Sayangi Rupiahmu

Febry Chaniago
By Febry Chaniago December 10, 2016 23:23
Uang (ilustrasi)

Beberapa Jenis Uang Rupiah, Pecahan Besar dan Pecahan Kecil (Dokumentasi)

SAYANGI RUPIAHMU

Oleh: FEBRY D CHANIAGO (PEBRIUS DWINUS)

Seorang ibu muda turun dari mobil di parkiran sebuah pasar tradisional di kawasan Kota Padang. Si Ibu, sebutlah namanya Rosita lalu menuju los tempat orang menjual sayur, bumbu dapur, ikan, daging sapi dan ayam. Terjadi tawar menawar sejenak antara Rosita dengan pedagang ikan dan akhirnya harga pun disepakati. Dengan cekatan pedagang ikan membersihkan ikan yang dibeli Rosita.

Setelah selesai dibersihkan, pedagang ikan menyerahkannya kepada Rosita sementara Rosita  mengeluarkan sebuah dompet yang lumayan bagus dari tas tentengnya dan mengeluarkan selembar uang Rp100 ribuan yang terlihat masih baru. Di dalam dompet tersebut, terlihat berjejer rapi lembaran – lembaran uang Rupiah berbagai pecahan.

Lembaran Rp100 ribu baru itupun berpindah ke tangan pedagang. Dalam sekejap, uang yang tadinya masih baru langsung belepotan darah ikan dan basah. Tragisnya lagi, uang tersebut tak luput dari remasan tangan si pedagang sebelum dimasukkan ke dalam sebuah kantong kresek warna hitam yang terselip di pinggangnya.

Si pedagang lalu mengeluarkan beberapa lembar uang antara lain pecahan 50 ribuan dan 10 ribuan untuk kembalian Rosita. Kondisi uang di tangan Si Pedagang tak lebih sama dengan nasib yang dialami uang Rp100 ribu yang diserahkan Rosita. Dalam keadaan kusut dan basah, belepotan darah ikan. Rosita menerima kembalian dengan melentikkan jari tangan menggambarkan bahwa dia merasa jijik dengan kondisi uang tersebut. Uang kembalian tidak dimasukkan lagi ke dalam dompetnya yang bagus, hanya dipegang dan Rosita pun berlalu ke arah pedagang cabai merah, pedagang sayur dan menggunakan uang kembalian yang diterimanya dari pedagang ikan sampai uang kembalian tersebut habis.

Di tempat lain, seorang laki-laki mampir ke sebuah kedai rokok di pinggir jalan dan membeli sebungkus rokok. Setelah menerima rokok pesanannya, pria ini merogoh kantong mengeluarkan selembar uang Rp20 ribuan yang kusut. Tanpa merapikan terlebih dahulu, uang itu diserahkan kepada pedagang rokok dan menerima kembalian beberapa lembar uang pecahan Rp2 ribuan yang sudah lusuh.

Sementara itu, beberapa orang terlihat masuk ke sebuah mini market. Mereka menuju rak pajangan barang-barang dan memilih beberapa yang diperlukan. Bagi yang sudah selesai, langsung menuju meja kasir untuk membayar barang-barang yang sudah dipilih.

Kasir mini market dengan cekatan menghitung barang belanjaan menggunakan alat deteksi harga dan otomatis total harga seluruh barang tertera di layar monitor. Pembeli pun mengeluarkan dompet dan menyerahkan lembar uang pecahan Rp100 ribu. Kasir lalu menekan beberapa tut keyboard dan enter, laci kasir pun terbuka. Terlihat lembar demi lembar uang tersusun rapi sesuai dengan nominalnya.

Setelah merapikan sejenak uang dari pelanggan, kasir lalu menaruh uang tersebut dengan rapi ke dalam kotak serta mengambil sejumlah uang untuk kembalian. Beberapa lembar pecahan Rp10 ribu, Rp5 ribu, Rp2 ribu serta ada uang logam Rp500 dan Rp200 juga. Uang kembalian tersebut diserahkan bersama struk belanja yang telah diprint otomatis sementara seorang karyawan lainnya menyerahkan belanjaan yang sudah dikemas di dalam kantong plastik kepada pelanggan.

