Jurnalis Perempuan Harus Bisa Menerobos Isu-isu Gender

Melda
By Melda Februari 8, 2018 11:42

Related Articles

Wakil Ketua DPD RI, Darmayanti Lubis saat memberi sambutan dalam konferensi jurnalis perempuan Indonesia di Hotel Inna Muara, Padang, Rabu (7/2) malam. (zul)

PADANG – Dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di Sumatera Barat, Dewan Pers bersama Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) mengadakan konferensi perempuan se Indonesia sekaligus deklarasi FJPI di Hotel Inna Muara, Padang, Rabu (8/2) malam. Konferensi jurnalis perempuan Indonesia tersebut dihadiri Wakil Ketua DPD RI, Darmayanti Lubis, anggota DPD RI, Leonardy Harmainy, Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, mantan Ketua Dewan Pers, Bagir Manan, jurnalis senior Uni Lubis dan ratusan jurnalis perempuan se Indonesia.

Wakil Ketua DPD RI, Darmayanti Lubis dalam sambutannya pada kegiatan itu mengatakan, jurnalis atau media perempuan saat ini masih berkutat di arena kesetaraan dan bias gender. Padahal, isu-isu gender akan tetap ada dan mengalir sampai kapanpun.

“Kita harus bisa menerobos isu-isu itu dan bisa melangkah bersama dengan aktifis-aktifis lainnya. Bisa mempengaruhi masyarakat, peradaban, sosial politik, hukum dan lainnya. Itulah yang diharapkan,” kata senator asal Sumatera Utara itu.

Meski demikian, katanya, isu-isu bias gender tetap harus dikawal. Seperti perbedaan perlakuan terhadap buruh perempuan dibanding buruh laki-laki dalam hal upah. Atau, pelecehan di tempat kerja dan masalah lainnya.

Sementara, Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, mengatakan, media massa termasuk media perempuan, tak dipungkiri, tak bisa lepas dari kapitalisasi. Dari iklan-iklan sampai isi berita, perempuan kerap hanya menjadi objek. Media perempuan sendiri bahkan seperti masih melakukan pemitosan; perempuan cantik adalah yang tergambar dari penampilan fisik, hidung mancung, kulit putih dan lainnya.

Dari materi isi yang disajikan, dikesankan bahwa perempuan yang maju dan bisa disayang suami adalah yang bisa masak. Perempuan juga diajak memasuki dunia ramalan yang tak masuk akal lewat rubrik astrologi. Di berita selebritas, penuh hingar bingar kehidupan selebriti. Pembaca diajak ngerumpi kalangan atas yang tak ada hubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Jurnalis atau media perempuan jarang yang meliput sektor bawah karena dianggap bukan segmen pasar. Dari berita dan iklan-iklan, perempuan seperti tetap menjadi subordinasi laki-laki. Media perempuan malah tidak membantu pembaca untuk bagaimana hidup hemat dan sederhana, padahal itu yang dibutuhkan.

“Isinya kebanyakan ketakutan, takut tidak memikat lagi, kulit akan mengeriput, tak bisa memuaskan suami dan lain-lain,” ujarnya mengkritik.

Di sisi lain, jurnalis perempuan enggan masuk ke wilayah politik. Tokoh-tokoh pejuang politik jarang mendapatkan halaman dibanding misalnya aktifis HIV/AIDS, lingkungan dan lainnya. Bahkan, ketika politik sudah merambah isu gender pun, media perempuan seperti tidak peduli. Misalnya saat penolakan terhadap presiden dari perempuan.

“Inilah fakta yang terjadi saat ini dan harus menjadi perhatian,” kata Yosep. (rin)

Melda
By Melda Februari 8, 2018 11:42
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...