Mereka Belajar Pengetahuan dan Kemandirian di Tanah Ombak

Melda
By Melda Agustus 15, 2016 07:43
Yayak Iskra dan Afrinaldi saat mendampingi anak-anak dalam kegiatan di Ruang Baca Tanah Ombak, Minggu (14/8). (rin)

Yayak Iskra dan Afrinaldi saat mendampingi anak-anak dalam kegiatan di Ruang Baca Tanah Ombak, Minggu (14/8). (rin)

Oleh Melda Riani

Masuaklah, dak baa gai do. Salam dulu  (masuklah, tidak apa-apa. Salaman dulu)..,” seorang bocah laki-laki menyapa anak laki-laki lainnya yang nampak ragu-ragu masuk ke ruang yang lagi ‘heboh’ dengan nyanyian penuh semangat. Fadil, bocah berusia 8 tahun yang menyapa itu kemudian bergabung bersama puluhan anak lainnya, sementara yang lebih kecil terlihat asyik mewarnai didampingi beberapa guru relawan.

Siang itu, Minggu (14/8), sebuah rumah yang diberi nama ‘Ruang Baca Tanah Ombak’ itu memang sedang heboh karena kedatangan tamu istimewa, Yayak Yatmaka alias Yayak Iskra, seorang seniman yang concern dengan pendidikan anak serta dikenal dengan perjuangannya lewat lagu dan gambar. Yayak datang bersama Afrinaldi, seorang birokrat di Kementerian Sosial yang sangat peduli dengan anak.

Yayak siang itu telah menyiapkan puluhan lagu dengan lirik sederhana tapi penuh semangat. Meski ia yang menciptakan lagu-lagu itu, tapi Yayak menyatakan lagu-lagu itu merupakan lagu anak-anak Indonesia. Karena itu, kalaupun direkam untuk dikomersialkan, tak mengapa asalkan bersama-sama, tidak sendiri.

Sayangnya, tak semua lagu yang ia siapkan bisa dinyanyikan semuanya, karena keterbatasan waktu. Meski demikian, pesan semangat dan nilai-nilai sederhana di lirik lagu-lagu itu telah tertular pada anak-anak itu.

Tanah Ombak belakangan memang sering kedatangan tamu istimewa. Istimewa bagi anak-anak yang istimewa pula, anak-anak pinggir laut di Purus Kota Padang, sebuah tempat yang lazimnya daerah pinggir pantai, dengan kehidupan keras sekeras hempasan ombak. Namun, Tanah Ombak yang saat ini banyak diperbincangkan setelah memenangkan Gramedia Reading Community Competition 2016 Regional Sumatera, telah banyak membawa perubahan. Setidaknya pada perilaku dan pengetahuan anak-anak di tempat itu.

Belum lama ini, Tanah Ombak didatangi Awam Prakoso, pendongeng dari Kampung Dongeng Indonesia. Banyak lagi tamu-tamu baik dari Kota Padang sendiri maupun dari Jakarta yang sudah singgah ke tempat itu. Di antaranya mantan Wakil Menteri Pendidikan, Fasli Jalal, Ketua DPD RI Irman Gusman, Dirut PT Semen Padang, Benni Wendri, Anggota DPRD Sumbar, Guspardi Gaus, Walikota Padang, Mahyeldi Ansharullah dan lain-lain. Bahkan, Presiden RI Jokowi dalam kunjungannya ke Padang beberapa waktu lalu berencana singgah ke tempat itu. Hanya saja, karena pergeseran acara, Jokowi urung datang.

“Semua tamu yang datang ke sini, tidak ada pelayanan istimewa. Semua sama, duduk di tikar, bahkan di lantai tanpa alas,” ujar Yusrizal KW, salah seorang pendiri Tanah Ombak.

Begitu juga dengan relawan. Mereka datang ke tempat itu untuk mengajar, berbagi dengan cerita dan lagu, tanpa dibayar. Beberapa malah datang dari Jakarta, seperti halnya Afrinaldi yang dalam tiga bulan terakhir, datang hampir setiap minggu.

KW yang dikenal sebagai budayawan dan sastrawan Sumbar itu kepada padangmedia.com menuturkan, ia dan sahabatnya Syuhendri, punya cita-cita menciptakan generasi emas Purus. Diawali dengan membangun sebuah sanggar teater tahun 2014 di sebuah rumah di gang sempit di kawasan Purus III, tepat bersebelahan dengan Rusunawa yang berdiri gagah di sampingnya. Rumah sederhana milik mertua Syuhendri itu kemudian disulap beberapa bagian di dalamnya hingga menarik.

Rumah itulah yang kemudian dikembangkan menjadi tempat belajar bagi anak-anak Purus. Diberi nama Tanah Ombak karena memang terletak di kawasan pinggir pantai. Selain itu, Tanah Ombak merupakan sebuah novel karangan Abrar Yusra, sekaligus sebagai apresiasi terhadap Abrar Yusra.

“Kalau cuma teater, hanya menyentuh sebagian kecil anak saja. Tapi dengan ruang baca, semua anak bisa datang ke sini. Yang bisa merubah peradaban itu adalah pengetahuan dan pengetahuan bisa diperoleh dengan membaca,” ujarnya.

Saat masih jadi sanggar teater hanya ada sekitar 20 anak yang dibina. Tapi, setelah menjadi Ruang Baca, sudah ada sekitar 70 anak yang bergabung. Beberapa merupakan anak putus sekolah dan anak jalanan.

