Kapo Kapo, Pangsa Pesona Alam Surga

Febry Chaniago
By Febry Chaniago November 18, 2017 16:05

Pulau Kapo Kapo, salah satu lokasi dalam Kawasan Wisata Mandeh. Masuk dalam teritorial kenagarian Sungai Nyalo Mudiak Aia Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Pulau yang masih satu gugus dengan Pulau Cubadak yang sudah terkenal ini, masih asri dan alami.

Untuk menuju Kapo Kapo, ditempuh dengan perjalanan laut sekitar setengah jam, menumpang kapal bermesin tempel yang bisa disewa di ujung dermaga Carocok Tarusan. Kapal sudah tersedia dan bisa disewa dengan kisaran harga antara Rp600 ribu hingga Rp800 ribu.

Meskipun perjalanan laut, pengunjung tidak usah khawatir karena laut di dalam teluk Kawasan Mandeh tidak bergelombang, hanya riak-riak kecil. Satu kapal berkapasitas sekitar 16 penumpang. Operator kapal tidak mau melebihi muatan untuk menjaga keselamatan penumpang.

Dengan menelusuri muara, kapal bisa merapat di Pulau Kapo Kapo. Suasana alami terlihat kentara. Rumah penduduk dibangun seadanya, layaknya rumah penduduk di pinggir pantai. Pulau ini berpenduduk sekitar 120 orang, terdiri dari 22 keluarga yang tinggal di 18 unit rumah. Penduduk pulau ini berpencarian sebagai nelayan, disamping sebagai penyedia jasa layanan tamu yang datang.

Menurut Idris, salah seorang penduduk setempat, mereka telah tinggal di pulau itu sejak beberapa lama. Awalnya mereka semata-mata berpencarian sebagai nelayan tradisional, seperti memancing, nelayan pukat dan sebagainya.

“Sejak pulau ini mulai dikenal oleh masyarakat luar dan menjadi tujuan wisata, kami disini mulai bekerja menjadi penyedia jasa layanan wisata seperti penyewaan kapal, penginapan dan pemandu,” tuturnya.

Pulau ini menghadap ke laut lepas dengan Pulau Marak terpancang tepat di seberangnya. Pengunjung bisa bermain pasir dan ombak namun tidak mendukung untuk berenang apalagi surfing karena pantainya dangkal dan berkarang.

Di Pulau ini ada beberapa penginapan yang bisa disewa oleh pengunjung yang berniat untuk bermalam. Penginapan dibangun sederhana namun cukup nyaman untuk tempat beristirahat. Menurut Idris, ada sekitar sepuluh unit penginapan, diantaranya yang dimiliki dan dikelola warga dan ada juga yang sudah dikelola oleh investor lokal.

“Untuk harga sewa penginapan per kamar sekitar Rp400 sampai Rp450 ribu sementara untuk menyewa satu penginapan lengkap dengan ruang pertemuan dikenakan biaya sekitar Rp2,85 juta,” terangnya.

Untuk kebutuhan listrik, di rumah penduduk dan penginapan memanfaatkan sinar matahari melalui perangkat solar cell. Sedangkan kebutuhan air dipasok dari sumber air alami dari kawasan perbukitan.

Kendala yang masih dialami penduduk di pulau ini menurut Idris adalah jaringan telekomunikasi. Kondisi ini juga dikeluhkan oleh pengunjung. Belum satupun operator telepon seluler yang menempatkan tower di pulau tersebut.

“Disini tidak terjangkau jaringan seluler karena tidak ada tower. Ini menjadi kendala bagi masyarakat untuk berkomunikasi dan sering dikeluhkan pengunjung,” ujarnya.

Kelemahan lainnya, jaringan air bersih belum memadai karena pipa jaringan yang kecil. Ketika kebutuhan air meningkat karena banyak pengunjung, air yang mengalir melalui pipa jaringan tidak mencukupi.

Listrik pun masih menjadi kendala karena aki penyimpan arus dari solar cell kapasitasnya terbatas. Disamping itu usia maksimal penggunaan pun paling lama dua tahun. Harganya cukup mahal untuk ukuran ekonomi penduduk, sekitar Rp1,8 juta per unit.

Idris juga megeluhkan tenaga kebersihan. Menurutnya, dari pemerintah kecamatan ada menyediakan honorarium untuk dua orang tenaga kebersihan namun tidak ditempatkan di kampung Kapo Kapo.

“Ada dua tenaga kebersihan namun tidak ditempatkan disini, padahal yang membutuhkan adalah kampung ini,” keluhnya.

Untuk mengantisipasi kelemahan itu, tetua kampung terpaksa mengambil kebijakan mengutip uang masuk kepada pengunjung sebesar Rp5 ribu per pengunjung. Uang kutipan tersebut dikumpulkan dan dibayarkan kepada pemuda setempat yang menjadi relawan kebersihan.

“Kalau tidak dengan cara ini, kami tentu kewalahan mengatasi persoalan sampah yang ditinggalkan pengunjung,” lanjutnya.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Pesisir Selatan Wendra Rovikto menyebutkan, Pulau Kapo Kapo menjadi salah satu fokus pengembangan pariwisata Pemkab Pesisir Selatan. Secara bertahap, pemerintah daerah telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk pengembangan kawasan tersebut.

“Kawasan Kapo Kapo sangat nyaman untuk menginap menikmati suasana kehidupan laut. Pengunjung bisa berbaur dengan masyarakat setempat dan menikmati suasana kehidupan sehari-hari perkampungan pinggir pantai,” katanya.

Pengembangan pariwisata Kapo Kapo menurut Wendra lebih diutamakan kepada program pemberdayaan dengan terus mengupayakan meningkatkan pemamahan masyarakat. Pengunjung membutuhkan kenyamanan dan keramahan, jadi masyarakat di objek wisata harus memiliki pemahaman yang baik sehingga bisa menerima kehadiran wisatawan dengan ramah.

“Wisata akan maju kalau masyarakatnya ramah. Ini yang kita fokuskan dalam mengembangkan Kapo Kapo sebab pulau ini cocok untuk menginap,” terangnya.

Nama Pulau Kapo Kapo, konon menurut beberapa orang tua-tua memiliki arti kepalan- kepalan atau gundukan. Arti itu bisa diterima karena kondisi geografis pulau ini yang berada pada gundukan-gundukan bukit kecil, berjajar hingga ke Pulau Cubadak. Ada yang menyatu, ada juga pulau yang dipisahkan oleh muara-muara kecil.

Posisinya seperti menjadi pagar yang melingkari teluk Kawasan Mandeh. Sebelah timur ada dua pulau terpisah seperti menjadi gerbang Kawasan Mandeh menuju laut lepas yaitu Pulau Sironjong Gadang (besar) dan Sironjong Ketek (kecil). Sementara di sebelah barat, gugusan pulau dibatas oleh Muara Sungai Nyalo.

Pulau Kapo Kapo hanya sesudut keindahan Kawasan Mandeh yang telah meraih predikat surga tersembunyi (The Hidden Paradise) versi Anugerah Pariwisata Indonesia (API) tahun 2017. Berkeliling Kawasan Mandeh akan mendapat suguhan keindahan demi keindahan alam laut yang tiada tara. Kapo Kapo menjadi pangsa dari sejuta pesona alam surga.  (*)

Pebri D Chaniago
Wartawan Madya 9749

Redaktur Padang Media

Febry Chaniago
By Febry Chaniago November 18, 2017 16:05
Loading...
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...