Pemilu di Indonesia Masih Dibayangi Paradok Demokrasi

Febry Chaniago
By Febry Chaniago Januari 31, 2018 07:16

Related Articles

PADANG – Paradoks demokrasi masih membayangi pemilihan di Indonesia. Faktor perilaku dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemilihan membuat kondisi itu belum bisa dihindari.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Andalas (Unand) DR. Aidinil Zetra mengungkapkan hal itu dalam sosialisasi rekruitmen badan penyelenggara pemilihan yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Sumatera Barat, Selasa (30/1).

“Pemilihan di Indonesia saat ini masih dibayangi paradok demokrasi. Ini tak lain disebabkan faktor perilaku yang kemudian memengaruhi tingkat kepercayaan publik,” ungkapnya.

Aidinil mengungkapkan, pemilihan pada dasarnya adalah untuk mendapatkan pemimpin dan penyelenggara negara yang berkualitas dan berintegritas yang pada akhirnya akan bermuara kepada kesejahteraan masyarakat. Namun dari berbagai survei yang dilakukan, tingkat kepercayaan masyarakat menjadi turun setelah proses pemilihan.

“Dari beberapa survei yang dilakukan oleh banyak lembaga, faktor perilaku masih menempati urutan teratas yang memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat,” ujarnya.

Dia mengurai, tingkat kepercayaan masyarakat yang naik pada saat menjelang proses pemilihan karena kuatnya pencitraan para kontestan. Kondisi itu akan beranjak turun ketika pemilihan selesai karena masyarakat yang menunggu realisasi dari janji kampanye mulai merasakan kekecewaan.

Menurutnya, untuk sebuah pemilihan yang baik dimulai dari rekrutmen penyelenggara pemilu. Kemudian, rekrutmen kader oleh partai politik. Dia mengingatkan, parpol jangan hanya mengutamakan kepopuleran namun yang paling penting adalah perilaku karena faktor tersebut menjadi referensi bagi masyarakat untuk menentukan pilihan.

Menyoal integritas, Aidinil melihat penyelenggara pemilu terus menunjukkan perbaikan. Kondisi ini harus ditingkatkan baik oleh lembaga pelaksana maupun lembaga pengawas. Sementara untuk peserta pemilu, dia berharap ke depan parpol dan peserta pemilu dapat menjaga tingkat kepercayaan masyarakat dengan menunjukkan integritas yang kuat. Partisipasi pemilih yang cenderung menurun tidak lepas dari integritas penyelenggaraan dan perilaku calon yang telah dipilih .

“Apabila seluruh unsur yang terlibat dalam pemilu dapat menjaga integritas, ke depan pemilu di Indonesia akan semakin berkualitas dengan tingkat partisipasi masyarakat yang semakin membaik,” tandasnya.

Sosialisasi rekruitmen badan penyelenggara pemilu ini dilakukan oleh KPU Provinsi Sumatera Barat adalah dalam rangka menyambut pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilihan presiden tahun 2019 mendatang.

Rekruitmen akan dilakukan sesuai jadwal yang telah ditetapkan baik untuk calon komisioner KPU provinsi, kabupaten dan kota maupun penyelenggara adhoc dari tingkat kecamatan hingga ke tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS). Demikian juga untuk lembaga pengawas mulai dari Panitia pengawas tingkat kabupaten dan kota hingga ke pengawas kecamatan dan pengawas lapangan. (feb)

Febry Chaniago
By Febry Chaniago Januari 31, 2018 07:16
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...