Gunung Padang dan “Letterblock” Padang Kota Tercinta

Febry Chaniago
By Febry Chaniago Desember 31, 2017 22:25

Dari atas Gunung Padang terlihatlah bentangan laut biru dengan garis batas ombak sepanjang pantai. Latar belakang Kota Padang dipagari Bukit Barisan yang terkadang berkabut seperti arsiran putih di atas lukisan alam. Sedangkan di balik sisi selatan gunung kecil penjaga gerbang Muaro itu terlihat di kejauhan Pantai Aia Manih dengan beberapa pulau di halamannya.

Sungguh pemandangan menakjubkan dari ketinggian yang belum banyak diketahui. Kendati namanya terbawa harum karena kisah Siti Nurbaya yang melegenda, tetapi masih jarang wisatawan yang berminat untuk mendaki sampai ke puncaknya.

Padahal, sekali mencoba mendaki ke Gunung Padang, tiga manfaat didapatkan, yaitu berolahraga, rekreasi sekaligus menghirup udara segar.

Saat menapaki tangga demi tangga, tubuh memanas dan berkeringat, kalori terbakar. Tetapi jangan salah, tubuh akan terasa lebih bugar saat itu. Terlebih setiba di puncak, tak ayal keletihan sirna karena terpukau pesona Kota Padang yang jelas membentang di hadapan hingga berbatas Bukit Barisan.

Hal ini yang dilakukan Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah bersama pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Sabtu (30/12/2017) pagi tadi. Mahyeldi juga mengajak isteri, anak dan menantu serta cucunya yang masih balita.

Setiba di puncak Gunung Padang, rombongan melepas penat sambil menikmati lontong sayur dan sebotol air mineral. Selepas itu berfoto-foto. Kemudian dalam suasana santai, Mahyeldi mengajak stafnya berdiskusi ringan terkait pengembangan pariwisata.

Baca juga  Warga Berok Gunung Pangilun Hibahkan Tanah Rp 1,8 M Untuk Jalan

Sebetulnya, ada yang menarik dan mulai hangat diperbincangkan publik akhir-akhir ini, yakni pembangunan hastag “Padang Kota Tercinta” di sisi puncak gunung itu.  Hastag  dengan  letterblock  raksasa yang sudah dibangun di puncak bukit Gunung Padang tak pelak belakangan menjadi perbincangan.

Selain kehadirannya membuat wajah gunung kecil itu semakin eksotis dan menggoda siapa saja pengunjung Pantai Padang yang melihatnya. Hal lain adalah besarnya uang yang digelontorkan Pemerintah Kota Padang untuk pembangunannya, sebesar Rp6,3 miliar.

Untuk tiga kata, “Padang Kota Tercinta” Pemko Padang mengeluarkan anggaran sebesar itu, tentu dengan alasan kuat. Sama dengan alasan membangun akses jalan Nipah – Pantai Aia Manih yang ternyata menyedot kunjungan luar biasa karena kemudahan akses jalan. Kehadiran hastag Padang Kota Tercinta juga guna memberikan sentuhan menarik di kawasan yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Wisata Terpadu Gunung Padang.

Tiga kata tersebut dibuat dengan ukuran 10 meter untuk kata ‘Padang’ dan 5 meter untuk kata ‘Kota Tercinta’nya, serta memiliki total berat 75 ton dari bahan baja dan lembaran acrylic berkualitas terbaik.

Kendati ada pihak menilai biaya pembangunan tersebut fantastis, namun Mahyeldi meyatakan biaya tersebut terbilang wajar. Sebab medan jalan yang ditempuh oleh pekerja ke lokasi pembuatan tulisan itu cukup sulit, sedangkan pengerjaannya tidak boleh asal agar hasilnya juga tidak asal-asalan.

Baca juga  Libur Lebaran, Karang Butun Lokasi Menantang Untuk Petualang

“Wajar saja, apalagi sekarang kita memang fokus untuk pengembangan pariwisata,” katanya.

Bagi dia, pariwisata memiliki prospek yang bagus untuk meningkatkan ekonomi daerah. Dengan adanya sentuhan menarik tentu akan memancing investasi dalam penhembangan pariwisata tersebut.

“Jadi ini pemancing, kita berbuat dahulu setelah itu pasti investor mempertimbangkan untuk berinvestasi,” sebutnya.

Hastag ini nantinya tidak hanya terlihat di siang hari, tetapi pada saat malam hari juga akan lebih mencolok karena dilengkapi lampu LED (Light Emitting Diode).

Tidak sebatas itu, Pemko Padang juga akan lebih mengembangkan KWT Gunung Padang dengan perencanaan yang telah disiapkan. “Semua memang tidak bisa mengandalkan keuangan daerah. Harus ada investor,” ujar Mahyeldi.

Cerita tentang Gunung Padang tidak akan ada habisnya karena banyak hal menarik dan unik yang disimpannya. Cerita demi cerita pasti menjadi nyata apabila itikad-itikad baik dari seluruh warga serta pemimpinnya tidak berhenti pada kepentingan sesaat saja. Wassalam.(Derius Utama)

Febry Chaniago
By Febry Chaniago Desember 31, 2017 22:25
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Tinggalkan Balasan