Kekerasan Murid SD, Siapa Bertanggung Jawab?

Melda
By Melda October 14, 2014 12:28

Sebuah video berisi rekaman aksi kekerasan beberapa orang murid SD terhadap temannya tiba-tiba saja beredar luas. Dalam rekaman berdurasi 1 menit 52 detik tersebut, seperti tanpa mengenal kasihan, beberapa orang anak laki-laki berpakaian SD menendang dan memukuli seorang anak perempuan, juga berpakaian SD, dalam sebuah ruangan. Tendangan dan pukulan itu dilakukan berkali-kali di hadapan teman-temannya yang lain.

Terakhir diketahui bahwa aksi di dalam video tersebut terjadi di SD Trisula Perwari Kota Bukittinggi pada pertengahan September 2014 lalu. Diketahui juga aksi itu terjadi dalam ruangan mushalla dan dalam pelajaran Pendidikan Agama! Tak diketahui penyebab pasti mengapa anak-anak bau kencur tersebut dengan sadisnya menendang dan memukuli temannya sendiri. Bahkan sekilas dalam tayangan tersebut, seorang anak perempuan, juga berpakaian SD ikut menendang korban walau hanya satu kali.

Pihak sekolah mengaku permasalahan tersebut sudah diselesaikan dengan para orangtua murid. Tidak diketahui penyelesaian seperti apa yang dimaksud, namun orangtua korban menurut kepala sekolah tidak melanjutkan persoalan itu ke proses hukum. Bahkan, kepala sekolah mengakui bahwa korban adalah cucunya sendiri.

Memiriskan, melihat tayangan video tersebut sangat memancing emosional! Gaya menendang dan memukul korban layaknya gerakan-gerakan yang dilakukan oleh para aktor dalam filem laga. Berkali-kali, anak laki-laki mendaratkan tendangan dan pukulan tangan ke arah korban yang tak berdaya dan hanya menangis dalam kondisi terpojok di sudut ruangan.

Bahkan, salah seorang anak laki-laki melakukan tendangan dengan berlari dari jarak jauh dan mendarat telak di tubuh korban. Kepala, tubuh dan kaki korban menjadi sasaran aksi brutal anak-anak ingusan tersebut, meski korban terus mencoba bertahan dan menangkis dengan tangannya yang lemah.

Para orangtua yang memiliki anak seumuran dan sempat menonton video rekaman tersebut mengeluarkan sumpah serapah. Mereka menghujat kelakuan anak-anak yang dinilai tidak \” ditunjuak diajari\” tersebut. Tak jarang juga yang menilai kelakuan mereka adalah akibat pengaruh tontonan televisi dan pengaruh lingkungan. Bahkan para pejabat sendiri juga menjadikan tayangan televisi sebagai kambing hitam dari peristiwa itu.

DPRD Sumatera Barat mengecam aksi itu dan meminta pihak terkait mengusut tuntas permasalahan itu. Bahkan Ketua Fraksi Gerindra DPRD Sumbar Hidayat meminta video itu ditayangkan dalam ruang sidang. Maksudnya adalah agar seluruh anggota dewan yang hadir dapat memberikan penilaian terhadap apa yang sedang dilakukan oleh generasi calon penerus bangsa itu dan mengambil sikap agar peristiwa itu tidak terulang lagi. Meski penayangannya tidak jadi dilakukan, namun ketua DPRD Hendra Irwan Rahim menyatakan sudah membicarakan persoalan itu dengan gubernur dan Forkopimda.

Benarkah aksi itu hanya merupakan dampak buruk dari tayangan televisi yang dianggap tidak mendidik? Bagaimana bisa anak-anak yang belum berusia belasan tahun itu melakukan tindakan kekerasan demikian brutal kepada teman perempuannya? Sudah demikian parahkah tayangan televisi saat ini sehingga sedemikian rupa mengubah perilaku anak-anak?

Semua pihak termasuk gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno menyarankan para orangtua untuk melakukan pendampingan kepada anak-anak ketika menonton televisi. Para orangtua diharapkan bisa menyaring siaran televisi yang akan ditonton oleh anak-anak mereka.

