Festival Bambu, Awal Pengembangan Pariwisata di Pinggir Batang Tarusan

Melda
By Melda November 29, 2016 14:28
nanggalo

Festival Bambu di Naggari Nanggalo Tarusan. (der)

PADANG – Ternyata, ada sudut yang indah di Kecamatan Koto XI Tarusan selain Mandeh, yakni Nagari Nanggalo. Di sana, terdapat aliran sungai Batang Tarusan dengan pemandangan latar bukit nan elok yang memiliki potensi besar untuk pengembangan ekowisata.

Keindahan tepian Sungai Batang Tarusan itu tak ayal membuat takjub ribuan orang yang hadir menyaksikan rangkaian pagelaran bertajuk Tarusan River Bamboo Festival yang diusung anak nagari setempat, Minggu (27/11). Tidak kurang dari Mantan Menteri PPN/Bappenas Andrinof Chaniago, “First Lady” Kabupaten Pesisir Selatan Ny. Lisda Hendra Joni, “Profesor Bambu” Masto Setyanto dan rombongan dari negara jiran Malaysia serta stakeholder lainnya turut hadir dan memberikan apresiasi.

Tokoh yang telah memperkarsai perencanaan Kawasan Wisata Bahari Terpadu (KWBT) Mandeh, Andrinof Chaniago menyampaikan kekagumannya. Bukan saja karena keindahan alam Nagari Nanggalo, akan tetapi karena antusiasme masyarakat untuk membangun kampung tidak kalah mengagumkan  karena mampu mengadakan acara yang mendatangkan banyak orang dan berpartisipasi dalam menanam pohon bambu.

“Saya tidak menyangka, jika di sebuah sudut Nagari Nanggalo ada tempat yang indah seperti ini. Padahal Nagari Nanggalo sering kita lalui untuk menuju kawasan Mandeh,” kata Andrinof.

Ia berjanji akan mendukung putra-putri Nanggalo dalam pengembangan kawasan itu menjadi objek baru seiring dengan berkembangnya KWBT Mandeh. Menurutnya, Nagari Nanggalo adalah gerbang KWBT Mandeh dan menjadi penyangga utama kawasan tersebut.

“Wisatawan yang ke Mandeh pertama datang pasti ke Nanggalo. Manfaatkan ini untuk pengembangan wisata Nanggalo dengan menyediakan homestay yang refresentatif dan kuliner-kuliner khas yang diburu wisatawan,” sebutnya.

Ny. Lisda Hendra Joni juga menyebut hal senada. Istri Bupati Pesisir Selatan ini mengatakan, Tarusan adalah tujuan pertama wisatawan ke Pesisir Selatan sedangkan Nagari Nanggalo adalah pusatnya.

“Mari kita bangun wisata Nagari Nanggalo untuk memajukan ekonomi masyarakat. Biarlah pembangunan infrastruktur menjadi urusan pemerintah. Membangun budaya yang ramah dan melayani pengunjung adalah lebih penting,” ujarnya.

Adapun Festival Tarusan River Bamboo Festival yang berlangsung sejak 27 sampai dengan 28 November ini diprakarsai tokoh Bundo Kanduang Nagari Nanggalo, Nerosti Adnan. Selama hampir tiga bulan, Pengajar pada Jurusan Tari Universitas Negeri Padang (UNP) ini mempersiapkan perhelatan tersebut. Bersama penggiat ekowisata Nanggalo dan melibatkan mahasiswa UNP di bawah bimbingannya, wanita yang aktif di kesenian itu juga menggerakkan komunitas seni lokal untuk ambil bagian dalam event tersebut.

Tidak tanggung-tangung, Nerosti yang pernah berpengalaman mengajar dan sekolah di Malaysia dan sudah tentu memiliki pergaulan luas di negara jiran itu sehingga rombongan mahasiswa dari Sultan Idris University Malaysia bisa diboyongnya ke Nanggalo.

Nerosti yang akrab disapa Andah Neng ini mengatakan, festival yang digelar hari ini adalah sebagai langkah awal untuk membangkitkan semangat masyarakat. Dengan demikian, masyarakat “melek” tentang potensi yang dimiliki yakni keindahan alamiah sungai, gunung dan budaya serta kearifan lokal.

“Semua itu adalah anugrah yang tidak ternilai. Kita syukuri anugerah itu dengan bersama menggali potensi Nagari Nanggalo untuk pengembangan pariwisata,” kata Andah Neng.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, untuk itu ia  mencoba berkonsultasi dengan beberapa pakar terkait pariwisata dan pengembangan tanaman bambu sebagai ikon sekaligus untuk mengatasi abrasi sungai yang kerap melanda kawasan itu.

“Kami berkonsultasi dengan pakar, ternyata tanaman bambu sangat cocok untuk ditanam di sepanjang aliran Batang Tarusan,” katanya.

Untuk penanaman bambu, pada rangkaian Festival Bambu Batang Tarusan ini juga dilakukan bersama pakar bambu, Prof. Mastok Setyanto. Sebanyak seribu pohon bambu ditanam bersama warga dan mengedukasi anak-anak untuk menanam sekaligus merawat pohonnya.

“Kita tanam sekarang, akan kita rasakan manfaatnya tiga atau lima tahun yang akan datang. Tanaman bambu berguna untuk penahan tebing, dan banyak manfaat dari bambu yang dapat dikembangkan lagi,” kata Mastok.

Ia mengatakan, bambu muda atau rebung, dapat dikonsumsi sebagai sayur dan mengandung nutrisi tinggi dan bermanfaat. Begitu juga dengan bambu yang tua, bisa diolah untuk kerajinan dan menghasilkan berbagai produk.

“Di kawasan Batang Tarusan terlihat sangat subur dan cocok untuk tanaman bambu. Saya yakin bambu akan tubuh baik disini asalkan dipelihara bersama,” imbuhnya. (der)

Melda
By Melda November 29, 2016 14:28
Loading...
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...