Sastri Bakry: Orang yang Suka Menulis Tidak akan Hilang dari Sejarah

Melda
By Melda October 27, 2017 08:53

Sastri Bakry saat menjadi narasumber dalam workshop. (foto: m fadhli)

PADANG – Sastri Bakry mengajak guru untuk membangun literasi dengan menulis. Menurutnya, minat masyarakat Indonesia pada buku masih rendah. Minimnya angka penjualan buku di berbagai acara peluncuran buku bisa jadi parameternya.

“Sebagai orang berlatar belakang ilmu sejarah tentu sangat memahami bahwa menulis adalah kerja untuk keabadian. Orang yang tidak menulis akan hilang dari sejarah. Jika yang lain mengatakan ‘menulislah, kamu akan kaya’. Bagi saya pribadi, menulis juga jadi obat awet muda. Dan menulis itu adalah kemauan, tuliskan saja apa yang kita suka, apa yang kita mau, jangan pernah takut salah. Jauhkan motivasi menulis hanya sekadar untuk penuhi syarat kenaikan pangkat saja,” kata Sastri Bakry saat menjadi nara sumber pada ‘Workshop Kesejarahan dan kebudayaan di Kota Padang’ hari kedua, Kamis (26/10) di Merapi Convention Room – Hotel Daima, Padang.

Workshop tersebut diselenggarakan oleh Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat. Selain Sastri Bakry, narasumber hari kedua juga Khairul Jasmi (wartawan). Workshop yang digelar dari tanggal 25-26 Oktober 2017 itu diikuti oleh 40 orang guru mata pelajaran sejarah dan seni budaya SMP/SMA/SMK dari berbagai daerah dan kota di Sumatra Barat.

Sementara itu, Khairul Jasmi menyampaikan cara praktis untuk menulis. “Ketika kita menulis, jangan berpikir. Satu-satu melakukannya. Menulis itu keterampilan, bukan ilmu. Sama dengan mengajar di depan kelas. Ide-ide menulis itu seperti kelereng yang jatuh dari kantong anak-anak yang bolong. Tak bisa ditahan. Tuntaskan semua ide ke dalam pointer, dan tulislah pointer-pointer itu,” pesannya.

Sejalan dengan materi yang dipaparkan oleh Sastri Bakry, Khairul Jasmi menamsilkan menulis itu seperti emak-emak bawa motor. Mulai saja, jangan takut, kalau salah urusan nanti, setelah selesai dikoreksi. Jangan hentikan menulis sampai semua pointer-pointer jadi tulisan.

Jika masih kesulitan untuk menulis, Khairul Jasmi memberikan solusinya dengan cara menceritakan kembali peristiwa kecelakaan yang pernah dilihat. Atau dengan membuat satu alinea, yang tidak ada kata yang sama. Jika ditemukan, cari padannya. Tulislah dengan bahasa sederhana, bahasa sehari-hari, yang tahap awal cukup dengan kalimat-kalimat pendek dulu. Atau bisa juga dengan cara yang lain, menuliskan perjalanan wisata.

Hasil diskusi panel itu tergambar pada pernyataan salah seorang peserta workshop, saat sesi tanya jawab, “Mendengar paparan dari para Narasumber, ternyata menulis tak sesulit yang dipikirkan selama ini. Sebagai pemula, tidak perlu gamang dengan kaidah-kaidah menulis yang berlaku, tuliskan saja apa yang disukai. Pengetahuan yang didapatkan dari workshop ini nanti bisa ditransfer pada para peserta didik,” katanya.

“Semoga saja workshop ini melahirkan guru-guru sejarah dan budaya yang kreatif dan inovatif, serta memiliki keterampilan menulis. Sumatra Barat kaya dengan sejarah dan benda-benda peninggalan sejarah, dan banyak tulisan di situs-situs sejarah yang butuh pengkajian dan dialihbahasakan. Semoga ini jadi jalan untuk ekplorasi wisata dan tentu demi kelestariannya,” kata Dra. Zusnelli Zubir, M.Hum, Ketua Panitia, ketika menutup workshop pada hari ke dua. (m fadhli/rin)

Melda
By Melda October 27, 2017 08:53
Loading...
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...