Singgah Sahur di Bukit Durian Batu

Febry Chaniago
By Febry Chaniago Juni 8, 2016 22:19
Singgah Sahur
Masih pukul 03.20 WIB dinihari, ketika rombongan Tim Singgah Sahur (TSS) Pemko Padang tiba di kampung Bukik Durian Batu. Gelap masih pekat menyergap. Cuma remang cahaya lampu dari rumah penduduk yang jumlahnya mungkin sekitar tiga atau empat buah rumah yang sedikit membantu penglihatan saat menapaki jalan berbatu. Selebihnya di sebelah utara dan timur adalah hutan, baru di sebelah barat dan selatan sebelum menanjak ke lereng bukit terdapat perkampungan yang merupakan termasuk wilayah Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

Cukup jauh tim yang dipimpin langsung Walikota Padang H. Mahyeldi Datuak Marajo ini menempuh jalan tak beraspal, becek, berbatu-batu dan mendaki pula. Namun tim berkekuatan 25 orang tetap bersemangat baja menuntaskan kunjungan perdana pada Ramadhan 1437 Hijriyah ini, maka semua fokus dengan tujuan utama yaitu membantu sesama.

Adalah rumah milik Jasril, sasaran singgah sahur kali ini. Letaknya agak terpencil di lereng bukit. Terbuat dari kayu yang kelihatannya sudah mulai lapuk. Jasril menempati rumah itu bersama istri dan ketujuh anaknya. Memang sempit, tapi Jasril tetap melapangkan hati menerima tamu yang tidak terduga menjelang waktu sahur.

Kelapangan hati Jasril dan keluarga terlihat dari sambutan hangatnya terhadap tim yang datang. Meskipun masih dilanda kantuk, ia bisa tersenyum hangat dan menyilakan tamunya duduk di selasar rumah panggungnya beralaskan tikar. Karena jumlah tamunya yang banyak, terpaksa sebagian mencari tempat sendiri di halaman yang berumput dengan beralsakan tikar yang memang selalu dibawa oleh tim dalam setiap kunjungan.

Jasril dan istrinya, Nurjati merasa tersanjung saat mengetahui tamunya tidak lain Walikota Padang bersama para pejabat dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemko Padang. Pria 45 tahun ini mengaku sungguh tidak menyangka rumahnya yang terpencil dan sangat sederhana itu akan datangi orang-orang terhormat.

“Sungguh saya tidak menyangka, Pak Wali dan bapak-bapak ini akan mengunjungi rumah saya yang buruk ini,” kata Jasril polos sambil memangku salah seorang putranya yang masih berusia 6 tahun.

“Beginilah keadaan tempat tinggal saya, Pak,” ujarnya lagi.

Kemudian, perbincangan berlangsung akrab antara keluarga Jasril dengan Walikota Mahyeldi yang duduk sehamparan dengan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Edi Hasymi, Kepala Dinas Kesehatan drg. Eka Lusti, Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) drg. Frisdawati, Kepala Dinas Pendidikan Habibul Fuadi, Kepala Dinas Tata Ruang Tata Bangunan dan Perumahan (DTRTBP) Afrizal BR, Ketua Baznas Kota Padang Epi Santoso serta Sekretaris Kecamatan Kuranji Yoga Natasha. Sementara Kabag Umum, Kabag Humas dan beberapa Kepala Bidang dari SKPD terkait memilih duduk di halaman.

Setiap pertanyaan yang mengalir dari Wako Mahyeldi dijawab dengan nada optimis oleh Jasril. Sesekali ia tersenyum ketika sang walikota bercanda diikuti oleh derai tawa yang lain.

Pertanyaan Mahyeldi diantaranya tentang sekolah dan cita-cita dari anak-anaknya.  Meskipun dalam kehidupan yang sederhana, menurut Jasril, pendidikan anak-anaknya tetap menjadi nomor satu. Ia akan berupaya keras mewujudkan cita-cita anaknya.

Dua diantara nak laki-laki Jasril, Ade (13) dan Aidil (6) bercita-cita menjadi tentara, anaknya yang perempuan, Fitri (9) bercita-cita menjadi bidan. “Saya ingin menjadi tentara,” kata Ade ketika ditanya langsung oleh walikota yang juga seorang ustad tersebut. Senada dengannya, adiknya Aidil juga menjawab antusias ingin menjadi tentara.

