Sepi Menggigit di Gedung Pencakar Langit

Febry Chaniago
By Febry Chaniago May 21, 2016 19:35
apartemen

Gambar apartemen (ilustrasi/koleksi pribadi fani safitri)

Menjadi penghuni sebuah apartemen mewah berlantai 30 di bilangan Tanjung Duren Jakarta Barat, Dokter Umum yang masih single ini merasa sangat nyaman sebetulnya. Fani Safitri, gadis berusia jalan 26 tahun lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti angkatan 2014 ini merasakan perbedaan suasana yang sangat mencolok dibanding tinggal di rumah kawasan permukiman.

Keamanan, dan privasi yang terjaga menjadi hal utama yang diproteksi oleh pengelola apartemen. Untuk masuk ke parkiran saja, penghuni harus memiliki kartu akses. Begitu juga Fani.

Sore itu, Dokter Umum yang bertugas di Puskesmas Tambora Jakarta Barat ini kembali ke apartemennya setelah bergelut seharian dengan kesibukan menangani banyak pasien. Dia ingin rehat sejenak melepas penat.

Masuk gerbang parkir, dengan sebuah kartu akses yang digesekkan ke auto parking system, boom gate pun terbuka. Masih sempat ia membalas sapaan hormat petugas sekuriti dengan seulas senyuman dan Fani pun meluncurkan mobilnya ke area parkir yang tersedia. Kembali dia mendapatkan sapa hormat seorang petugas sekuriti lain di area parkir sebelum Fani menuju lift yang akan mengantarkan ke kediamannya di lantai 15.

Di dalam lift, Fani mengeluarkan kartu akses berbeda dari kartu akses parkir yang ia gunakan tadi dan lift pun bergerak otomatis sesuai kartu yang dimiliki Fani, lantai 15. Otomatis, karena hanya dia seorang di dalam lift bermuatan 1,5 ton itu. Masih jam setengah 6 sore, penghuni lain belum akan pulang pada jam segini.

Sampai, dengan kartu akses yang sama, Fani masuk ke dalam ruangan yang sudah ditinggalinya hampir setahun ini. Sejenak dia lemparkan pandangan ke bawah sana lewat kisi-kisi jendela. Menyaksikan padatnya lalulalang kendaraan di jalan raya.

Tinggal di sebuah apartemen dengan fasilitas lengkap. Tingkat kenyamanan yang cukup tinggi, keamanannya pun sangat terproteksi. Menurut Fani, setiap penghuni hanya bisa mengakses lantai tempat dia tinggal, tidak bisa ke floor berbeda. Yang memiliki akses untuk semua lantai hanya sekuriti dan pengelola.

Fasilitas ruangan yang lengkap, listrik dan tata ruang yang apik membuat hidup terasa sangat nyaman. Untuk keamanan tidak perlu merasa khawatir atau waswas akan menjadi korban kejahatan. Di bawah sana, ada toko swalayan juga mall yang menjual segala macam barang kebutuhan. Ada Kolam renang dan taman bermain di bagian lain untuk sekedar bersantai di luar rumah. Ribuan orang tinggal di gedung pencakar langit itu bersama Fani. Ada yang sudah berkeluarga, ada juga yang tinggal sendiri.

Semua fasilitas itu dibayar Fani dengan Rp65 juta setahun. Statusnya di apartemen ini adalah sebagai penyewa. Untuk memiliki satu hunian di apartemen tempat dia tinggal saat ini harganya sudah diatas satu miliar rupiah untuk ruangan dengan satu kamar tidur, ruang tamu dan kamar mandi. Sementara untuk yang dua ruangan sudah mencapai Rp2 miliar bahkan lebih. Untuk tagihan listrik dan segala fasilitas termasuk kolam renang yang dia sendiri tidak pernah memanfaatkannya, ada tagihan tersendiri. Demikian juga dengan kartu akses parkir yang dibayarkan secara berkala sesuai  “charging limite“.

Dia memilih tinggal di apartemen itu untuk alasan dekat dari tempat kerja dan kenyamanan. Meskipun orangtua dan saudara yang lain masih tinggal di Jakarta, namun cukup jauh dari tempat ia bertugas. Untuk tinggal di kos-kosan, sebagai perempuan, Fani tak berani karena risikonya terlalu besar di tengah kehidupan metropolitan yang penuh dengan segala kemungkinan.