Cerita diatas hanyalah sebuah ilustrasi dengan tokoh imajiner. Namun, kondisi yang digambarkan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Cerita itu hanya untuk menggambarkan beragam perlakuan masyarakat terhadap uang Rupiah dari beberapa sektor perekonomian.

Lembaran uang Rupiah lecek, lusuh, kumal bahkan ada yang terpotong dan ditempel lagi dengan selotip bening bisa ditemukan dimana saja. Di pasar, di warung-warung makanan, warung rokok, pedagang asongan, kakilima dan di tempat-tempat aktifitas berjual beli. Sebagian masyarakat membiarkan uang kertas di tangannya dalam kondisi kusut dan memasukkannya begitu saja ke dalam kantong celana. Selembar uang kertas yang semula masih rapi dan licin, tanpa rasa kasihan begitu saja “dikerumuk” dan masuk ke dalam saku celana jins. Begitu keluar, uang itu sudah acak-acakan dan kusut masai.

Uang kusut tadi lalu dibelanjakan lagi ke warung, ke pasar atau membeli makanan. Perlakuan miris pun kembali dialami oleh lembaran berharga yang untuk mendapatkannya harus membanting tulang peras keringat itu. Uang diremas, masuk kotak pedagang, bahkan menjadi basah ketika uang sampai di tangan yang sedang basah, kena bercak darah kalau sampai di pedagang ikan, pedagang ayam atau pedagang daging. Begitulah uang berpindah dari tangan yang satu ke tangan yang lain hingga akhirnya, tak sampai setahun, uang tersebut kembali ke di Bank Indonesia, tempat darimana dia berasal. Bukan untuk diedarkan lagi, tapi adalah untuk dihancurkan karena sudah tidak layak edar.

Miris! Sadarkah kita bahwa untuk mencetak uang Rupiah pengganti, negara merogoh kocek triliunan Rupiah setiap tahun untuk mengganti uang tak layak edar yang nominalnya juga terus meningkat. Sepanjang tahun 2016 saja, Bank Indonesia telah memusnahkan uang lusuh tidak layak edar mencapai Rp2,9 triliun. Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Barat Puji Atmoko, jumlah ini menurun dibanding tahun 2015 yang mencapai 6,6 triliun.

Deputi Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Asral Mashuri dalam Temu Wartawan Bank Indonesia Oktober 2016 lalu memaparkan panjang lebar bagaimana uang kartal (uang kertas dan uang logam) berproses mulai dari perencanaan, pencetakan, pengedaran dan penarikan kembali uang Rupiah. Triliunan Rupiah uang kartal kembali ke Bank Indonesia setiap tahun.

“Perlakuan terhadap fisik uang kartal terutama uang kertas masih belum baik. Hal ini menyebabkan masih tingginya jumlah uang yang kembali ke Bank Indonesia untuk dimusnahkan karena sudah tidak layak edar,” paparnya.

Uang Rupiah yang beredar di masyarakat mempunyai proses yang panjang sebelum dicetak. Banyak tahapan yang harus dilalui sehingga diputuskan mencetak uang. Jumlahnya ditentukan, tidak boleh lebih tidak boleh kurang. Sebelum dicetak, para pemangku kepentingan yaitu Bank Indonesia dan pemerintah melakukan pembahasan detail dengan hati-hati sehingga jumlah uang yang beredar sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan.

Untuk penggantian uang rusak dan tidak layak edar, juga melalui proses. Bank Indonesia akan melaporkan kepada pemerintah berapa lembaran atau kepingan uang yang sudah dinyatakan tidak layak edar. Setelah laporan diterima, Bank Indonesia akan menyampaikan pengajuan pemusnahan atau penghancuran lembaran uang rusak atau tidak layak edar tersebut dan mengajukan pencetakan uang pengganti. Penggantian uang disesuaikan dengan jumlah lembaran yang dimusnahkan sehingga uang yang beredar di masyarakat tetap dalam jumlah yang mencukupi.

Double 3D, Mengenali dan Menjaga Uang Rupiah

Bank Indonesia terkait peredaran fisik uang Rupiah, terutama uang kertas mengajak masyarakat untuk menerapkan prinsip Double 3D. 3 D pertama adalah Dilihat Diraba Diterawang. Prinsip ini disosialisasikan Bank Indonesia adalah untuk kehati-hatian masyarakat terhadap uang.

