Terbetik
- Unggul 2:1 Atas SMA 2 Bukittinggi, SMA 1 Solok Raih ...Senin, 20 Mei 2013 22:53 wib
- Kompor Sambar Bensin, 1 Rumah Terbakar di GatesSenin, 20 Mei 2013 22:18 wib
- SMA I Tilkam Persiapkan Diri Jadi Anggota PMRSenin, 20 Mei 2013 21:35 wib
- Korban Longsor Kampung Dadok Agam Pertanyakan Pembangunan ...Senin, 20 Mei 2013 20:57 wib
- Tamatan SMK di Padang Dilirik Dunia Usaha MalaysiaSenin, 20 Mei 2013 20:06 wib
- Ini Dia Camat Terbaik Tingkat Kota Padang Tahun 2013Senin, 20 Mei 2013 19:32 wib
-
Selain Nabila, Wisnu Mengaku Menghabisi Yanti
Bukittinggi – Tulang belulang manusia ditemukan sekitar 500 meter dari jalan raya dalam semak di daerah Banda Munggu, Jorong Gantiang, Nagari ... baca selengkapnya »
Komentar
Yuliana Oriza Sativa
Memanen Labu untuk Membangun Nagari
Yuliana Oriza SativaBerkali-kali gagal panen, kondisi ekonomi petani cabe di nagari Matua (Matur) kabupaten Agam mulai terpuruk. Sementara 85 persen sumber kehidupan di nagari yang sejuk ini adalah bertani. “Tahun 2005, kondisi petani kita benar-benar terpuruk. Dimana-mana panen cabe rusak. Setiap ditanam, tak ada yang jadi. Berangsur-angsur ternak yang dimiliki petani habis terjual. Saya sangat prihatin,” ungkap Yuliana Oriza Sativa, kepada padangmedia.com.
Keprihatinan itu membuatnya bertekad untuk melakukan sesuatu. Tapi apa? Lama ia berpikir, merenung dan mengamati. Kala itu, Yuliana, yang akrab disapa Lin, berjualan kacang goreng. Kacang goreng adalah kudapan andalan dari daerah Matua, karena kacang tanah dari daerah itu berkualitas bagus. Di pinggir jalan raya Matua, dari Bukittinggi menuju objek wisata Embun Pagi, rumah-rumah penduduk dan warung-warung, terlihat menjual kacang goreng.
Selain kacang tanah, nagari Matua juga memiliki labu yang juga berkualitas baik. Tanaman labu, tumbuhnya sangat mudah di Matua. Karena mudahnya, nyaris di belakang setiap rumah ada labu, meski tak pernah ditanam dengan sengaja. “Allah memberikan sedikit surganya di Matua melalui labu. Luar biasa. Labu di sini tak perlu ditanam. Dimana ada bijinya tercampak, ia langsung tumbuh. Kalau misalnya, lantai jubin kita pecah, ada biji labu terjatuh di atas pecahan itu, tidak lama kemudian labu akan tumbuh. Ia hidup dengan baik sampai buahnya besar. Saya pikir, ini adalah anugrah Tuhan,” cerita Lin.
Lagi pula, ketika suatu kali ia sempat memperhatikan tanaman labu, batangnya hanya kecil, sedangkan buahnya sangat besar. Kenapa batang yang kecil itu mampu menyangga buahnya yang besar. Tanaman itu tumbuh menjalar hingga jauh, memanjat tembok yang menghalang di depannya dan kembali merambat. Lalu, kenapa ia begitu kokoh menahan buah-buahnya. Dibandingkan dengan pohon beringin yang sangat besar, buahnya malah kecil-kecil sebesar kelereng. “Saya tak henti-hentinya berpikir. Kenapa labu begitu banyak di Matua. Kenapa batangnya begitu kokoh? Ini benar-benar luar biasa. Saya yakin, ada tangan Tuhan di dalamnya. Pasti Tuhan mempunyai maksud dibalik semua itu. Saya harus menggalinya. Labu ini mesti dimanfaatkan,” katanya dalam nada semangat.
