Kawasan Industri Morowali Akan Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja

Febry Chaniago
By Febry Chaniago January 11, 2017 21:08
Menperin Airlangga Hartarto meninjau Kawasan Industri Morowali, Sulawesi, Rabu (11/1). (Kemenperin)

Menperin Airlangga Hartarto meninjau Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, Rabu (11/1). (Kemenperin)

JAKARTA – Kawasan Industri Morowali di Sulawesi Tengah akan mampu menyerap sedikitnya seratus ribu orang tenaga kerja. Lahan seluas 2 ribu hektar tersebut juga akan menarik investasi sebesar Rp78 triliun.

“Kawasan industri terpadu dengan lahan seluas 2.000 hektar tersebut akan menarik investasi sebesar Rp78 triliun dan menciptakan tenaga kerja langsung sebanyak 20 ribu orang, dan tidak langsung mencapai 80 ribu orang,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto saat meninjau Kawasan Industri Morowali, Rabu (11/1).

Dia mengatakan, penyerapan puluhan ribu tenaga kerja di kawasan yang dikelola oleh PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) itu akan terealisasi apabila pabrik stainless steel berkapasitas dua juta ton dan beberapa industri hilir lainnya telah beroperasi.

Airlangga menyebutkan, hingga Desember 2016, kebutuhan tenaga kerja pelaksana di kawasan industri ini mencapai 11.257 orang dan untuk tenaga kerja level supervisor atau engineer sebanyak 1.577 orang. Sementara itu, diproyeksikan pada tahap kedua periode tahun 2017-2020, penambahan kebutuhan tenaga kerja pelaksana mencapai 10.800 orang dan untuk tenaga kerja level supervisor atau engineer sebanyak 1.620 orang.

“Jumlah tersebut tentunya akan terus bertambah,” tegasnya.

Pemerintah Fokus Pemerataan Pengembangan Kawasan Industri

Dalam kesempatan itu, Airlangga menegaskan, Kementerian Perindustrian mendorong percepatan pembangunan kawasan industri tersebut bersama Kawasan Industri Konawe di Sulawesi Tenggara yang merupakan salah satu prioritas dalam program pengembangan industri logam.

Pengembangan kawasan industri di luar Pulau Jawa adalah dalam rangka pemerataan yang merupakan fokus agenda pemerintah tahun 2017 seperti arahan Presiden RI Joko Widodo.

“Kami terus memacu pembangunan kawasan industri di luar Pulau Jawa, termasuk di Morowali sebagai wujud implementasi arahan Bapak Presiden Joko Widodo untuk memfokuskan agenda pemerintah di tahun 2017 pada pemerataan,” katanya.

Menurutnya, Kemenperin memfasilitasi pengembangan 14 kawasan industri di luar Pulau Jawa. Hal itu adalah dalam upaya mengakselerasi cita-cita pemerintah untuk pemerataan industri dan melakukan pembangunan yang Indonesia sentris.

“Keberadaan industri-industri di kawasan ini akan memberikan multiplier effect bagi perekonomian daerah dan nasional sehingga mampu menyejahterakan masyarakat,” tuturnya.

Dia juga menyatakan, Kawasan Industri Morowali turut mendorong langkah pemerintah dalam program hilirisasi yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku mineral di dalam negeri.

“Oleh karena itu, di kawasan ini difokuskan pada pembangunan industri pengolahan dan pemurnian mineral logam atau smelter dengan bahan dasar nikel,” jelasnya.

Sejauh ini, lanjutnya, perkembangan pembangunan industri smelter nikel dan fasilitas pendukung lainnya di Kawasan Industri Morowali, antara lain telah beroperasinya industri smelter feronikel PT Sulawesi Mining Investment yang berkapasitas 300 ribu ton per tahun sejak Januari 2015.

“Pabrik ini didukung oleh satu unit PLTU dengan kapasitas 2×65 MW. Pada tahun 2015, perusahaan tersebut telah menghasilkan nickel pig iron (NPI) sebanyak 215.784,11 ton,” ujar Airlangga.

Selanjutnya, sejak Januari 2016, telah beroperasi industri smelter feronikel PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry dengan kapasitas 600 ribu ton per tahun dan didukung oleh satu unit PLTU berkapasitas 2×150 MW. Pada awal 2016, perusahaan mencatatkan produksi sebanyak 193.806 ton.

“Sebagai tahap lanjutan dari PT Indonesia Guang Ching Nickel and Stainless Steel Industry, saat ini juga telah dilakukan commissioning test pabrik stainless steel dengan kapasitas 1 juta ton per tahun,” ungkapnya.

Selain itu, terdapat pula industri smelter feronikel PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel dengan target kapasitas 600.000 ton per tahun dan stainless steel sebanyak 1 juta ton per tahun yang tahap pembangunannya saat ini mencapai 60 persen. PT. Indonesia Ruipu Nickel and Chrome yang merupakan smelter Chrome juga masih dalam tahap pembangunan dengan progres 60 persen dan diharapkan pada awal tahun 2018 pabrik ini dapat mulai berproduksi.

Industri smelter lainnya, yakni PT. Broly Nickel Industry Pabrik Hidrometalurgi dengan kapasitas 2.000 ton per tahun, yang akan dikembangkan menjadi 8 ribu ton per tahun nikel murni sedang dalam uji coba produksi. (feb/*)

Febry Chaniago
By Febry Chaniago January 11, 2017 21:08
Loading...
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...