Uang kertas dan uang logam dicetak dengan menggunakan desain dan bahan khusus yang sulit ditiru. Kertas untuk mencetak uang sangat berbeda dengan kertas lainnya. Hanya dengan meraba, setiap orang bisa mengetahui apakah uang itu asli atau palsu. Uang asli akan terasa sedikit kasar permukaannya dan kertasnya terasa lebih keras.

Namun demikian, bukan tidak mungkin, pihak-pihak yang berniat memalsukan uang tidak mencari cara bagaimana uang palsu yang mereka produksi tidak bisa dikenali secara langsung hanya dengan meraba. Kemajuan teknologi juga dimanfaatkan oleh orang-orang yang berniat jahat untuk melancarkan aksi kejahatannya. Sehingga, ketika diraba, uang palsu sepintas akan terasa sama dengan uang kertas yang asli.

Untuk memastikan, masyarakat bisa melanjutkan dengan trik kedua yaitu Dilihat. Dalam hal ini, Bank Indonesia juga telah mempublikasikan ciri-ciri uang Rupiah yang asli. Masyarakat bisa meneliti melalui bentuk fisik seperti gambar, tinta yang digunakan serta beberapa ciri lain yang tidak mungkin atau sangat sulit ditiru.

Ketika masih diliputi kesangsian, diterawang merupakan langkah yang terakhir. Disini akan bisa dipastikan selembar uang asli atau tidak. Apabila diterawang ke cahaya, akan terlihat semacam garis seolah disisipkan ke dalam kertas. Kemudian, menelisik gambar tak beraturan dan saling mengisi di bagian pojok akan terlihat nyata logo Bank Indonesia. Gambar tak beraturan dan saling mengisi ini disebut Rectoverso dan merupakan bagian dari pengaman keaslian yang tidak bisa ditiru.

Ketika diterawang menggunakan cara biasa pun masih meragukan, maka dengan memakai sinar ultraviolet akan bisa dipastikan selembar uang Rupiah itu asli atau tidak. Dengan sinar ultraviolet, akan muncul tanda air pada lembaran uang kertas dan memancarkan warna. Apabila dengan cara ini tanda air tersebut muncul, bisa dipastikan uang tersebut asli namun sebaliknya jika tidak, lembaran tersebut hanyalah selembar kertas biasa tak bernilai yang mirip uang atau disebut dengan uang palsu.

3D Kedua adalah lebih kepada edukasi Bank Indonesia kepada masyarakat. Didapat, Disayang dan Disimpan. Pesan ini lebih kepada bagaimana masyarakat menghargai jerih payahnya sendiri dalam mencari rejeki yang ternilaikan dalam bentuk uang. Keuntungan berjualan atau berbisnis, upah, gaji, honor dan tunjangan atau sumber pendapatan apapun yang dilakukan sebagai kegiatan ekonominya.
Untuk mendapatkan uang, setiap orang harus bekerja atau berusaha. Setelah mendapatkan, rejeki yang diperoleh hendaknya disayang. Dengan membelanjakan sesuai keperluan, tidak boros dan apabila masih ada sisa kelebihan sebaiknya disimpan sebagai tabungan.

Uang Rupiah yang didapat, sebaiknya disayang dalam arti dijaga dengan baik keutuhan fisiknya. Jangan dilipat apalagi sampai diremas. Jangan sampai basah atau robek, jangan sampai kumal dan lusuh. Disimpan dengan baik secara utuh untuk menjaga agar tidak terlipat atau kusut. Dengan menjaga fisik uang, masyarakat sudah memberikan sumbangsih kepada negara sehingga negara bisa berhemat dalam mengeluarkan biaya pencetakan uang baru.

Ilustrasi di awal tulisan memberikan gambaran kepada kita semua, bagaimana perlakuan yang baik dan tidak baik terhadap selembar uang kertas Rupiah. Bayangkan! Kita semua bisa membantu negara untuk menghemat pengeluaran hanya dengan menjaga lembaran uang yang kita miliki sebagai hasil dari jerih payah bekerja sehari-hari. Lembaran uang yang beredar akan berusia lebih lama, sehingga biaya pencetakan uang pengganti bisa dihemat dan digunakan untuk kepentingan pembangunan.

(Penulis adalah REPORTER di www.padangmedia.com)

Febry Chaniago
By Febry Chaniago December 10, 2016 23:23
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*