Bukan bermaksud membela, tayangan televisi tidak bisa disalahkan sendiri dalam perubahan sikap mental anak-anak dewasa ini. Semua juga terpulang kepada bagaimana penerapan pendidikan dalam keluarga, fungsi dan peran orangtua dalam mendidik anak-anak untuk berperilaku baik dalam interaksi dengan lingkungannya. Guru-guru juga bertanggungjawab terhadap pembentukan karakter, sikap mental dan perilaku anak didik.

Kembali kepada fungsi guru sebagai pendidik, bukan sekedar pengajar, pembentukan karakter dan sikap mental anak didik tidak bisa dilepas begitu saja ketika guru telah menuntaskan tugasnya mengajarkan mata pelajaran tertentu. Salah seorang guru, Saribulih menilai saat ini paradigma guru sebagai pendidik sudah tergerus oleh beban mengajar. Kemudian guru juga tidak \”berdaya\” menghadapi orangtua murid yang tidak terima anak-anak mereka dimarahi ketika bermasalah di sekolah.

Yang lebih parah lagi menurutnya, melihat apa yang terjadi dalam rekaman video berdurasi 1 menit 52 detik itu, tidak adanya rasa humanis dalam diri anak-anak, baik pelaku maupun yang menyaksikan kejadian itu. Pelaku dengan tanpa belas kasihan melakukan tindakan kekerasan menendang dan memukul, sementara kawan-kawan pelaku dan korban hanya diam tanpa ada yang mau mencegah kejadian itu. Ia merasa pendidikan berkarakter yang didengung-dengungkan selama ini telah gagal mencapai tujuannya, melihat kondisi itu.

Aksi kekerasan yang \”sengaja\” direkam dan tiba-tiba saja beredar luas melalui jaringan media sosial di SD Perwari Bukittinggi tersebut telah menyentakkan semua pihak. Aksi ini hendaknya menjadi pelajaran bagi orangtua, masyarakat, pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan. Pemerintah daerah hendaknya juga bisa memantau seluruh lembaga pendidikan baik negeri maupun yang dikelola oleh swasta atau yayasan.

Penerapan aturan-aturan sekolah, penerapan standar-standar pendidikan berkarakter dan sistim pengawasan sekolah terhadap aktifitas murid-murid dalam lingkungan sekolah hendaknya menjadi hal yang harus diperhatikan. Ada baiknya, saran dari Ketua DPRD Sumbar Hendra Irwan Rahim untuk memasang kamera pengontrol (CCTV) di sekitar lingkungan sekolah dipertimbangkan oleh seluruh pemangku kepentingan.

Menurut Hendra, harga perangkat CCTV tidak mahal tapi manfaatnya sangat besar dalam melakukan kontrol terhadap perilaku anak didik dalam lingkungan sekolah. Jika saja ada kamera pengontrol, kejadian seperti aksi kekerasan yang terjadi di SD tersebut dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi di sekolah-sekolah lainnya bisa dicegah.

Semua sudah terjadi, aksi kekerasan itu sudah terlanjur beredar dan telah diketahui secara luas. Ke depan, semua pihak mulai dari orangtua, sekolah, masyarakat dan pemerintah perlu menjadikan hal ini sebagai kajian, pelajaran dan pengalaman pahit untuk perbaikan. Anak-anak bangsa ini harus dibekali dengan pengetahuan yang luas dalam bingkai pendidikan mental yang baik. Kecerdasannya diasah, akhlaknya juga ditempa. Orangtua hendaknya membekali anak-anaknya dengan sikap sosial yang baik agar baik dalam pergaulannya. Para guru di sekolah hendaknya juga menempa anak-anak dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan akhlak yang seimbang.

Pemerintah harus memikirkan pola pendidikan yang bisa menjadikan generasi bangsa yang cerdas, berakhlak dan memiliki kepekaan sosial yang baik kepada sesama. \” Kok ka mamiciak talingo urang, piciak talingo awak dulu\” Sebuah kalimat sederhana, sebuah pepatah Minang yang artinya Kalau ingin menjewer telinga orang, coba jewer dulu telinga sendiri. Sejak dulu, masyarakat Minang selalu menyampaikan pesan-pesan ini kepada anak-anak mereka. Walau sederhana, tetapi pesan itu mengandung pendidikan moral yang dalam, ternyata! Semoga kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi! (*)

 

Melda
By Melda October 14, 2014 12:28
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*