Cerita Dibalik Kebakaran Pabrik Petasan Kosambi, Pekerja Di Bawah Umur dan Sistem Kerja Digembok

Melda
By Melda October 27, 2017 08:14

Kebakaran di pabrik petasan. (foto: net)

JAKARTA – Peristiwa kebakaran di pabrik kembang api dan petasan di Kosambi Kabupaten Tangerang yang terjadi, Kamis (26/10) sekitar pukul 09.00 WIB meninggalkan cerita pilu. Peristiwa tersebut menyebabkan 47 korban tewas dalan kondisi hangus terbakar dan puluhan lainnya luka-luka.

Kebakaran yang menyorot perhatian dunia itupun meninggalkan sejumlah cerita, mulai dari perusahaan yang mempekerjakan pekerja di bawah umur hingga sistem kerja digembok sehingga banyak pekerja yang tidak bisa keluar dan terbakar hidup-hidup.

Sang pemilik pabrik PT Panca Buana Cahaya Sukses, Indra Liyono (40) sejak Kamis (26/10) malam hingga pagi ini, Jumat (27/10) masih diperiksa polisi di Polsek Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Pemilik saat kejadian sedang berada di Malaysia. Begitu sampai di Bandara Soekarno-Hatta, ia langsung ke Polsek Teluk Naga sehingga belum sempat melihat korban. Ia sampai di Mapolsek sekitar pukul 22.00 WIB.

Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Harry Kurniawan menyebutkan, penyebab ledakan pabrik petasan di Kosambi belum dapat dipastikan karena masih menunggu tim Pusat Laboratorium Forensik. Namun kebakaran terjadi mulai dari tempat penjemuran kembang api.

Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar seperti dilansir dari detik.com menyebut, korban yang dirawat RSU Tangerang berusia 15-16 tahun. Padahal, berdasarkan UU Ketenagakerjaan, perusahaan dilarang mempekerjakan anak di bawah umur. Zaki mengakui kesulitan mengawasi pabrik karena banyaknya pabrik di daerah tersebut. Terkait dugaan pekerja di bawah umur tersebut, Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) akan melakukan penyelidikan.

Sementara itu, terkait dugaan pabrik yang digembok tersebut diungkapkan oleh salah seorang keluarga korban. Seorang warga bernama Toni mengaku anaknya Leha (23) ikut jadi korban dalam peristiwa itu. Leha itulah yang bercerita kalau di sana sistem karyawan bekerja digembok. Setelah istirahat baru dibuka.

“Saat kebakaran dikepung api. Banyak yang jatuh. Ada yang terinjak-injak. Masing-masing pada menyelamatkan diri. Mau keluar harus ke mana mereka bingung, karena pabrik digembok,” cerita Toni seperti dikutip dari detik.com.

Terkait hal itu, Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) juga akan turun tangan menyelidikinya. Namun, Wakapola Metro Jaya Brigjen Purwadi membantah pintu depan digembok. Menurutnya, yang terjadi adalah api di dekat pintu depan semakin besar sehingga menyulitkan korban untuk keluar. (rin/*)

Melda
By Melda October 27, 2017 08:14
Loading...
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...