Semangat itu pula yang memberi kekuatan kepada Yuliana untuk melakukan sesuatu terhadap labu. Barangkali ini jugalah yang memanggilnya pulang ke kampung setelah puluhan tahun merantau dan hidup di Sumatera Utara.
Pulang Kampung
Panggilan kampung halamannya seolah menghimbau-himbau dari kejauhan. Nyanyian petani labu berbaur dengan keluhan mereka pada kegagalan panen cabe samar-samar menyeruak ke dalam bilik hatinya. “Tekad saya sudah bulat. Setelah dibicarakan dengan anak-anak, kami sepakat balik ke Matua,” jelasnya.
Yuliana, putri ketiga dari 7 bersaudara, lahir di Medan tahun1966. Sejak usia 3 bulan, ia sudah tinggal bersama orang tua angkatnya. Setelah kelahirannya, orang tuanya yang merantau sejak remaja, kembali ke kampung halamannya. Tinggallah Yuliana bersama hiruk pikuk kota Medan. Setelah SMA, ia keburu menikah. Kehidupan kota besar menuntut pasangan muda ini untuk bekerja keras dan bersaing menaklukkan ibu kota. Ia sudah melakoni berbagai usaha dan bermuara pada usaha catering. “Lumayan. Usaha catering kami cukup maju. Kami banyak menerima order dari instansi pemerintah, bahkan ikut tender. Tapi saya tidak cocok dengan permainan tender-tender itu. Saya tidak bisa mengikuti aturan mainnya,” katanya lagi dan memutuskan untuk pulang kampung.
Alasan lain kepulangannya, tak lain adalah hasratnya yang besar membangun kampung. Ketika di rantau, ia sering merasa sedih kalau ada orang yang menanyakan buah tangan dari Matua. “Apa ya? Di Matua tak ada apa-apa untuk dijadikan buah tangan yang khas. Kalau di Bukittinggi ada sanjai, di Padang terkenal dengan bengkoang, kemudian di Lawang ada saka (gula merah). Tapi Matua punya apa? Saya ingin Matua juga punya icon sendiri,” harapnya.
Panggilan nurani untuk membangun kampung begitu menggelora dalam dadanya. Diakuinya, ia tidak munafik kalau tujuannya memang untuk berbisnis. Namun disamping itu, yang tak kalah besarnya, adalah hasrat membangun nagari. Makanya ia sangat getol mencari tahu produk apa yang pantas diolahnya. Naluri bisnisnya terus terasah. Ia pun mulai membuka warung kecil-kecilan di depan rumah orang tuanya berjualan kacang goreng. Lokasinya memang tidak strategis, karena agak menjorok ke dalam. Tetapi Lin tak punya pilihan, karena belum menguasai peta daerahnya. Selain berjualan kacang, ia juga menjual makanan seperti nasi goreng dan minuman ringan.
“Saya bikin warung itu untuk anak muda nongkrong. Disini kan tidak ada tempat nongkrong. Makanya saya bikin warung itu menyediakan sarapan pagi, dan makanan ringan lainnya. Tapi masyarakat di sini ekonominya kurang begitu bagus. Jadi perputaran uangnya lama. Lagian warungnya juga agak ke dalam, kurang baguslah untuk bisnis, ” sambungnya.
Sambil terus memikirkan usaha yang pas, Lin juga berupaya mencari lokasi strategis untuk warungnya. Tak lama, ia menemukan sebuah lokasi di pinggir jalan utama tempat lalu lalang kendaraan dari Bukittinggi ke Embun Pagi. Tempat itu bekas kantor polisi yang sudah ditinggalkan. Karena lama tak ditempati, lokasi itu penuh semak belukar dan kelihatan agak seram. “Tapi naluri saya mengatakan, tempat ini sangat strategis dan bagus, persis di pintu masuk ke Matua. Saya coba menghubungi mereka, saya tawari jasa saya memberdayakan lokasi ini sebagai tempat usaha. Saya sampai minta ijin ke Polri. Wah, perjuangannya sangat berat dan prosesnya cukup panjang,” kisah Lin tentang asal muasal tempat usahanya.
