Rumah Duka di Pondok Kini Jadi Lokasi Selfie

Melda
By Melda October 9, 2016 19:31
Beberapa remaja duduk-duduk di depan rumah duka HTT Padang. (baim)

Beberapa remaja duduk-duduk di depan rumah duka HTT Padang. (baim)

PADANG – Kawasan wisata kota tua Padang, tepatnya kawasan Pondok di Jalan Kelenteng seperti tak ada habis spot untuk bernarsis alias selfie. Bangunan-bangunan tua bernuansa Tionghoa menjadi hal yang unik dan menarik bagi pengunjung untuk berfoto-foto.

Namun, jika biasanya tempat berselfie terfokus di Klenteng See Hen Kiong, kini rumah duka di tempat itu juga menjadi tempat favorit pengunjung. Di Pondok, terdapat dua rumah duka, yaitu Rumah Duka Himpunan Bersatu Teguh (HBT) dan Rumah Duka Himpunan Tjinta Teman (HTT).

Bagi warga keturunan Tionghoa, rumah duka merupakan tempat menyemayamkan mayat hingga beberapa hari menjelang dikremasi. Sudah ribuan atau bahkan puluhan ribu mayat yang disemayamkan di rumah duka HTT dan HBT. Meski demikian, tak terlihat sama sekali nuansa angker atau mistis di lokasi tersebut.

Sebelumnya, bangunan rumah duka HTT memang sangat sederhana dan terlihat ada sedikit kesan mistisnya. Namun, pasca gempa 2009 yang meluluhlantahkan bangunan – bangunan di Kota Padang, rumah duka tersebut turut rusak parah sehingga dilakukan pembangunan gedung baru serta gapura dengan sumber dana dari internal HTT sendiri.

Kini, rumah duka HTT telah berganti baru dan jauh dari kesan angker, lengkap dengan gapuranya. Bahkan, hampir setiap malamnya di lokasi rumah duka tersebut banyak pengunjung yang berdatangan. Pada umumnya merupakan anak remaja yang berkumpul bersama rekan – rekannya untuk bercengkrama serta berselfi- selfi hingga larut malam.

Beny (20), salah seorang mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Kota Padang bersama rekan – rekannya kepada padangmedia.com, Sabtu (8/10) malam mengatakan, tidak ada sama sekali perasaan takut atau merinding saat duduk di depan atau di teras rumah duka HTT.

“Kenapa harus takut? Di sini tempatnya selain bersih, juga terlihat menarik serta bagus dengan ornamen bangunan bercirikan khas Tionghoanya. Inilah yang menjadi daya tariknya. Bahkan, kami senang ke sini karena kalau selfi di sini hasil fotonya seperti berada di negeri Cina,” ujarnya.

Beny mengaku sering duduk di sana bersama teman – temannya hingga larut malam. Apalagi, banyak wisata kuliner tak jauh dari sana. Salah satu yang terkenal adalah minuman kopmilnya,.

“Menurut saya, kawasan ini bisa menjadi tempat tujuan wisata dengan ciri khas budaya etnis Tionghoa dan juga kawasan wisata kuliner yang terkenal,” ungkap Beny saat nongkrong di rumah rumah duka HTT.

Sementara itu, Iswanto Kwara, salah seorang tokoh masyarakat Pondok yang juga anggota DPRD Padang mengatakan, tak masalah kalau remaja – remaja tersebut duduk berkumpul di teras atau di depan rumah duka HTT. Menurutnya, hal tersebut dapat menghindarkan mereka dari kegiatan – kegiatan negatif, seperti narkoba dan tindakan kriminalitas lainnya.

Namun demikian, ia berharap agar mereka dapat menjaga ketertiban, keamanan, serta kebersihan di lokasi rumah duka. Jika nanti ada mayat yang disemayamkan di sana, tentu tidak diperbolehkan untuk duduk- duduk di depan rumah duka demi menghargai keluarga yang lagi berduka, ujar Iswanto Kwara. (baim)

Melda
By Melda October 9, 2016 19:31
Loading...
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...