Amai Setia Koto Gadang, Pusat Kerajinan Pertama di Minangkabau

Melda
By Melda Februari 12, 2018 08:12

Related Articles

HUT Yayasan Amai Setia ke 107. (fajar)

AGAM – Yayasan Kerajinan Amai Setia, Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam merupakan yayasan tertua di Minangkabau. Bahkan, sampai saat ini kerajinan Amai Setia berkembang pesat di tengah masyarakat.

“Pemerintah, khususnya Kabupaten Agam memberikan dukungan sepenuhnya kepada Yayasan Amai Setia. Bukan saja di Agam, bahkan di Sumatera Barat Kerajinan Amai Setia merupakan yayasan tertua,” kata Sekda Agam, Drs. H. Martias Wanto Dt Maruhun saat menghadiri Hari Ulang Tahun (HUT) Kerajinan Amai Setia ke-107, di rumah Kerajinan Amai Setia, Minggu (11/2).

Dengan demikian, Agam menumpangkan harapan keberlanjutan Yayasan Amai Setia itu. Karena, yayasan tersebut dibentuk wartawati pertama di negeri ini, yaitu Roehana Koedoes tahun 1911. Dan, di yayasan itulah diadakan pelatihan menulis, bordir, kerajinan perak, dan lainnya, terutama diarahkan kepada kaum wanita.

“Bahkan, pada saat itu, pergerakan wanita sangat terbatas, karena daerah kita masih daerah penjajahan. Sampai saat ini Kerajinan Amai Setia berkembang pesat dan sangat terkenal,” katanya.

Para muridnya banyak yang berkembang. Hebatnya, saat itu Amai Setia tidak hanya proses memberikan keterampilan, tetapi juga sudah dimenej dengan modern. “Dengan usia 107 tahun, diharapkan fungsi dari melakukan pelatihan, dan pendidikan tetap berkembang,” harap Martias Wanto.

Selain itu, Pemkab Agam bakal membantu memasarkan produknya melalui Disperindag Kop UKM serta ivent kepariwisataan dan lainnya, agar disebarluaskan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

Sementara itu, Wakil Ketua Dekranasda Provinsi Sumatera Barat, Wartawati Nasrul Abit menyebutkan, Yayasan Amai Setia mungkin yang pertama diwujudkan di Sumatera Barat, di mana pencetusnya memiliki ide yang mengakomodir kerajinan di Sumbar.

“Kami mengapresiasi Pemkab Agam yang sudah bersama-sama membesarkan kerajinan yang ada di Agam, khususnya Amai Setia, yang di prakarsai salah seorang perempuan, juga wartawati pertama di negeri ini, yaitu Roehana Koedoes,” ujarnya.

Dikatakannya, usia Yayasan Amai Setia sudah 107 tahun. Berbagai macam kendala tentu sudah dirasakan dan sampai saat ini masih eksis. Bahkan, ilmu yang diprakarsai sudah banyak ditransfer kepada pengrajin UKM di Sumbar.

“Sulaman Koto Gadang sudah banyak beredar. Tetapi, siapapun yang membuat, namanya tetap sulaman Koto Gadang,” jelasnya.

Lebih lanjut Wartawati menyebutkan, pemerintah daerah harus membuat keunggulan masing-masing, seperti di Koto Gadang pengrajinnya sudah agak menurun, sedangkan pesanan sangat banyak. “Kita sudah coba bicarakan hal itu dengan Ketua Dekranasda Sumbar dan sudah dimasukkan ke kurikulum sekolah untuk memulai pengrajin perak,” katanya.

“Kita berharap, pengrajin perak tetap dilestarikan. Kalau selendang kita sudah tidak ragu lagi, dan sudah menjadi kebanggaan bagi negeri ini,” tandasnya. (fajar)

Melda
By Melda Februari 12, 2018 08:12
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Loading...