Selama membenahi lokasi yang sebelumnya disebut-sebut warga setempat sebagai pendakian yang angker dan menyeramkan, Lin terus berpikir, mencari dan terus mencari produk yang pas untuk diolah. Di tanah yang berangsur-angsur diterukanya itu, Lin membuat kafe kecil-kecilan dengan tetap berjualan kacang goreng. Obsesinya, ia akan menyulap tanah itu menjadi rest area. Alam Matua yang sejuk, kawasan ketinggian yang memiliki pesona sejumlah view, menurutnya cukup layak dijual. Semua impiannya itu memang membutuhkan proses yang panjang. Sementara alasan kepulangannya yang paling mendasar adalah mencari icon Matua.
Setahun di kampung, Lin menyaksikan banyak petani merugi karena kegagalan panen cabe. Tanah Matua tak menjanjikan lagi bagi tanaman cabe. Kebanyakan petani mengandalkan labu yang tumbuh subur. Labu seolah tak punya nilai jual. Waktu itu penjualannya memakai sistim “batongkong” atau borongan. Harganya dipukul rata, tak membedakan besar dan kecil. Petani memang dirugikan, tetapi petani juga tak punya pilihan. Mereka merelakan labunya dinilai sangat rendah dari pada membusuk.
Labu yang panen hampir setiap waktu itu memaksa petani menjual murah. Lagi pula, labu hanya bisa dijadikan kolak. Kebanyakan penduduk Matua memberikan labu sebagai oleh-oleh untuk tamunya yang datang. “Selama ini yang kita tahu, labu hanya untuk kolak. Kalau ada saudara atau teman dari rantau datang, kita kasih labu. Pertama datang, mereka gembira sekali dikasih labu. Apalagi labu di Matua “kamek-kamek” (legit). Lalu berapa hari kemudian saudara itu datang lagi, kita kasih labu juga, karena memang selalu ada di rumah. Mereka tidak sesenang ketika pertama kali datang. Ketiga kali, kita kasih labu lagi, eh mereka menolak. Katanya, labu kemaren yang kita beri, masih ada, belum sempat dimasak. Nah, ini kenyataan yang dihadapi hampir semua penduduk kampung ini,” jelas Lin.
Mulai Mengolah Labu
Saban hari melihat labu, saban hari menyaksikan labu dijual borongan dengan harga murah, Lin seketika berpikir untuk mengolahnya. Ia yakin, inilah jawaban dari semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Tuhan menganugrahkan labu berlimpah-limpah, yang tidak begitu mudah hidup ditempat lain, pasti Tuhan mempunyai maksud. Lin tahu jawabnya, ia memutuskan mengolah labu agar lebih bernilai guna.
Mulailah ia melakukan berbagai percobaan. Tanpa pengalaman, hanya mencoba-coba, ia membuat kerupuk labu. Bisa dibayangkan, labu yang mengandung lebih 90 persen air itu mau diolah menjadi kerupuk. Awalnya memang terasa sulit. Apalagi ibu tiga anak ini tak pernah mempunyai dasar pengetahuan soal kerupuk. Ia tak punya acuan sama sekali. “Murni inovasi dan coba-coba. Karena tidak ada pembanding, ya susah. Berulangkali saya gagal. Saya buang, buat lagi, buang lagi, hingga berbulan-bulan. Sekitar enam bulanan, baru mulai kelihatan hasilnya,” tuturnya, yang sempat dianggap kurang waras oleh orang-orang di kampungnya.
