Pecinta Wisata Menulis Kekagumannya pada Padang Panjang

Melda
By Melda November 14, 2015 04:46
padangpanjang
PADANGPANJANG – Berbicara tentang Padang Panjang, “Ini adalah kota yang berbahagia,” demikian tulis AA Navis, pengarang Robohnya Surau Kami yang fenomenal itu. Di sana ada batu kapur yang memberi hidup, ada sawah, ada sungai yang memberi hidup, ada rel kereta yang memberi hidup.
Ketika orang menyebut Sumatera Barat, tanpa sengaja melintas di pikirannya alam yang indaH dan masyarakat yang ramah dan baik hati. Hal itu terbersit manakala melihat tingkah laku anak Minang di perantauan yang penuh sopan santun. Di kota mana pun dan ke daerah mana pun mereka mengadu nasip, tetap saja mendapat tempat di hati masyarakat setempat.
Ketika para para wisatawan berada di Sumbar beberapa waktu lalu, mereka hanya akan dominan membicarakan Sumatera Barat dengan menyebut dua kota saja, yaitu Padang dan Bukittinggi. Tetapi, kini pesona Sumatera Barat sudah beralih ke kota kecil yang indah dan cantik elok rupa yang bernama Padang Panjang.
Kota yang tanggal 1Desember 2015 akan berulang tahun untuk ke 225 ini, telah muncul sebagai magnit pengundang wisatawan ke Sumbar. Baik dari dalam maupun luar negeri.
Akhyari Hananto, seorang penikmat wisata di negara ini menuliskan ketakjubannya terhadap Padang Panjang yang kini dipimpin Walikota Hendri Arnis. Seperti dituliskannya di media sosial internet Beta GoodNews From Indonesia, ia memulai dengan sebuah pertanyaan, tempat apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar nama Sumatera Barat atau Ranah Minang? “Sebagian besar mungkin akan menjawab Padang atau Bukittinggi sebagai dua nama yang selalu terngiang pertama kali,” tulisnya.
Kemudian Hananto melanjutkan tulisannya. “Belum lama lalu, saya pun merasakan hal serupa. Betapa pengetahuan saya akan ranah Minang, sebuah negeri yang berhias Bukit Barisan dan dipenuhi berbagai pesona, mulai dari gunung api, danau, ngarai, hingga sawah padi yang luas seolah tak berbatas, sangat sedikit. Namun, kini saya punya nama baru, yang telah sangat membekas di benak saya. Namanya Padang Panjang,” katanya.
Pengakuan Hananto itu, tepat sekali adanya. Menurutnya, beberapa waktu lampau, orang di luar Sumbar mungkin tak sering mendengar Padang Panjang. Tapi, kini kota berjuluk Serambi Mekah itu, sudah lekat di ingatan setiap orang yang pernah atau akan berwisata ke Sumbar.
Kota ini dikelilingi pegunungan dengan pohon-pohon menjulang dari hutan primer yang hijau. Kota dengan wilayah terkecil di Sumatera Barat ini berada di daerah ketinggian yang terletak antara 650 sampai 850 meter di atas permukaan laut, berada pada kawasan pegunungan yang berhawa sejuk dengan suhu udara maksimum 26.1 °C dan minimum 21.8 °C dengan curah hujan yang cukup tinggi dengan rata-rata 3.295 mm/tahun.
“Jika di Jawa kita punya Bogor yang berjuluk Kota Hujan, maka Padang Panjang adalah Kota Hujan di Sumatera. Saya mengunjungi kota ini di hari-hari awal musim hujan dan benar saja hujan di sini benar-benar deras,” kata Hananto.
Di bagian utara dan agak ke barat Padang Panjang berjejer tiga gunung: Gunung Marapi, Gunung Singgalang dan Gunung Tandikat yang menjulang. Kota ini punya banyak julukan lain selain kota hujan. Masyarakat Padang Panjang sangat bahagia dengan sebutan Kota Serambi Mekkah. Pada masa lalu, Belanda menyebut Padang Panjang dengan Egypte van Andalas (Mesir di Tanah Sumatera), Kota Pendidikan karena banyaknya institusi pendidikan dan sejarah panjang bagaimana kota ini memerankan peran pendidikan sejak masa lalu.
Di masa lalu itu, Padang Panjang merupakan bagian dari wilayah Tuan Gadang di Batipuh, pada masa Perang Padri kawasan ini diminta Belanda sebagai salah satu pos pertahanan dan sekaligus batu loncatan untuk menundukan kaum Padri yang masih menguasai kawasan Luhak Agam. Selanjutnya, Belanda membuka jalur jalan baru dari kota ini menuju Kota Padang karena lebih mudah dibandingkan melalui kawasan Kubung XIII di kabupaten Solok sekarang.
Sejak zaman kolonilal, Padang Panjang memainkan peran penting sebagai tempat persinggahan dan menjadi simpul 3 kota utama di pulau emas tersebut, yakni Medan, Padang, dan Pekanbaru. Tak heran, banyak tokoh-tokoh Sumatera Barat di masa itu mempunyai irisan penting dengan Padang Panjang yang juga menjadi tujuan pendidikan di masa lalu. Mulai dari Sutan Sjahrir, Hamka, AA Navis dan masih banyak lagi.
“Saya tak ingat satu persatu. Di sinilah berdiri sekolah agama modern pertama di Indonesia, yakni Diniyah School dan Diniyah Putri, juga yayasan pendidikan Thawalib tempat Hamka pernah menuntut ilmu,” kata Hananto menulis.
Melukiskan rasa kagum kepada Padang Panjang Akhyari Hananto menyebut, “Di Padang Panjang lah (terutama di Negeri Batipuh Sapuluh Koto), setting cerita fenomenal Tenggelamnya Kapal van Der Wick,  salah satu cerita yang sangat saya sukai..Robohnya Surau Kami.”
Dia juga mengatakan dengan jujur, di Padang Panjang ia diterima sebagai keluarga dan begitu merasa terhormat bisa bertemu dengan orang-orang hebat yang begitu mencintai kotanya. “Mereka  mencurahkan waktu tenaga dan pikirannya untuk kemajuan kota kecil yang indah ini,” tulisnya.  (Ampera Salim)

 

Melda
By Melda November 14, 2015 04:46
Loading...
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...