“Begitulah, Pak. Cita-cita anak-anak adalah nomor satu bagi saya. Walaupun hidup seperti sekarang (sederhana) namun apapun akan kami lakoni untuk anak-anak,” sela Jasril.

Kalau untuk makan, Jasril memegang prinsip “Ado samo dimakan, indak ado samo dicari (ada sama dimakan, tidak ada dicari bersama)”. Prinsip ini ia tanamkan kepada keluarga agar selalu rukun dan bahu membahu dalam setiap upayanya menafkahi keluarga.

Jasril menuturkan, kehidupan di kampung sebagai petani tentu harus membanting tulang setiap hari. Mulai dari proses menanam, merawat tanaman dan memanen sampai menjual di pasar tak ayal ia lakoni bersama istri dan anak-anak. Kadang kala bila sayur-sayuran yang ditanam belum masuk masa panen, Jasril tidak jarang mengumpulkan buah pinang yang tua di kebunnya. Pinang tersebut dibelah dan diambil bijinya untuk dijual. Bahkan disaat mepet kebutuhan sedangkan musim panen belum tiba, maka Jasril tak segan bekerja menerima upah.

“Tidak saja bertani, tetapi apa saja saya kerjakan untuk membiayai hidup termasuk menerima upah. Maklumlah, saya ini tidak berpendidikan tinggi. Cuma sekolah sampai kelas lima SD,” tuturnya.

Berkat kegigihannya, enam belas tahun lalu Jasril sudah berhasil membangun rumah dari kayu untuk ia bernaung bersama istri di lahan yang merupakan warisan dari kaumnya. Rumah itu pula yang menjadi saksi, buah cinta yang dikarunia Tuhan kepadanya, tujuh orang putra-putri yang sehat dan cerdas.

Sayangya, rumah yang bersejarah bagi Jasril dan Nurjati ini tidak dapat dilanjutkan pembangunannya menjadi rumah permanen yang lebih representatif. Seiring beban kehidupan yang semakin berat, rumah yang sebagian panggung dan atapnya dari seng tersebut tidak lagi terawat dengan baik sehingga beberapa bagian sudah bocor, dindingnya juga sudah bolong serta beberapa tiangnya terlihat doyong.

Keadaan itu memang memprihatinkan, Jasril sendiri tidak tahu kapan akan mampu memperbaiki rumahnya. Alih-alih membangun yang permanen, membenahi tiang yang doyong dan atap yang bocor saja saat ini Jasril “angkat tangan”. Meskipun ia sadari tempat tinggal adalah bagian yang penting dalam kehidupan, namun memenuhi kebutuhan tujuh anaknya tidak kalah pentingnya.

“Semua sama-sama penting. Rumah penting, anak sekolah juga penting, apalagi untuk makan. Saat ini terpaksa kami dulukan yang kami anggap lebih penting, yaitu kebutuhan anak-anak,” kata Jasril.

Semua anggota TSS  yang hadir sejenak tercenung mendengar penuturan Jasril. Lalu, Walikota angkat bicara. “Sebetulnya, kedatangan kami ini disamping bersilaturahim di bulan puasa, khususnya di waktu sahur, sekaligus untuk melihat kondisi warga Kota Padang yang wajib dibantu,” kata Mahyeldi memecah suasana.

Ia mengungkapkan, tim yang datang saat ini bermaksud akan memperbaiki rumah milik keluarga tersebut dalam rangka kegiatan singgah sahur yang sudah dilaksanakan selama Ramadhan sejak tiga tahun lalu. Bantuan pembangunan rumah ini bisa dilaksanakan oleh Baznas atau anggaran bantuan pada Disosnaker atau TRTB dan Perumahan serta bantuan swadaya masyarakat.

Selama ramadhan ini, menurut Mahyeldi, TSS berencana mengunjungi 10 buah rumah. Setiap rumah yang dikunjungi, jika harus dibedah atau direhab akan langsung dikerjakan oleh tim.

Mendengar hal itu, Jasril dan istri seperti bergumam mengucap syukur kepada Allah. Terharu.

Sebelum waktu imsak menjelang, tim mengajak keluarga Jasril makan sahur bersama. Menu sederhana dari nasi kotak yang disediakan dinikmati bersama.(Derius)

Febry Chaniago
By Febry Chaniago Juni 8, 2016 22:19
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

loading...