Di Tanah Ombak, ada empat hal yang dilakukan, yakni belajar pengetahuan, membaca, mengembangkan potensi dan kemandirian. Saat ini, anak-anak di Tanah Ombak baru mulai memasuki tahap ketiga, yaitu mengembangkan potensi. Suatu hari nanti, mereka diharapkan bisa memperoleh kemandirian di tempat itu. Karena itu, selain teater, musik dan keterampilan tangan, mereka diajarkan pula Bahasa Inggris oleh beberapa relawan mahasiswa setiap minggunya. Apalagi, Purus merupakan kawasan wisata yang saat ini tengah dikembangkan secara serius oleh Pemerintah Kota Padang. Kemampuan bahasa Inggris bisa jadi bekal bagi anak-anak itu untuk mandiri ke depannya.

Metode yang diterapkan di Tanah Ombak adalah bermain sambil belajar. Belajar dengan proses yang menyenangkan akan lebih bermakna bagi anak-anak. Selain itu, mereka dibiasakan untuk membaca sekurangnya selama setengah jam sehari.

Setelah dua tahun berjalan, sudah ada hasil yang diperoleh. Walaupun untuk menciptakan generasi emas butuh waktu yang tak sebentar, tapi setidaknya sudah mulai ada yang dituai. Misalnya, Pertunjukan Teater Terbaik Nasional serta 1st Gramedia Reading Community Competetion 2016 Regional Sumatera.

“Tapi, yang lebih penting adalah perubahan perilaku. Dulu, anak-anak di sini bercarut itu sudah perkataan sehari-hari. Sekarang, alhamdulillah sudah jauh berkurang. Ada juga yang biasa ngelem dan turun ke jalan. Tapi, sejak di sini kebiasaan-kebiasaan jelek itu sudah berangsur berubah,” tutur KW.

Kondisi seperti itu dibenarkan oleh warga setempat. Suna (65), seorang penjual lontong di tempat itu mengakui anak-anak di sana sudah jauh berubah dalam berperilaku. Terutama dalam berkata kasar, mereka sudah jauh berkurang. Ia senang sejak ada Tanah Ombak, sudah ada tempat bermain yang baik buat anak-anak, tak lagi ke warnet.

Hal yang sama diungkapkan Yeti (51), seorang guru. Menurutnya, selain perubahan perilaku, tempat itu juga jadi jauh lebih bersih dari sebelumnya. “Saya penduduk asli di sini, jadi tahu bagaimana anak-anak itu sebelumnya. Kaget juga melihat perubahan mereka,” katanya.

Dukungan tidak hanya datang dari penduduk sekitar dan relawan. Orang-orang yang mulai tahu dengan Tanah Ombak kemudian memberi dukungan, baik dengan bantuan buku, dana dan lainnya. Kadang-kadang, ada saja donatur yang memberi bantuan perlengkapan sekolah, makanan dan lainnya. Sementara, untuk buku-buku, selain koleksi yang sudah ada, juga akan ada bantuan dari pihak Gramedia selama setahun ke depan.

Masalah Anak-anak Masih Sama

Dua tokoh yang peduli dengan pendidikan anak saat hadir di Ruang Baca Tanah Ombak, Minggu (14/8), Yayak Iskra dan Afrinaldi menuturkan, masalah anak-anak dari dulu sampai sekarang nyaris sama. Bahkan, sekarang bertambah dengan pengaruh gadget, internet dan televisi.

Yayak yang sejak sekitar tahun 1987 bergerilya keliling Indonesia untuk mengajak orang-orang peduli pada masalah anak, berujar, selain masalah ekonomi yang bermuara pada persoalan eksploitasi, putus sekolah dan lainnya, anak-anak sekarang dihadapkan pada pengaruh yang besar oleh media televisi dan gadget. Mereka menjadi punya mentalitas konsumtif dan pasif. Karena itu, kegiatan-kegiatan pendidikan informal seperti yang dilakukan di Tanah Ombak maupun tempat-tempat informal lainnya sangat dibutuhkan.

Dengan adanya komunitas seperti Tanah Ombak, kata Yayak, akan banyak kenangan yang tersimpan di benak anak-anak itu. Apa yang mereka dapatkan di tempat itu bakal jadi acuan untuk mereka berpikir dan bertindak saat mereka dewasa kelak. Selain itu, anak-anak itu juga akan belajar berorganisasi sejak dini.

Yayak punya metode sendiri dalam mengajarkan nilai-nilai pada anak, yaitu lewat lagu. Menurutnya, cara itu akan lebih ‘nancap’ pada anak. Dengan lagu-lagu yang bersemangat – bukan lagu-lagu lembek – ia menitipkan nilai-nilai kesetiakawanan, kebersamaan, dan kreatifitas.

Afrinaldi menambahkan, komunitas yang tumbuh dari bawah akan lebih efektif dalam menanggulangi persoalan sosial. Karena tumbuh dari dan bersama masyarakat, semua programnya akan lebih mengena. Beda dengan program-program yang datangnya dari pemerintah, kebanyakan tujuannya hanya bagaimana agar dapat memperoleh dana bantuan.

Ke depan, kata Afrinaldi, masih banyak ‘PR’ yang harus dilakukan oleh orang-orang yang peduli dengan masalah dan pendidikan anak. Terutama mengembalikan anak-anak pada usia mereka seharusnya. Anak-anak saat ini, seperti banyak terjadi, dewasa sebelum waktunya. Mereka berbahasa dengan bahasa orang dewasa, menyanyi dengan lirik dan gaya orang dewasa dan terbiasa hidup serba ‘instant’.

“Kita melakukan apa yang bisa kita lakukan. Bisa merubah satu anak saja, itu bukan pekerjaan yang mudah,” ujar keduanya. (*)

Melda
By Melda Agustus 15, 2016 07:43
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*