sementara itu pada lapangan usaha industri pengolahan juga akan meningkat. Faktor penopang antara lain permintaan Tiongkok yang diprakirakan pulih akan mendorong permintaan Crude Palm Oil (CPO).
“Penopang lainnya adalah pembangunan Jalur Tol Trans Sumatera (JTTS) Padang-Sicincin yang kembali optimal pada tahun 2023 mendorong permintaan semen,” ujarnya.
Sedangkan lapangan usaha perdagangan diperkirakan menurun karena beberapa faktor. Antara lain faktor base year tingginya peningkatan pada tahun 2022 setelah pembatasan mobilitas dilonggarkan. Kemudian permintaan kendaraan bermotor diprakirakan melambat seiring intensif yang semakin berkurang. Selanjutnya pada lapangan usaha transportasi adanya risiko peningkatan harga angkutan udara di tengah tekanan daya beli menyebabkannya tertahan.
Wahyu memaparkan, potensi pendorong (upside potential) pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada tahun ini ada pada sektor pariwisata. Tahun kunjungan wisata Sumatera Barat akan mendorong meningkatnya pariwisata pada tahun 2023 baik domestik maupun mancanegara.
“Sektor pariwisata semakin meningkat, tahun kunjungan wisata atau Visit Beatiful West Sumatera (VBWS) 2023 diproyeksikan akan meningkatkan sektor pariwisata dan mendorong aktivitas konsumsi dan in vestasi,” sebutnya.
Sementara itu, potensi yang akan memperlambat pertumbuhan ekonomi (downside potential) ada beberapa faktor. Pertama, meningkatnya ketegangan dan ketidakpastian global pascakonflik akan menahan permintaan komoditas. Faktor penahan lainnya adalah risiko terhambatnya kegiatan investasi baik dari proyek pemerintah maupun swasta di tengah ketidakpastian global.
Menyikapi hal tersebut, Wahyu memaparkan beberapa rekomendasi untuk pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat ke depan. Pertama, mengembangkan ekonomi kreatif dan pariwisata secara konsisten dan berkelanjutan.
“Terutama dalam momen VBWS 2023 salah satunya dengan mendorong penambahan rute dan frekuensi penerbangan untuk sektor pariwisata baik domestik maupun asing,” ujarnya.
Rekomendasi berikutnya adalah mengembangkan hilirisasi komoditias pertanian, mendorong realisasi investasi melalui promosi investasi yang efektif dan harmonisasi peraturan daerah mengenai investasi.
“Kemudian mempercepat pembangunan proyek strategis nasional dan daerah antara lain Jalan Tol Trans Sumatera Padang-Pekanbaru, Jalan Sitinjau Laut, Jalan Pintas Lawang-Bukittinggi, Pelabuhan Teluk Tapang dan Bandara Rokot serta mengembangkan ekonomi digital dengan memperluas pembangunan kanal pembayaran nontunai pada sektor swasta maupun transaksi pemerintah,” tandasnya. F






