Penasaran dengan Rahasia Panah Beracun Mentawai? Datang Saja ke Festival Panah Tradisional di Bumi Sikerei!

Melda
By Melda July 12, 2017 06:27
Kepala Dinas Pariwisata Kab.Kepulauan Mentawai, Desi Simamora saat diwawancarai wartawan. (ers)

Kepala Dinas Pariwisata Kab.Kepulauan Mentawai, Desti Seminora saat diwawancarai wartawan. (ers)

MENTAWAI – Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Kepulauan Mentawai dalam waktu dekat akan menggelar festival panah tradisional untuk pertama kalinya di Bumi Sikerei. Kegiatan akan dilaksanakan pada 26-28 Juli 2017 dipusatkan di Desa Muntei Kecamatan Siberut Selatan.

Festival panah tradisional tersebut terbuka untuk umum. Akan dilakukan eksebisi untuk para Sikerei dan peserta dari umum dibatasi usianya 17 tahun ke atas. Pada kegiatan tersebut, juga akan ditampilkan racik panah racun, tari turuk laggai dan kuliner khas tradisi Mentawai.

Kepala Disparpora Kabupaten Kepulauan Mentawai, Desti Seminora menyebutkan, maksud dan tujuan penyelenggaraan event ini adalah untuk mengangkat kembali nilai-nilai budaya di Bumi Sikerei sehingga selalu terjaga kelestariannya. Kegiatan itu sekaligus mempromosikan wisata Mentawai yang mempunyai keunikan tersendiri yang berbeda dengan daerah lain.

Kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara untuk menyaksikan event panah tradisional Mentawai tersebut nantinya tidak hanya sekadar menyaksikan, tapi juga bisa mengetahui bagaimana proses meracik racun yang dibubuhi di kepala busur panah tersebut. Racun panah khas Mentawai itu sudah cukup berabad-abad dirahasiakan dan menjadi senjata ampuh bagi masyarakat Bumi Sikerei. Pada kegiatan itu nanti akan dibeberkan cara meracik racun panah dengan mengenalkan bahan dan jenis tumbuhan yang dipakai serta campurannya.

Loading...

Dikatakan Desti, panah yang biasa dipakai para Sikerei itu dalam bahasa Mentawai “Rourou” (anak panah). Bagi laki-laki Mentawai, itu merupakan senjata penting yang selalu dibawa untuk berburu binatang di hutan. Hasil buruan tersebut dibawa ke rumah untuk dimakan bersama keluarga dan juga setiap kepala keluarga memiliki panah di rumah masing-masing.

Panah yang biasa dipakai untuk berburu, rata-rata hampir semuanya dibubuhi dengan racun. Tujuannya untuk mempercepat kematian binatang buruannya. Apabila tepat sasaran, maka dalam hitungan menit buruan tersebut akan cepat lemas terkena racun panah. Walaupun racun panah tersebut mematikan, obat penawarnya pun sudah diracik bahannya dari tumbuh-tumbuhan, terangnya.

Menurutnya, panah sudah lama dikenalkan kepada semua laki-laki Mentawai. Pengenalan senjata tersebut biasanya dilakukan semacam pesta kecil. Panah dengan jenis berbeda dikenalkan sesuai dengan usia dari anak laki-laki. Namun, seiring zaman modernisasi, terjadi pergeseran pemakaian khas senjata berburu bintang dengan memakai senapan angin untuk berburu bintang.

Dengan demikian, kata Desti Seminora, melalui kegiatan itu, disparpora kembali menanamkan kecintaan untuk melestarikan budaya sendiri. Salah satunya panah tradisional Mentawai untuk mengangkat nilai-nilai luhur budaya serta pelestariannya, sehingga dapat memotivasi para pemanah untuk kembali menjaga kearifan lokal dengan tidak meninggalkan senjata tradisional. Sekaligus meningkatkan minat jumlah pengunjung wisatawan nusantara dan mancanegara ke Bumi Sikerei untuk dipromosikan.

“Senjata khas Mentawai adalah panah, merupakan senjata andalan laki-laki orang mentawai. Oleh karena itu, sangat penting kembali menanamkan rasa bangga generasi muda Mentawai untuk membudayakannya serta bisa menjaring bibit panahan tradisional yang bisa menjadi cikal bakal atlet Mentawai,” ungkap Desti Seminora kepada padangmedia.com, Selasa (11/7).

Desti menyebutkan, event panahan itu akan dikoordinasikan ke pihak KONI Mentawai untuk membuka cabang baru panahan. Selama ini, cabang tersebut belum pernah diikutsertakan pada ajang pekan olahraga provinsi. Sementara, panahan merupakan aktivitas sehari-hari orang Mentawai yang harus digalakkan. Festival panah tradisonal Mentawai juga akan diramaikan dengan penampilan tarian Mentawai oleh Sikerei, bazar, cindera mata hasil kerajinan, miniatur panah serta kuliner Mentawai. (ers)

Melda
By Melda July 12, 2017 06:27
Loading...
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...