Tarasah, Potensi Wisata Tersembunyi di Ujung Nagari

Febry Chaniago
By Febry Chaniago January 28, 2017 14:44

 

Tempat pemandian Tarasah, Sungau Tawar Tarusan. (febry)

Tempat pemandian Tarasah, Sungau Tawar Tarusan. (febry)

PAINAN – Gemericik suara air mengalir mengiringi langkah menapak beton bibir tebing jaringan irigasi menuju sebuah tempat di kaki bukit di ujung desa. Berjalan sekitar 100 meter dari pinggir jalan, sampailah di sebuah telaga kecil berair bening. Sungguh menggoda untuk segera menceburkan diri, berendam sambil menikmati udara perbukitan yang sejuk.

Tempat itu bernama Tarasah, sempat pula diberi nama Talago Dingin pada saat pemerintahan desa. Sekarang ini areal tersebut masuk dalam wilayah administratif Nagari Sungai Tawar Teluk Raya (Setara) Nanggalo, Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Tarasah, merupakan hulu sungai kecil yaitu Sungai Tawar yang mengalir sepanjang Kampung Sungai Tawar sampai ke Nagari Nanggalo dan bermuara di sungai Batang Tarusan. Tempat ini pernah menjadi lokasi favorit bagi remaja di era 80 hingga 90-an. Hingga sekarang pun, masih ada saja pengunjung yang datang, terutama pada saat musim liburan memasuki bulan puasa dan lebaran.

Objek wisata ini sebetulnya sangat potensial untuk dikembangkan. Telaga kecil di kaki bukit bisa menjadi tempat pemandian yang asri. Bukit kecil di sekitarnya juga bisa dikembangkan menjadi tempat melepas lelah sambil menikmati pemandangan. Lahan tersedia di sekitar lokasi juga cukup memadai sehingga bisa dimanfaatkan sebagai lahan parkir dan tempat berjualan.

Entah kenapa, sepertinya tidak ada yang menyadari bahwa lokasi itu bisa menjadi “magnet uang” bagi masyarakat sekitar terutama pemilik lahan di sekitar Tarasah. Kalaulah dilakukan pengelolaan yang baik, Tarasah bisa menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat.

Ratusan, bahkan mungkin ribuan akan datang setiap bulan, mengantarkan lembaran-lembaran rupiah kepada pedagang, pengelola parkir dan berbagai usaha berkaitan lainnya. Disamping itu, seiring kedatangan pengunjung yang semakin meningkat, akan menjadi perhatian dari pemerintah untuk meningkatkan akses jalan menuju lokasi.

Akses jalan, ya, akses jalan! Mengapa? Kampung Sungai Tawar hanya memiliki satu poros jalan dari pusat kecamatan, hingga berujung sekitar 200 meter dari pinggir jalan menuju lokasi pemandian Tarasah. Sebetulnya badan jalan ada, namun yang diaspal baru sebatas itu.

bibir beton jaringan irigasi jadi akses jalan

Bibir beton jaringan irigasi yang melintas di atas sungai dijadikan pengunjung sebagai jembatan untuk menuju tempat pemandian Tarasah. (febry)

Padahal, akses jalan ini pernah dirintis sekitar tahun 1993 untuk tembus sampai ke kawasan Mandeh, objek wisata yang saat ini menjadi lirikan dunia. Namun, tidak tahu apa alasannya, jalan tersebut tidak pernah benar-benar tembus ke Mandeh hingga jalan bekas rintisan itu kembali tertutup semak belukar.

Dari pinggir jalan, untuk menuju lokasi pemandian Tarasah harus meniti, sebetulnya bukan jembatan, tetapi beton jaringan irigasi yang melintas di atas sungai. Jadi harus ekstra hati-hati karena lebar bibir beton ini hanya sekitar 15 cm melintang di atas sungai sepanjang 5 meter atau lebih sedikit. Untuk lebih aman, lebih baik turun langsung ke sungai menyeberangi aliran air sebatas lutut orang dewasa.

Sampai di lokasi, fasilitas tersedia juga seadanya. Hanya ada sebuah warung kecil tempat berteduh seadanya. Tidak ada gazebo, tidak ada tenda.

Walinagari Setara Nanggalo Sesliani menceritakan, sejauh ini belum ada program untuk mengembangkan kawasan itu baik dari pemerintahan nagari maupun dari kabupaten. Hal itu karena lokasi sekitar kawasan itu merupakan lahan ulayat dari masyarakat.

“Kawasan Tarasah memang potensial, namun untuk pengembangan tentunya harus ada keinginan dan kesamaan persepsi dulu dengan pemilik lahan di sekitarnya. Jadi untuk sementara ini belum ada program dari pemerintah nagari untuk pengembangan,” kata Sesliani.

Pemanfaatan hulu sungai itu yang melibatkan program pemerintah menurut Sesliani adalah program PAMSIMAS dan jaringan irigasi. Untuk program pengembangan wisata masih belum ada walaupun potensinya cukup bagus. Menurutnya, dari pemerintah kecamatan dan pemkab, pernah meminta untuk menjajaki kemungkinan pengembangan namun terkendala kepemilikan lahan.

Mardi, salah seorang penduduk setempat mengungkapkan, dulu Tarasah sering didatangi pengunjung lokal. Kemudian seiring kemajuan sarana transportasi, pengunjung juga berdatangan dari daerah lain. Pada waktu-waktu tertentu, Tarasah sangat ramai dan pengunjung yang datang berasal dari provinsi lain seperti dari Pekanbaru, Jambi, Bengkulu dan sebagainya.

Melihat kemungkinan kawasan itu bisa dikembangkan, Mardi berharap ada kesepakatan antara masyarakat dan pemerintah sehingga bisa dikembangkan lebih maju lagi seperti objek-objek wisata di daerah lain. Sebagai masyarakat, akan ada kebanggan tersendiri ketika daerahnya menjadi tujuan kunjungan wisata.

“Disamping itu, akan ada pergerakan ekonomi dan percepatan pembangunan di daerah ini,” ujarnya.

Tarasah, sebuah potensi di ujung nagari, menunggu keinginan bersama dari pihak – pihak terkait. Sebuah objek wisata merupakan aset berharga. Keberadaannya akan mampu menyedot uang untuk pergerakan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Semoga ada niat bersama untuk mengembangkannya. (Febry D Chaniago)

Loading...
Febry Chaniago
By Febry Chaniago January 28, 2017 14:44
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...