Satu Lagi Potensi Wisata Mentawai, Air Terjun Lima Tingkat Simatobat

Melda
By Melda October 13, 2017 07:27

Bupati Mentawai, Yudas Sabaggalet saat memberi paparan potensi air terjun lima tingkat Simatobat kepada wartawan di Padang, Kamis (12/10). (ers)

MENTAWAI – Satu lagi potensi pariwisata yang dimiliki Bumi Sikerei dan akan dikembangkan Pemerintah setempat. Yakni, Air Terjun Simatobat yang berlokasi di Desa Bulasat Kecamatan Pagai Selatan.

Air terjun tersebut memiliki lima tingkat. Di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS), juga terdapat goa-goa yang dialiri air di dalamnya. Goa tersebut sebagai tempat bersarang burung walet. Selain itu terdapat ikan sidat yang merupakan ikan langka dan udang dalam ukuran besar.

Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet kepada wartawan saat memberikan paparan di Hotel Axana, Padang, Kamis (12/10) mengatakan, Pemkab akan mengembangkan ekowisata air terjun tersebut dengan konsep ekonomi pembangunan, sosial dan ekologi. Dari konsep tersebut, ekonomi masyarakat akan meningkat, pembangunan berjalan, namun di sisi lain dapat meminimalisir konflik di tengah masyarakat dan ekosistem terjaga.

“Jangan hanya kayu, kayu, terus surfing dan surfing saja yang ada dalam otak kita untuk mendapatkan hasil dari Mentawai. Banyak yang bisa dikembangkan tanpa merusak hutan secara besar-besaran,” kata Yudas usai workshop Pengelolaan dan Perlindungan Kawasan Air Terjun Simatobat/Bungo Rayo Kecamatan Pagai Selatan.

Untuk pengembangan wisata air terjun tersebut, kata Yudas Sabaggalet, Pemkab Mentawai sudah membangun jalan sebagai pendukung. Kemudian, akan dibangun jalan menuju lokasi air terjun sebagai akses bagi wisatawan, walaupun belum ada kesepakatan dengan hak pengusahaan hutan ( HPH) PT. Munas Pagai Lumber.

“Saya berterima kasih kepada Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) yang sudah mempopulerkan air terjun ini. Kami akan prioritaskan untuk pengembangannya ke depan,” ungkap Yudas.

Kendalanya, saat ini, air terjun tersebut berada dalam areal Hak Pengusahaan Hutan ( HPH) PT. Munas Pagai Lumber dengan status hutan industri. Namun, juga ada klaim tanah ulayat suku. Untuk itu pihaknya akan menyurati Dinas Kehutanan Provinsi dan Kementerian Kehutanan agar kawasan tersebut bisa dikelola dengan melibatkan unsur masyarakat.

“Kami akan ajukan perencanaan dan aturan pengembangan termasuk RT/RW-nya,” ujarnya.

Sementara, Kepala Dinas Kehutanan Sumbar Hendri Oktavia mendukung pengembangan ekowisata Air Terjun Simatobat. Pihaknya saat ini lagi mendorong pemanfaatan hutan non kayu. Namun untuk pengembangan harus ada penguatan lembaga masyarakat.
Pemkab Mentawai bisa berkoordinasi dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) sebagai perpanjangan tangan provinsi di daerah. Termasuk dalam pemanfaatan hutan untuk kepentingan ekonomi masyarakat.

“Mereka yang menjadi mitra Masyarakat dalam pemanfaatan hutan. Kami tentunya sangat mendukung pengembangan wisata berwawasan lingkungan, ekonomi meningkat lingkungan tidak rusak,” ujarnya.

Dalam diskusi tersebut juga hadir dari Balai Pengelolaan DASHL Agam Kuantan. Perwakilan Balai Pengelolaan DASHL Agam Kuantan menyebutkan, terdapat 278 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Pagai Selatan ada 90 DAS. Secara keseluruhan DAS didaerah tersebut termasuk DAS dipertahankan. Namun, bukan tidak boleh dilakukan kegiatan apapun selama tidak menyalahi kaidah DAS, termasuk pengembangan ekowisata. (ers)

Loading...
Melda
By Melda October 13, 2017 07:27
Write a comment

1 Comment

  1. putri October 13, 10:42

    Semoga pembangunan wisatanya berjalan dengan baik menuju wisata yang indah, sukses terus wisata mentawai.

    Reply to this comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...