Festival Muanggau Mentawai, Salah Satu Budaya Unik di Dunia

Melda
By Melda September 6, 2017 08:14
Kepala Disparpora Mentawai, Desti Seminora Sababalat. (ers)

Kepala Disparpora Mentawai, Desti Seminora Sababalat. (ers)

MENTAWAI – Aktivitas mencari anggau (kepiting endemik) di Mentawai merupakan salah satu budaya unik di belahan Nusantara Indonesia, bahkan dunia. Hanya dilakukan masyarakat Bumi Sikerei sekali dalam satu tahun pada saat bulan purnama muncul yang penentuan bulan datangnya berdasarkan ketentuan hitungan dalam kalender.

Budaya unik mencari kepiting endemik tersebut merupakan momen yang sudah cukup lama berlangsung di empat pulau besar di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Namun, banyak hal yang belum diketahui oleh masyarakat luar, karena aktivitas mencari anggau ini hanya dikonsumsi warga lokal.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Mentawai, Desti Seminora Sababalat menyebutkan, Festival Muanggau yang dilaksanakan saat ini merupakan rangkaian kegiatan pesona Mentawai yang akan diselenggarakan pada bulan Oktober 2017.

“Pada intinya, festival lomba Muanggau sebagai terobosan dari Disparpora Mentawai yang bertujuan melestarikan keunikan nilai-nilai budaya yang ada di Bumi Sikerei, sehingga aktivitas Muanggau bisa dikenal masyarakat luar dan tidak menjadi asumsi negatif yang beredar di dunia luar,” ucapnya saat memberikan sambutan di Mapaddegat, Selasa (5/9) malam.

Dikatakan, aktivitas mencari anggau adalah momen sekali dalam satu tahun bagi orang Mentawai untuk mencari kebutuhan hidup mereka di kala musim badai. Karena, dalam bulan tersebut, rata-rata cuaca sangat ekstrim, sehingga aktivitas mencari ikanpun tidak bisa dilakukan. Itulah salah satu alternatif orang Mentawai mencari anggau untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pelaksanaan festival lomba Muanggau, kata Desti Seminora, diikuti 61 peserta kelompok. Setiap kelompok diambil per keluarga, dimana masing-masing keluarga tiga orang peserta yang sudah dilengkapi dengan peralatan seperti lalap-lap (penjepit kepiting dari bambu), opah (tempat letak kepiting) serta dilengkapi dengan obornya.

Ia mengatakan, tak kalah penting dari festival ini, ternyata peserta masih ada yang memiliki opah yang sudah berumur lebih 25 tahun. Hal tersebut merupakan benda budaya yang dimiliki masyarakat Kabupaten Kepulauan Mentawai yang masih terjaga kelestariannya.

Selain itu, tujuan dilaksanakan event itu diangkat dari aktivitas sehari – hari masyarakat Bumi Sikerei dalam mencari anggau saat bulan purnama muncul. Penentuan bulan datangnya kepiting endemik itu berdasarkan ketentuan hitungan dalam kalender.

Ia menambahkan, Festival Muanggau notabenenya adalah untuk mengangkat nilai-nilai budaya serta melestarikan kearifan lokal yang ada di Mentawai, termasuk juga kegiatan festival lainnya yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Dengan demikian, budaya dan tradisi tidak habis terkikis begitu saja walaupun di era zaman mordenisasi saat ini, tukasnya. (ers)

Loading...
Melda
By Melda September 6, 2017 08:14
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

PR NEWSWIRE

Loading...