Tiga Tahun Menderita Stroke, Kewai Berharap Uluran Tangan

Febry Chaniago
By Febry Chaniago Februari 23, 2017 22:03
Kewai, keluarga kurang mampu yang menderita stroke, warga Lambuang Bukik Batangkapas Kabupaten Pesisir Selatan. (fahmi)

Kewai, keluarga kurang mampu yang menderita stroke, warga Lambuang Bukik Batangkapas Kabupaten Pesisir Selatan. (fahmi)

Oleh: Fahmi Yuhendra

“Ambo hanyo ingin kembali sehat (Saya hanya berharap bisa sembuh kembali),” tutur Kewai (65) warga Labuhan Baru (Labuang Baruak) Kenagarian Koto Nan Duo, Kecamatan Batangkapas, Kabupaten Pesisir Selatan yang telah tiga tahun menderita stroke.

Kondisi Kewai, semakin hari semakin lemah dan hanya terbaring di tempat tidur karena penyakit yang dideritanya itu. Sejak setahun belakangan, Kewai tak lagi mampu berdiri. Tubuhnya hanya terbaring lemah karena mati rasa.

Keinginan Kewai untuk sembuh sangat kuat. Bapak tujuh orang anak ini sangat menginginkan kembali sembuh sehingga bisa beraktifitas seperti biasa, mengais rejeki untuk menghidupi keluarga. Namun apa daya, niat itu terbentur biaya. Ingin berobat ke rumah sakit, kondisi keuangan keluarga sangat tidak memungkinkan. Akhirnya, keinginan untuk berobat terpaksa ia pendam bersama rasa sakit yang mendera tubuhnya sepanjang hari.

Kondisi ekonomi keluarga Kewai jauh dari kata cukup. Bahkan, rumah yang ia tinggali hanyalah sebuah gubuk reot yang tidak layak disebut rumah untuk dihuni. Keinginan untuk sehat tambah tersurut oleh mahalnya biaya berobat. Apalagi, saat ini Kewai tak memiliki kartu BPJS kesehatan.

“BPJS tidak punya, Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dibagikan pemerintah juga tak dapat. Saya tidak punya biaya untuk berobat,” tuturnya.

Kondisi ekonomi yang sulit membuat Kewai mengubur mimpi untuk sehat kembali dari sakit yang dideritanya. Upaya yang dilakukan untuk mendapatkan harapan kesembuhan adalah pengobatan tradisional. Namun, kekurangan biaya membuat upaya tersebut tidak bisa dilakukan secara rutin.

Saat ini Kewai dirawat oleh salah seorang anak perempuannya, Erneli (40). Sementata enam orang anaknya yang lain pergi merantau. Kondisi ekonomi anak-anaknya pun tidak begitu baik sehingga mereka belum mampu membawa orangtuanya untuk berobat ke rumah sakit.

“Dari dulu kami sudah mencoba melakukan pengobatan tradisional (dukun kampung) kepada abak. Namun tak rutin dan penyakit abak semakin parah,” kata Erneli.

Erneli hanya seorang ibu rumahtangga dan menggantungkan hidup dari hasil kebun yang tidak berapa luas di belakang rumahnya. Dengan kondisi ekonomi yang lemah ia tak mampu membawa orang tuanya ke rumah sakit untuk menjalani pengobatan.

“Ingin sekali saya membawa abak ke rumah sakit, tapi saya tak mampu. Biaya besar, BPJS abak tak punya. Saya tak tahu harus berbuat apa lagi,” katanya sambil menghapus airmata.

Sebagai anak, Erneli ingin sekali orangtuanya sehat. Saat ini, ia hanya bisa berharap ada uluran tangan dari dermawan untuk kesehatan orangtuanya. Ia juga berharap mendapat perhatian dari pemerintah dan pihak lain, sehingga orangtuanya bisa mendapatkan pengobatan yang layak di rumah sakit.

“Hanya itu yang bisa kami harapkan. Dengan biaya sendiri kami tidak sanggup,” ujarnya. (*)

Febry Chaniago
By Febry Chaniago Februari 23, 2017 22:03
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*