Kenyataan yang harus dihadapi Fani setelah tinggal di apartemen, ada sisi-sisi kehidupannya sebagai makhluk sosial yang hilang. Sebagai orang Indonesia yang sudah terbiasa hidup bertetangga, Fani seperti merasa terasing di tengah keramaian. Bayangkan, ada ribuan orang di lokasi yang sama, namun setahun tinggal disini, Fani bahkan tak mengenal satu orang tetangga pun. Dia mengaku malah lebih mengenal pramuniaga di toko swalayan di lantai bawah daripada tetangga di sebelah tempat tinggalnya.

“Saya tak mengenal satupun tetangga di lantai ini. Ada yang saya kenal dia tinggal di lantai 16 dan saya tidak bisa bertamu ke sana karena akses saya hanya untuk lantai ini. Itu pun saya sudah kenal sebelum tinggal disini,” ujarnya.

Kondisi yang diceritakan Fani ini cukup dipahami. Di luar ruangan, koridor hanya merupakan lorong-lorong pemisah. Tak ada ruang bersantai di luar rumah untuk duduk dan berkumpul bersama tetangga layaknya di kawasan permukiman penduduk di bawah sana. Ketika sudah berada di rumah, Fani hanya bisa berdiam diri di dalam, sama seperti penghuni lainnya. Beruntung, sebagai seorang dokter, dia masih memiliki banyak kenalan di lingkungan tempat kerjanya.

Pengalaman tinggal di apartemen juga diceritakan oleh Edwar. Pria lajang ini tinggal di apartemen bersama saudaranya. Apartemen yang didiaminya berada di seberang apartemen yang ditinggali Fani. Menurutnya, tinggal di apartemen ada enak dan tidak enaknya.

“Meskipun bukan apartemen mewah, suasana cukup tenang. Keamanan terjaga, dekat dengan mall. Kalau mau shoopping tak perlu jauh, cukup jalan kaki. Fasilitas lengkap, ada kolam renang, pedagang makanan banyak di sekitar apartemen,” ceritanya.

Namun sisi tak enaknya, Edwar menuturkan, tujuh tahun tinggal di apartemen tidak saling mengenal dengan tetangga. Pria asal Surabaya yang menjadi dokter di Puskesmas Sawah Besar ini menceritakan, tidak ada ruang di luar tempat tinggal yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk berinteraksi sosial dengan tetangga.

Cerita Fani dan Edwar, dua orang penghuni apartemen tersebut, menggambarkan bahwa tinggal di apartemen tanpa disadari telah mengikis kehidupan bertetangga di Indonesia. Apartemen sebagai hunian vertikal sebenarnya dikembangkan untuk mensiasati ketersediaan lahan yang semakin menyempit di kota-kota besar.

Konsep hunian vertikal ini disadur dari barat yang memang tidak tabu untuk diadopsi sebetulnya. Ketersediaan lahan di beberapa kota besar di Indonesia terutama Jakarta tak dipungkiri semakin tahun semakin menyempit. Kondisi ini dibaca oleh perusahaan properti dengan mengembangkan jenis hunian vertikal yang sudah berkembang sebelumnya di negara-negara maju.

Sisi kehidupan di hunian vertikal ini dimaklumi bisa terjadi terutama sekali dari sisi konsep bangunan. Profesor Doktor Damsar, Guru Besar Sosiologi Universitas Andalas (Unand) menyampaikan pendapat. Menurutnya, konsep bangunan apartemen yang ada saat ini memaksa kondisi seperti itu terjadi. Mau tidak mau, ketiadaan ruang khusus yang bisa mempertemukan antar warga penghuni di masing-masing lantai untuk suatu kegiatan sosial membuat kehidupan sosial yang sepi dari interaksi.

“Harusnya ada semacam ruang atau “special space” di setiap lantai yang bisa dimanfaatkan antar warga untuk berinteraksi, menjalin kehidupan sosial bersama, membangun kekompakan antar tetangga bahkan sampai menggelar kegiatan arisan atau lainnya antar sesama penghuni lantai,” katanya.

Memang untuk konsep seperti itu, dari sudut pandang bisnis bisa menimbulkan kerugian bagi perusahaan pengembang namun sebetulnya tidak. Justru ini akan menjadi daya tarik bagi calon penghuni untuk membeli apartemen dengan konsep seperti itu.