Masa sih labu dijadikan kerupuk? Apa kurang kerjaan? “Orang banyak mencemooh. Saya ditunjuk dengan bibir. Kalau dengan tangan itu mah biasa. Mereka memonyongkan mulutnya pada saya. Tuh lieklah si Lin, apo yang nyo karajoan tu. (lihatlah si Lin, apa yang ia kerjakan). Orang bilang saya gila, saya dicap ndak benar. Masa labu dibuat kerupuk. Jangankan keluarga dan masyarakat, suami saya sendiri tidak mendukung. Suami saya bilang, Lin, nan dibuek orang lah nan dikarajoan, nan indak dikarajokan urang jan dibuek. (Lin kerjakanlah apa yang dilakukan orang, yang tidak dikerjakan orang, jangan dibuat), “ urainya dengan gaya setengah lucu. Lin memonyongkan bibirnya dan meniru gaya orang-orang yang mencemoohnya.
Bukannya berhenti, Lin malah semakin semangat. Sedih, memang sedih karena upayanya tak mendapat dukungan. Namun tekadnya sudah membulat sehingga apa yang dilakukan, meski hasilnya kemudian tanpa bentuk, ia terus bereksperimen tanpa lelah. “Saya pernah lihat kerupuk ubi dipotong-potong, dilemangin, saya lemangkan, saya kacau labu. Saya bungkus pakai daun, saya bikin lemang. Lalu saya kukus, kok ndak masak-masak. Padahal sudah berjam-jam, hingga minyak tanah saya habis. Saking lamanya, dandang saya sampai bocor karena kering. Waktu panas-panas itu saya potong kok lengket, ndak mau bergerak dia. Wah, luar biasa. Saya coba lagi, saya ulang, mungkin kalau dihitung sudah ratusan kali,” ucapnya.
Yuliana tak putus asa. Keyakinan dan hati kecilnya menyuarakan kalau usahanya akan membuahkan hasil. Ia tak peduli cemooh. Ia tak acuh pada rasa kantuknya meski hanya tidur beberapa jam. Ia tak merasa penat meski hampir tiap saat bekerja di depan tungku. (perapian tempat memasak khas di Sumatera Barat). Hingga akhirnya, ia benar-benar berhasil mewujudkan percobaannya, menghasilkan kerupuk labu. Dengan peralatan dapur seadanya, ia memproduksi kerupuk labu dalam jumlah kecil. “Alhamdulillah, tahun 2006 kerupuk labu mulai eksis. Saya buat kemasan sederhana dan mendaftarkannya ke Dinas kesehatan.”
Proses pembuatan yang ia lakukan adalah dengan mengukus hingga matang. Sebelumnya, labu dipotong-potong agar lebih kecil. Kemudian dikorek isinya, dihancurkan, disaring, ditiriskan airnya. Untuk meniriskan itu ia membutuhkan waktu semalaman, karena air yang dikandung labu itu harus benar-benar turun. “Labu mengandung air lebih dari 90 persen. Dia tanpa serat, makanya tak bisa dipres. Kalau labu yang tua, kandungan airnya lebih sedikit. Tapi yang muda, makan waktu lebih lama. Setelah airnya dikeluarkan, baru diolah dengan tepung tapioka dan terigu,” paparnya.
Setelah dicampur tepung, adonan di ulek, dicetak seperti lemang. Kemudian dilakukan stim dengan uap sekitar enam jam. Kerupuk labu Lin tanpa menggunakan pengawet ataupun pewarna. Sehingga warna kerupuk jadinya tidak seragam. Kalaupun akhirnya kerupuk labu produksi Lin jadi berwarna-warna, itu bukanlah hasil pengolahan, namun sesuai aslinya. Kalau labu aslinya orange, warna kerupuk agak kemerahan. Bila kuning, ya, jadinya kuning. Selain itu, ia juga tidak menggunakan zat pengental kerupuk. Lin menjauhkan produknya dari unsur-unsur kimia.
Selang 6 jam usai di stim, bahannya menjadi lembut dan kenyal. Tahapan selanjutnya adalah didiamkan selama satu malam, istilah yang dipakai Lin, diangin-anginkan agar dia sedikit kaku, baru diiris. “Setelah keras baru bisa diiris, kita jemur. Proses penjemuran, disini agak sulit karena kita tergantung pada cuaca. Tahu sendirilah, Matua itu seperti Bogornya di Jawa Barat, seolah wajib hujan dalam sehari. Sementara penjemuran harus langsung kering. Kalau tidak kering bisa bercendawan. Makanya kalau panas baru bisa jemur. Jika bercendawan, artinya produksi gagal. Disinilah kendalanya. Karena kita masih menggunakan cara manual,” keluh Lin.
