Ramayani Sababalat Ciptakan Tari Kreasi untuk Festival Muanggau

Melda
By Melda September 5, 2017 05:44

Related Articles

Festival Muanggau di Mentawai. (ers)

Pemudi Mentawai latihan tari kreasi menjelang Festival Muanggau di Mentawai. (ers)

MENTAWAI – Muanggau (mencari kepiting atau kepiting endemik Mentawai) merupakan aktivitas sehari-hari orang Mentawai pada saat tiba waktu bulannya datang. Masyarakat melaksanakan aktivitas tersebut dimulai dari bulan Mei hingga September saat bulan purnama muncul.

Menjelang dilaksanakannya kegiatan tersebut, masyarakat setempat tahun ini akan menggelar Festival Muanggau. Koordinator pertunjukan seni Festival Muanggau, Ramayani Aziz Sababalat menciptakan gerakan tari kreasi tradisional Muanggau dimodifikasi menjadi moderen. Tarian tersebut menceritakan tentang aktivitas sehari-hari masyarakat Mentawai saat mencari anggau (kepiting endemik).

Ramayani menyebutkan, program kegiatan Festival Muanggau merupakan salah satu terobosan dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Kepulauan Mentawai untuk pertama kalinya. Kegiatan itu bertujuan untuk melestarikan budaya serta kearifan lokal.

Dikatakan, aktivitas mencari anggau biasanya mengikutsertakan anak-anak. Namun, saat ini anak-anak tidak lagi dilibatkan, hanya diramaikan oleh para remaja dan pasangan suami istri, sehingga ada asumsi dari luar, aktivitas Muanggau untuk mencari pasangan atau jodoh.

“Namun pada prinsipnya, aktivitas Muanggau itu bukanlah tempat mencari pasangan, akan tetapi menjadi suatu kebudayaan unik yang harus dilestarikan. Dimana setiap masuknya bulan purnama masyarakat Mentawai bersama-sama menuju suatu pulau untuk mencari anggau. Hasilnya dimakan bersama keluarga, bahkan ada juga yang dijual kepada penikmat kepiting endemik Mentawai tersebut,” ujar Alumni ISI Padangpanjang itu kepada padangmedia.com, Senin (4/9).

Ia mengatakan, pada Festival Muanggau nanti akan ditempilkan tarian Turuk Muanggau (Tari mencari kepiting endemik), melibatkan 10 peserta dengan durasi 5 menit. Dalam tarian yang ia ciptakan selama 10 hari tersebut, para penari dilengkapi dengan peralatan lengkap seperti lalap-lap (penjepit kepiting dari bambu) dan opah (keranjang tempat anggau-red dalam bahasa sikakap), sesuai dengan peralatan dan aktivitas yang dipakai masyarakat hendak mencari kepiting.

Inti dari kegiatan Festival Muanggau ini, kata Ramayani, adalah dalam rangka mengangkat budaya yang telah lama hilang serta melestarikan kearifan lokal. Mulai terkikisnya budaya Muanggau dengan tidak lagi melibatkan anak-anak sudah lama, bahkan tidak ditemukan lagi anak-anak berada di lokasi muanggau tersebut. Oleh karena itu, dengan adanya pelaksanaan Festival Muanggau ini, bagaimana nantinya bisa hidup kembali suasana keikutsertaan anak-anak dalam mencari anggau tersebut, tukasnya. (ers)

Melda
By Melda September 5, 2017 05:44
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...