Alasannya, pada dasarnya setiap orang membutuhkan interaksi sosial dalam kehidupannya. Jika kebutuhan berinteraksi sosial ini tidak terpenuhi, guru besar Unand ini berpendapat separuh jiwa dari orang tersebut sudah “mati”.

“Ada sisi-sisi yang hilang dari kehidupannya. Di Jerman, orang-orang tua yang sudah jompo dan tinggal di apartemen, pada waktu tertentu memaksakan diri untuk datang ke pasar barang bekas, bukan sekedar untuk berbelanja tetapi lebih kepada keinginan untuk membangun komunikasi dengan orang lain,” sebutnya.

Profesor Damsar Kemukakan Konsep Urban Village

Dalam pada itu, sebuah perusahaan properti papan atas yang berbasis di Singapura, CapitaLand, saat ini tengah giat membangun sebuah hunian ekskulisif di jantung kawasan elit Orchard Road, yaitu Cairnhill Nine. Mereka menawarkan konsep Building Community, konsep arsitektur dan tata ruang bangunan yang memungkinkan para penghuni bisa melakukan interaksi sosial antar tetangga.

Konsep ini semakin memperkuat daya tarik Cairnhill Nine, disamping lokasinya yang prominen, sehingga banyak orang Indonesia yang memilih untuk membeli apartemen Cairnhill Nine. Konsep Building Community yang ditawarkan, membuat para penghuni bisa berinteraksi dan bersosialisasi antar tetangga.

Konsep ini sepertinya sangat layak diteladani oleh para pengembang apartemen di Indonesia. Karena para penghuni memiliki kehidupan sosial selayaknya hidup di tengah perumahan berbudaya Indonesia.

Profesor Damsar berpendapat, konsep seperti itulah kira-kira yang bisa menjawab persoalan minimnya interaksi sosial bagi penghuni apartemen selama ini. Dia menegaskan, sesibuk apapun seseorang, interaksi sosial dan kehidupan bermasyarakat merupakan suatu kebutuhan dan tuntutan jiwa. Interaksi sosial di kantor atau di tempat kerja akan sangat berbeda makna dengan pergaulan di lingkungan tempat tinggal.

Dia juga mengemukakan sebuah konsep yang disebutnya sebagai Urban Village. Prinsip dasar dari konsep ini adalah bagaimana masyarakat urban yang hidup di perkotaan, tinggal di apartemen atau hunian vertikal lainnya namun tetap memiliki kehidupan sosial seperti budaya lokal Indonesia.

“Kearifan lokal kehidupan masyarakat di Indonesia adalah kehidupan bertetangga, berinteraksi sosial. Ini yang harus dipikirkan oleh perusahaan properti ke depan sehingga hunian apartemen dapat lebih humanis dan manusiawi,” ujarnya.

Profesor Damsar menambahkan, sisi kehidupan masyarakat perkotaan terutama yang tinggal di hunian vertikal saat ini tengah menjadi kajian banyak kalangan. Dia menyebut sebuah judul buku yang mungkin bisa menjadi referensi bagi pengembang, Sosiologi Kota Untuk Arsitek, karya Paulus Hariono terbitan Bumi Aksara.

Dia sendiri juga tengah menulis sebuah buku yang pada sub-sub bagian pembahasannya akan memasukkan sisi tersebut sebagai pengayaan. Dia mengingatkan, kehidupan manusia sebagai makhluk sosial tidak boleh hilang walaupun tinggal di hunian vertikal. Begitu juga budaya luhur Bangsa Indonesia yaitu kerukunan hidup bertetangga tidak boleh terkikis oleh keadaan dan tuntutan gaya hidup.

Semoga saja, konsep Building Community yang ditawarkan Capital Land dan konsep Urban Village Profesor Damsar tidak lagi membuat para penghuni apartemen di Indonesia seperti Fani, Edwar dan jutaan penghuni apartemen lainnya merasa sepi di gedung pencakar langit.

Penulis PEBRIUS DWINUS (Febry D Chaniago) adalah Wartawan Media Online www.padangmedia.com

Febry Chaniago
By Febry Chaniago May 21, 2016 19:35
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*