Proses gagal produksi disebabkan cuaca, diperkirakan Lin sekitar 10 persen. Sejak tahap awal hingga penjemuran, ia membutuhkan waktu 5 hari. Jika hujan tiba-tiba, maka terjadi penundaan. Sementara penjemuran harus sehari langsung kering menghindari jamur atau cendawan. Sebenarnya, bagian yang bercendawan bisa dibuang atau dipotong, hanya ukurannya mengecil. Soal rasa, menurut Lin tidak berbeda, malah lebih “kamek”. Hanya tampilannya cukup mengganggu.
Kendala lain, adalah soal labu itu sendiri. Lantaran bahan bakunya basah, ia mesti dikeringkan. 300 kilo labu, bisa menjadi 30 atau 35 kilogram maksimal setelah ditiriskan. Jika labu itu hasil tanam miliknya, Lin bisa menunggu sampai labunya tua dengan sempurna agar kandungan airnya lebih sedikit. Tetapi labu dari petani secara umumnya, panennya kurang. Mereka panen untuk kapasitas membuat kolak. Yang penting sudah tua, langsung panen. Berbeda dengan bahan baku kerupuk labu, yang seharusnya tua sampai sempurna supaya mendapatkan sagu lebih banyak. “Itu maunya kita. Bagi petani, mereka rugi karena labunya ringan,” cetus Lin.
Membiarkan Labu Membusuk
Sejak memproduksi kerupuk labu, otomatis Lin membutuhkan labu dalam jumlah besar sebagai bahan baku. Ia mengajak keluarga dan kerabat dekatnya untuk menanam labu. Kalau biasanya labu tumbuh sendiri tanpa dirawat, setelah Lin membuat kerupuk labu, tanaman tersebut lebih diperhatikan. Bahkan ada yang menanam di lahan khusus. Lahan-lahan tidur mulai dimanfaatkan untuk bertanam labu.
Perlahan-lahan, Lin mulai menerapkan sistim penjualan labu kiloan. Ia mengajarkan kepada penduduk kampungnya untuk menghargai labu, aset yang dianugrahkan Tuhan kepada Matua. Sejak saat itu, seluruh masyarakat di Matua tak mau lagi menjual labu borongan. “Setidaknya, saya sudah memberikan pembelajaran, agar ekonomi masyarakat terbantu. Saya tampung labunya, saya olah. Saya mulai membuat satuan harga, saya beli perkilo. Akhirnya masyarakat tertarik. Dulu, mereka tidak tertarik karena setelah itu tidak tahu mau diapakan. Akibatnya, labu membludak. sehingga tidak bisa diolah. Karena awalnya saya yang nyuruh, resikonya, semua terpaksa saya tampung. Ditolak kan kasihan, saya dilema. Mau tak mau, saya harus berpikir, mau bikin apa lagi ya,” katanya.
Dalam cuaca bagus, demi memenuhi kebutuhan pengolahan kerupuknya, Lin memerlukan sekitar 300- 350 kilogram labu sehari. Sementara produksi labu masyarakat demikian banyaknya. Memanfaatkan itu, Lin mencoba berinovaasi membuat gelamai (dodol) labu dan stik labu. Sedangkan untuk kafenya, ia membuat cendol labu. Kebutuhan stik, cuma 30 – 50 kilo labu. Gelamai juga sedikit, sebab pasarnya masih sedikit. Paling bagus pasarnya baru kerupuk. Anehnya, bahan baku kerupuk ini haruslah labu dari Matua. Suatu kali, saat stok labu di kampungnya habis, Lin mencoba mengambil labu dari Padangpanjang. Ternyata kandungan airnya terlampau banyak. Akhirnya “gaca” (lembek dan basah). Pikir Lin, mungkin faktor tanah dan ketentuan Yang Diatas. “Saya harus mengolah labu di kampung sendiri untuk kerupuk. Makanya saya ajak orang kampung memproduktifkan lahan tidurnya,” ucap Lin yang belakangan memerlukan hampir 500 kilogram labu saban hari untuk memenuhi seluruh kebutuhannya.
