Dilematika Aborsi vs Hak Hidup Janin

Melda
By Melda Juli 13, 2017 09:34

Oleh : Dokter Chandra

Dokter Chandra, Spesialis Kebidanan dan Kandungan RSUD Kabupaten Kepulauan Mentawai. (ers)

Dokter Chandra, Spesialis Kebidanan dan Kandungan RSUD Kabupaten Kepulauan Mentawai. (ers)

Sepasang suami istri datang ke ruang praktek di Poliklinik RSUD Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan nada cemas. Wanita itu bercerita kalau dia mengalami perdarahan dari jalan lahir. Wanita tersebut sudah melakukan kunjungan pemeriksaan kehamilan yang ke dua kalinya.

Saat kunjungan pertama, pasien itu memang sudah mengharapkan untuk diaborsi kehamilannya karena ia khawatir anaknya akan mengalami cacat bila terus dilanjutkan kehamilannya. Ia beralasan sebelumnya suka minum alkohol.

Hasil pemeriksaan kehamilan saat kunjungan yang pertama diperoleh kalau kehamilan sesuai perkembangan yang normal. Tampak kantong kehamilan dengan janin yang hidup. Demikian juga saat pemeriksaan yang kedua, kehamilannya terlihat normal dengan kondisi janin yang baik sesuai umur kehamilan.

Selama pemeriksaan, tampak raut suami yang mendampingi hanya terdiam. Sedangkan sang istri kelihatan cemas dan gusar. Sebagai dokter, saya merasa aneh kenapa mereka tidak bahagia saat dikatakan kondisi bayinya baik dan kehamilannya dapat dilanjutkan meski mengalami perdarahan.

Saya pun meminta wanita itu dirawat inap agar mendapat obat untuk mempertahankan kehamilan dan mencegah perdarahan. Tetapi, permintaan itu ditolak dengan berbagai alasan. Pasangan itu bersikeras agar kehamilannya di aborsi saja. Berbagai dasar ilmiah dan hukum dijelaskan mengenai larangan mengaborsi kehamilan yang normal, tapi pasien tetap memohon agar kehamilannya di aborsi saja.

Dalam keyakinan agama saya serta berbagai aturan yang berlaku di Indonesia, termasuk sumpah profesi dengan menyebut nama Allah SWT yang diucapkan saat menjadi dokter, kita harus menghormati dan menjaga kehidupan sejak dalam rahim. Tidak mudah untuk membuat keputusan melakukan suatu aborsi. Harus ada dasar-dasar yang kuat untuk melakukan tindakan aborsi medis secara legal. Tindakan aborsi juga memiliki risiko meskipun dilakukan secara lege artis. Dan akhirnya, pasien itupun pulang dengan rasa kecewa yang tampak dari ekspresinya.

Tapi mungkin masalah itu tidak selesai begitu saja. Biasanya dari pengalaman yang lalu, pasien yang menghendaki melakukan aborsi dengan berbagai alasan akan mencoba berbagai cara agar bisa melakukan aborsi. Bisa saja dia akan mencari orang-orang yang dianggap bisa melakukan aborsi tanpa peduli risiko yang bisa terjadi.

Tidak sedikit wanita yang meninggal karena perdarahan dan infeksi saat melakukan aborsi illegal. Saya pun cemas, jika nantinya pasien itu akan datang lagi, tapi sudah dalam kondisi perdarahan hebat atau infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh. Ngeri rasanya membayangkannya.

Semoga kasus ini jadi pelajaran semua wanita. Kalau belum siap hamil, ya jangan melakukan hubungan seksual. Semua metode kontrasepsi itu dibuat untuk mengatur kehamilan. Meski demikian, tidak ada metode kontrasepsi yang 100% mampu mencegah kehamilan. Pasien yang sudah dilakukan MOW (sterilisasi) saja masih bisa hamil. (*)

Melda
By Melda Juli 13, 2017 09:34
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

loading...
loading...
loading...