Keindahan Mentawai Tergores Lewat Batik Rancangan Mariani

Melda
By Melda Oktober 5, 2016 07:19
Baju batik dan kain pantai bermotif Mentawai hasil rancangan Mariani. (ers)

Baju batik dan kain pantai bermotif Mentawai hasil rancangan Mariani. (ers)

MENTAWAI – Siapa yang tak suka dengan keindahan pantai-pantai di Mentawai serta ombaknya yang terkenal hingga ke mancanegara? Juga dengan keunikan budayanya yang masih bertahan hingga sekarang.

Saat ini, keindahan Mentawai serta keunikan budayanya itu bisa dinikmati lewat batik, baju kaos dan kain pantai. Batik dengan disain khas Mentawai tersebut dihasilkan lewat tangan dingin seorang pengrajin batik asli Mentawai, Mariani Peranginangin.

Berbekal kecintaaannya pada Mentawai serta insting bisnisnya, ia mulai merancang pakaian motif asli Mentawai sejak tahun 2014 lalu. Namun, produksi batik tersebut baru dilakukannya mulai tahun 2015 sampai sekarang. Itupun masih diproduksi di Solo, Jawa Tengah karena tempat produksi di Mentawai belum ada.

Disain khas Mentawai hasil karyanya di antaranya memiliki motif Jaraik, Pendayung, Tato (tiktik) dan tulang tenggorak binatang. Motif-motif tersebut dituangkan dalam bentuk baju batik, baju kaos dan kain pantai. Kain Pantai atau disebut Komak Monga juga ada yang bermotif gambar Sikerei, pohon kelapa di pantai dan orang Mentawai pulang dari ladang.

“Hasil rancangan ini kita bawa ke daerah Solo untuk diproduksi, karena tempat produksi di Mentawai belum ada. Lagipula, ini membutuhkan biaya besar,” kata Mariani yang berdarah Batak-Mentawai kepada padangmedia.com belum lama ini.

Untuk biayanya, masing-masing motif sekitar Rp2.500.000 hanya untuk satu kodi. Belum lagi biaya produksinya. Total biaya keseluruhan yang dibutuhkan sekitar Rp20 juta untuk lima motif.

Mariani mengakui, hal itu menjadi kendala baginya untuk memproduksi baju. Karena, ia tidak punya pendukung dana, hanya menghandalkan modal sendiri. Namun, ia tetap semangat dan berjuang untuk mengembangkan kreatifitas guna menghasilkan pakaian Mentawai yang bermotif ciri khas daerah. Apalagi, batik juga merupakan salah satu aset dari keragaman budaya bangsa Indonesia. Karena itu, ia akan mempromosikan kepada Pemerintah Daerah Mentawai untuk memajukan baju batik ciri khas Mentawai.

Mariani menuturkan, secara umum kain yang dirancang dengan motif khas asli Mentawai tersebut belum diketahui banyak orang. Hanya dari beberapa daerah saja yang tahu, termasuk dari Payakumbuh yang pernah memesan pakaian. Menurut mereka, motif tersebut unik dan tak pernah ditemukan di pasaran.

Baju batik yang dirancangnya juga sudah pernah dipesan oleh salah seorang wakil ketua DPRD Mentawai. Hasil karyanya pernah pula diperlihatkan kepada Dinas Perindagkop Kabupaten Kepulauan Mentawai, bahkan ke Dinas Perindagkop Sumbar. Ia diminta untuk mengembangkan hasil rancangan batik tersebut. Pihak Pemprov sudah menyatakan siap membantu. Pihak Pemprov Sumbar juga mengusulkan untuk membuat hak paten dan hak cipta agar orang lain tidak semena-mena mengambil hasil karya yang sudah dibuat.

Menurut Mariani, pekerjaan yang dilakukannya, selain untuk mengembangkan ekonomi kreatif, juga untuk meningkatkan bakat seni. Mumpung banyak bahan alam yang bisa dikembangkan di Mentawai serta memiliki nilai jual bagi orang banyak, katanya.

Ke depan, ia sangat berharap hasil karyanya itu dapat berkembang dan mendapat dukungan pemerintah daerah. Seperti halnya pengrajin di Solo yang mempunyai fasilitas lengkap dan mampu merekrut tenaga-tenaga ahli dalam tulis batik serta bisa menampung banyak karyawan.

Ia juga menyatakan akan mencoba memenuhi permintaan pasar, baik di Mentawai sendiri maupun daerah lain di dalam dan luar provinsi Sumbar. Untuk itu, ia minta dukungan pemerintah daerah Mentawai dalam hal membuka peluang pasarnya.

Apalagi, pembuatan batik yang sedang dilakoninya itu bisa membuka lapangan kerja kepada masyarakat yang mempunyai bakat dalam pembuatan pakaian motif ciri khas Mentawai. Untuk membuat satu produksi pakaian batik mentah saja, membutuhkan tenaga minimal 3 orang. Sedangkan untuk produksi bahan yang sudah jadi membutuhkan tenaga 5 orang.

“Untuk sementara ini, kita hanya membutuhkan tenaga dari masyarakat setempat. Setelah dilakukan sosialisasi di pelosok Mentawai, hanya yang ada di Siberut saja yang mau,” ujarnya kepada padangmedia.com.

Jika batik, kaos dan kain pantai bermotifkan Mentawai tersebut dikenal orang, ia optimis Mentawai makin banyak dikunjungi oleh turis mancanegara. “Pecinta ombak Mentawai yang sering berkunjung setidaknya punya kain pantai motif Sikerei yang bisa dijadikan cindera mata,” katanya optimis. (ers/r)

Melda
By Melda Oktober 5, 2016 07:19
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*