Sampai sekarang, untuk kebutuhan produksinya, Lin mengambil labu dari masyarakat kampungnya. Ia tidak mau monopoli. Niat awalnya adalah membantu ekonomi masyarakat, makanya ia menampung seluruh labu dari masyarakat. Siapa saja yang datang mengantar labu ke tempatnya, ia terima. Meski stok labunya masih banyak, ia tidak tega menolak bila ada orang datang mengantar labu. “Saya tidak tega. Kalaupun membludak, kita tetap ambil. Prinsip kita, jangan sampai mereka kecewa, sudah datang jauh-jauh dengan gerobak, apa mau ditolak. Bahkan ada yang jalan kaki sekian kilo untuk ngantar labu kemari. Saya tetap ambil dan membiarkan labu itu membusuk di gudang.” ujar Lin yang tengah berinovasi membuat selai, jus dan sirop.
Saat hari pekan, pemandangan biasa bagi penduduk Matua menenteng labu ke tempat Lin. Meski hanya sebuah atau dua. Dinilai harga, barangkali tak mencapai Rp. 50 ribu. Setelah labu diantar, mereka akan belanja ke pekan. Menurut Lin, ada langganannya seorang nenek, secara rutin mengantar labu di hari Kamis, saat hari Pekan di Matua. Lin merasa hiba. Tapi nenek itu tinggal sendiri, tak ada anak atau cucu menemaninya. Labu yang ditanam di pekarangan rumahnya, diantar sendiri ke tempat Lin. “Saya kasihan. Tapi gimana lagi? Ia butuh biaya untuk belanja seminggu. Nilainya tak banyak. Bahkan kemarin, saat tahun ajaran baru, yang ngantar labu banyak anak sekolah. Uang itu buat bayar ujian, bayar uang sekolah dan ada yang dipakai untuk mendaftar ujian masuk perguruan tinggi. Beda kalau mereka yang ada ladangnya, memasok labu sampai berton-ton,” lanjutnya lagi.
Impian Lin, seluruh labu hasil panen penduduk Matua bisa dimanfaatkan. Ia juga ingin masyarakat ikut memproduksi kerupuk labu. Makanya, ia getol mencari tahu terkait teknologi yang bisa membantu proses produksi agar tak manual lagi.
Salah Satu Objek Wisata
Kegigihan Lin, bukan hanya menemukan cara membuat kerupuk. Ia juga dikenal gigih mempromosikan Matua, kampung yang dicintainya. Sebab itulah gebrakannya mengelola bekas kantor polisi itu dianggap luar biasa. Sebelum Lin mengambil alih, daerah itu setelah jam 6 sore terlihat seperti kota mati. Kawasan atas dan bawah pendakian itu seolah terputus kegiatannya, sebab dianggap angker dan seram bagi orang kampung. Ada orang yang mengatakan kawasan itu ber"penghuni". Banyak penduduk mendengar cerita aneh-aneh di kawasan itu. Wajar saja, karena tidak ada yang menempati. Apalagi bekas kantor polisi yang ditinggalkan, tidak terawat, tanpa penerangan, penuh semak belukar.
“Pertama datang saya sangat sedih melihat daerah itu. Padahal disanalah gerbang nagari Matua. Kok orang datang disambut dengan kesuraman. Alhamdulillah, meski bertahap, perlahan-lahan sudah mulai berseri. Kita sambut tamu dengan senyum dan keindahan. Saya ingin semua orang di dunia mengenal Matua. Di peta saja tak ada, di sini juga tak ada apa-apa, bagaimana memperkenalkannya? Pikiran itulah yang membuat saya bertahan. Kalau hanya mengejar keuntungan dan bisnisnya mungkin saya bisa olah pisang, ubi, olah beras pulut atau kembali mengembangkan usaha catering. Tapi itu tidak memunculkan imej. Dengan labu, kita bisa menanamkan imej pada orang luar. Syukurlah, sekarang labu sudah menjadi icon Matua khususnya dan kabupaten Agam umumnya. Saya gembira karena Pemkab Agam juga merespon dan mendukung saya,” urainya panjang lebar.
