Kembali Lagi Bumi Sikerei Menangis Akibat Kematian Ibu Hamil dan Bayi

Melda
By Melda September 5, 2017 10:58

dokter candra

Oleh Dokter Chandra

MENTAWAI – Belum genap satu minggu datangnya musibah ibu hamil dan bayi meninggal di tanah Mentawai, kembali datang dirundung kematian wanita hamil bersama bayinya dari Desa Saumangaya Kecamatan Pagai Utara, Sabtu 2 September 2017. Tampaknya begitu mudah nyawa seorang ibu hamil dan bayi hilang begitu saja.

Ada masyarakat di Mentawai menganggap kematian itu adalah takdir. Memang, kematian adalah suatu takdir yang merupakan rahasia Illahi. Akan tetapi, proses menuju kematian inilah yang menjadi permasalahan. Bukankah manusia berkewajiban untuk berusaha atau ikhtiar, berdoa untuk menyelamatkan nyawa seorang ibu hamil dan bayinya? Kalau hal demikian sudah dilakukan dengan baik, barulah kita berserah diri (tawakal) pada keputusan Allah SWT.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah apakah sudah semua masyarakat Mentawai berusaha dengan baik? Atau, hanya kita bekerja dan berusaha sekadar mencari kepantasan sebagai pegawai, atau hanya untuk menyenangkan pimpinan kita. Hal tersebut perlu kembali direnungkan dan koreksi diri.

Rasa sedih, kecewa, jenuh dan marah terus menyelimuti diri sebagai tenaga profesi dokter spesialis kandungan dan kebidanan di Mentawai ketika melihat wanita hamil yang terbujur kaku karena meninggal dunia. Di awal September 2017, sudah diawali dengan kematian wanita hamil dari Saumangaya. Pasien yang sedang hamil 7 bulan pada pagi hari mengalami kejang eklamsia. Pasien dibawa ke RSUD Mentawai sudah dalam kondisi meninggal serta bayinya karena kejang terus-menerus.

Tak disangka, kematian ibu hamil dan bayi banyak terjadi di Bumi Sikerei. Sejak awal Januari hingga September 2017, sedikitnya 5 ibu hamil meninggal, dengan rincian 3 ibu hamil mengalami pendarahan dan 2 eklamsia. Baru-baru ini, ibu hamil meninggal berasal dari Saumangaya. Minggu lalu, ibu hamil meninggal dari daerah Katiet. Seterusnya, bayi meninggal dalam kandungan di daerah Rokot Kecamatan Sipora Selatan.

Sebelumnya, dari Sioban, ibu meninggal karena eklamsia (kejang dengan tensi tinggi) dan dari daerah Tuapeijat, ibu hamil meninggal karena pendarahan hebat saat melahirkan. Sejak Januari 2017, data di RSUD Mentawai, ada 13 bayi meninggal, dengan rincian 10 meninggal sebelum lahir dan 3 meninggal setelah saat lahir. Angka itu yang saya ketahui sesuai data yang masuk selama saya menangani pasien wanita hamil di Mentawai. Kalau di luar data, berkemungkinan saja ada, tapi tidak terpublikasi.

Kadang, hal seperti ini yang menjadi pertanyaan. Banyak program yang sudah dicanangkan dengan biaya besar digelontorkan. Akan tetapi, kenapa kematian ibu hamil dan bayi masih terus berlangsung di Kabupaten Kepulauan Mentawai? Apakah kondisi geografis Kepulauan Mentawai selalu menjadi kambing hitam untuk mencari alasan? Kenapa kematian ibu hamil dan bayi masih terus berlangsung? Apakah tidak bisa kita mencari strategi lain dan teknologi yang ada untuk mengatasi kendala kondisi geografis di Mentawai. Apakah strategi yang dilakukan sudah sesuai dengan karakteristik geografis dan kondisi masyarakat Mentawai?

Jika dituntut dari sebab kematian dan faktor risiko sebelum mengalami kematian, maka semua kematian ibu hamil dan bayi yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Mentawai adalah mereka yang hamil atau melahirkan yang dirujuk sudah dalam kondisi komplikasi yang parah. Ini menurut saya selama bertugas di Bumi Sikerei.

Bukan dari pasien yang hamilnya selalu saya pantau saat ANC dan menerima saran terhadap kondisi kehamilannya. Saya katakan, kondisi ini harus menjadi perbandingan dan memunculkan pertanyaan serta penelitian. Apakah sudah benar program atau intervensi yang dilakukan selama ini? Apakah sudah tepat waktu melakukan perujukan pasien hamil? Semuanya itu akan muncul berbagai pertanyaan, seperti tidak mudah memotivasi merujuk pasien di Mentawai. Pasien dan keluarganya banyak menolak dirujuk. Mereka masih banyak mencoba pengobatan tradisional dan lebih percaya pada dukun dan lain-lainnya.

Hal demikian menjadi masalah besar di balik kasus kematian ibu hamil dan bayi di negeri kepulauan. Masalah ini harus diinvestigasi dan dicarikan solusi. Kepala daerah serta jajaran juga harus menyikapi masalah ini dengan tuntas. Karena, perlu diingat bahwa Kepulauan Mentawai memiliki karakter yang berbeda dengan daerah daratan, baik dari segi geografis, kondisi sosial masyarakat hingga tingkat kesadaran masyarakatnya terhadap kehamilan yang sehat dan aman. Marilah kita kerjasama untuk mengubah nasib Mentawai menjadi lebih baik. (Penulis, Dokter Chandra, Spesialis Kebidanan dan Kandungan bertugas di RSUD Mentawai).

Loading...
Melda
By Melda September 5, 2017 10:58
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

PR NEWSWIRE

Loading...