Festival Panah Tradisional Memperkokoh Kesatuan Masyarakat Mentawai

Melda
By Melda July 29, 2017 20:47

festival panah

SIBERUT – Festival panah tradisional merupakan salah satu program pengembangan dan pemasaran pariwisata pada Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) kabupaten kepulauan mentawai.

Kepala Disparpora Mentawai, Desti Seminora menyebutkan, Kegiatan Festival panah tradisional ini pertama kali dilaksnakan di bumi sikerei. Dimana kegiatan tersebut juga merupakan rangkaian festival pesona Mentawai 2017, yang akan diselenggarakan di tuapeijat pada bulan oktober mendatang tepatnya pada hari HUT kabupaten, ucapnya kepada padangmedia.com, Jumat (28/7).

Dikatakan, penyelenggaraan kegiatan festival pesona ini di bagi menjadi tiga event yaitu, Festival Panah Tradisional dilaksanakan di Desa Muntei, Festival Muanggau (Kepiting) endemik mentawai yang akan dilaksanakan dituapeijat dan Festival Pesona Mentawai yang merupakan puncak kegiatan yang di laksanakan di kabupaten kepulauan mentawai.

Pemilihan Desa Muntei sebagai lokasi festival panah tradisional, kata Desti bukanlah sesuatu yang tidak dipertimbangkan karena Desa tersebut layak menjadi tempat pelaksanaan perlombaan panahan dari berbagai aspek diantaranya, masih terdapatnya aktifitas budaya, masih berdirinya beberapa UMA (rumah adat mentawai) yang menjadi pusat kehidupan orang mentawai. Desa Muntei masyarakat atau pengunjung bisa melihat sikerei dalam melakukan pengobatan tradisional pada orang sakit termasuk aktivitas ritual lainnya.

Upaya kedepan, jelas Desti melestarikan aktivitas budaya di desa-desa yang ada dikabupaten kepulauan mentawai, karena semakin lama semakin hilang, hal tersebut perlu pelestarian budaya secara continiu serta berkelanjutan.

Aktivitas memanah di bumi sikerei, anak-anak lelaki mentawai biasanya melakukan aktivitas sehari-hari untuk berburu, namun sekarang ini aktivitas memanah anak-anak dimentawai tidak lagi ditemukan, oleh karena itu, ucap Desti inilah tujuan kegiatan Festival Panah tradisional dilaksnakan guna upaya pelestarian nilai-nilai budaya yang dimiliki oleh mayarakat bumi sikerei.

Menurutnya, Desa muntei akan dijadikan tempat lokasi desa wisata tematik, bahwa mentawai itu memiliki keunikan budaya seperti tato yang tertua didunia, namun sekarang generasi muda mentawai tidak lagi mau bertato, adapun yang bertato tapi sedikit, jadi desa muntei ini dijadikan desa yang berbasis pada nilai-nilai budaya yang dimiliki mayarakat muntei sendiri.

Lebih lanjut, dikatakan Desti Mentawai memiliki keunikan budaya sebenarnya kekayaan bernilai yang dimiliki masyarakat bumi sikerei. Memanah merupakan salah satu aktivitas sehari-hari orang mentawai yang menjadi unsur budaya dan dapat digolongkan sebagai salah satu daya tarik wisata serta masih banyak lagi aktivitas lain menjadi nilai budaya mentawai, terangnya.

Pelaksanaan kegiatan panahan ini, Desti jelaskan awalnya dilakukan sosialisasi kepada masyarakat bahwa akan di diselenggarakan Festival panah tradisional di desa muntei dan masyarakat setempat sangat antusias serta tidak sulit mengajak para sikerei dan warga untuk mendukung kegiatan tersebut dan juga warga mendirikan stand.

Ia mengatakan, Festival panah yang diselenggarakan peserta hanya menerima 100 orang pemanah, karena mengingat waktu hanya tiga hari dan tidak bisa terkejar kalau melebihi banyak peserta yang ikut dan peserta tidak bisa ikut akan menjadi peserta eksebisi.

Kedepan dengan kegiatan yang sama diupayakan tidak dibatasi peserta yang ikut, namun pelaksnaannya akan ditambah waktu lebih panjang. Festival panah tradisional menjadi suku eksitensi mentawai dan memperkokoh kesatuan orang mentawai, sehingga kebanggaan para generasi muda mentawai semakin meningkat, (ers)

Loading...
Melda
By Melda July 29, 2017 20:47
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...