Belasan Tahun Mengabdi, Nasib Masih Tak Pasti

Febry Chaniago
By Febry Chaniago November 25, 2017 12:23

PADANG – Tutur kata yang meluncur dari bibir Ibu Guru yang sudah tidak muda ini seakan mengiris menyayat hati. Dengan suara bergetar menahan isak pilu, dia menceritakan kisahnya menjalankan tugas mulia mendidik generasi bangsa di sekolah tempatnya mengabdi selama belasan tahun.

Yulmiati, satu dari sekitar enam ribuan guru honorer di Sumatera Barat bersama belasan orang perwakilan guru honor yang masuk kategori dua (K2) datang mengadukan nasib ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Barat, pekan lalu. Dengan suara bergetar, dia menceritakan bagaimana nasibnya selama belasan tahun mengabdi namun nasibnya masih belum pasti.

“Sejak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di kampung saya di Lintau Kabupaten Tanahdatar berdiri tahun 2000, saya sudah membantu mengajar di sekolah itu sebagai guru honorer,” tutur Yulmiati di hadapan ketua dan anggota Komisi V DPRD Provinsi Sumatera Barat yang menerima kedatangan mereka.

Dia menceritakan, sejak awal sekolahnya berdiri, dia diminta oleh kepala sekolah untuk membantu mengajar. Karena memang, Yulmiati lulusan sebuah perguruan tinggi ilmu kependidikan. Hitung-hitung mengabdikan ilmu yang didapat untuk memajukan kampung halaman, dia tidak menolak tawaran tersebut.

Tugas mengajar dan mendidik anak-anak pun dijalani Yulmiati dengan penuh tanggungjawab. Hingga saat ini lulusan SMKN Lintau sudah banyak yang berhasil, Yulmiati tetap mengajar di sekolah tersebut.

“Alhamdulillah, lulusan sekolah saya sudah banyak yang berhasil, bahkan ada yang sudah menjadi pegawai negeri juga serta berbagai profesi lainnya,” ceritanya.

Ada kebanggaan tersirat dari raut wajah guru berusia sekitar 4o tahunan ini mendapati anak-anak didiknya telah “menjadi orang”. Mengetahui siswanya berhasil seperti terobati jerih payahnya mendidik selama ini.

Namun, dibalik semua itu masih tersimpan kegalauan yang entah kepada siapa lagi dia kadukan. Ketika anak-anak didiknya sempat bertemu dan bertanya tentang statusnya yang masih guru honorer, disitu dia merasa sedih.

“Anak-anak didik saya sudah ada yang jadi dokter, jadi guru, wiraswasta yang sukses dan sebagainya. Tapi mereka juga prihatin saya masih berstatus guru honor,” ujarnya lirih.

Yulmiati hanya salah satu dari sekitar enam ribuan orang tenaga honorer K2 tenaga pendidik di Sumatera Barat yang masih menunggu kejelasan status. Menurut Ketua Forum Guru Honorer K2 Sumatera Barat Abuzar, data yang sudah tercatat saat ini ada 6.437 orang guru honor dari 18 kabupaten dan kota.

“Khusus untuk Kabupaten Kepulauan Mentawai saat ini baru tercatat sekitar 205 orang, karena data lengkapnya belum diperoleh,” terangnya.

Menurutnya, guru honorer tersebut rata-rata telah bertugas belasan tahun. Sebagian ada yang sudah mendapat sertifikasi namun ada juga yang kesulitan untuk sertifikasi dengan berbagai sebab. Salah satunya karena tidak mendapatkan surat dari pemerintah daerah. Hal ini disebabkan kebijakan moratorium penerimaan pegawai dari Kementerian Dalam Negeri.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sumatera Barat Zainal Akil berharap, momen peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun ini, guru honorer mendapat kabar baik dari pemerintah. Dia berharap pemerintah mencabut kebijakan moratorium tersebut dan mengutamakan tenaga guru honor yang telah mengabdi belasan tahun untuk diangkat sebagai PNS. Selain itu, para guru honor tersebut juga dipermudah dalam mendapatkan persyaratan untuk mendapatkan sertifikasi.

Semoga, Peringatan HGN yang jatuh setiap tanggal 25 November dan ke 72 tahun ini, nasib Guru Honorer di Sumatera Barat dan umumnya di Indonesia mendapat kejelasan dari pemerintah. Dengan mendapat kepastian, semoga saja kualitas pendidikan Indonesia semakin meningkat, anak-anak bangsa semakin cerdas dan negara semakin maju. Semoga!

Pebri D Chaniago

Wartawan Madya 9749

Febry Chaniago
By Febry Chaniago November 25, 2017 12:23
Loading...
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...