Kepiawaian Lin mengolah labu membuat Pemkab Agam merasa perlu menggelar sebuah kegiatan dengan tema berbagai produk dari labu pada tahun 2010. Acara itu diberi nama “ seribu satu mangkok kolak labu” . Kegiatan ini memberi rekor MURI bagi kabupaten Agam.
Dalam kalender wisata kab. Agam, toko Lin termasuk salah satu tempat kunjungan wisata. Ada paket wisata diolah biro perjalanan yang membawa wisatawan datang ke tokonya yang diberinya nama Bundo Kanduang. Perihal nama itu, Lin ingin menambah imej ke-minang-annya. Menyebut saja banyak lidah pengunjung terpatah-patah. Namun lantaran itu pula muncul banyak pertanyaan dari pengunjungnya yang sebagian besar datang dari Malaysia dan daerah lain di Indonesia. Maka tak ayal lagi Lin mesti menjabarkan sedikit tentang siapa Bundo Kanduang. Artinya, selain promosi labu, ia juga mempromosikan keperkasaan seorang Bundo Kanduang yang dalam legendanya digambarkan sebagai sosok pengayom masyarakat. “Saya ingin seperti Bundo Kanduang yang mengayomi masyarakat. Memang susah melafaskannya. Orang Malaysia dan Kalimantan, nyebutnya juga susah. Dulu saya buka kafe dan sudah jual oleh-oleh juga, pertama kali saya kasih nama anak saya, Reality. Kok kayaknya ndak sreg, ndak ada . minangnya. Makanya saya ganti dengan Bundo Kanduang,” alas istri Hermansyah ini.
Selain menjual kerupuk labu, stik labu dan cendol labu, toko Bundo Kanduang juga menampung produk lain dari industri rumah tangga di kabupaten Agam. Tetapi, tetap menjadi andalan adalah produk labunya. Sebagai maskot di tokonya, di pintu masuk, Lin memajang labu dengan ukuran paling besar, seberat 20 – 30 kilo. Pajangan itu malah menjadi objek menarik sehingga banyak dimanfaatkan pengunjung sebagai latar berfoto.
Perjalanan Yuliana sangatlah panjang. Jangan hitung berapa biaya yang telah ia keluarkan dari koceknya untuk membangun rest area yang masih jauh dari sempurna. Meski menurutnya belum seberapa, tetapi kesejukan alam, pemandangan yang mempesona, adalah tawaran menarik bagi pengunjung yang berbelanja ke tokonya.
Selain itu, di bagian belakang, tanpa ia ketahui sebelumnya, ternyata terdapat Tugu Tri abulasi, mencatat titik ketinggian dari permukaan laut, peninggalan Belanda. Awalnya Lin sama sekali tidak tahu itu. Ia baru menyadarinya ketika seorang bule berkunjung, menyebutkan telah melihat tugu itu di peta. “Si Bule yakin ada tugu itu di sini. Dia yang menunjukkan pada kami lokasinya. Ada di belakang, dengan latar view yang indah. Tugu itu merupakan titik pertahanan nasional jaman Belanda,” terangnya seraya menunjuk pada halaman belakang tokonya yang luas.
Yuliana sengaja mendisain kawasan tokonya menjadi tempat wisata, agar pengunjung dapat menikmati keindahan alam sesaat berbelanja. Harapannya memang untuk mengundang orang berkunjung menikmati alam Matua. Alasan itu pula kenapa ia tak menjual produknya di tempat lain. Lin tak ingin menitipkan produk labunya di toko-toko menjual oleh-oleh di Padang atau Bukittinggi. Ia ingin orang datang ke Matua, membeli kerupuk labu, menikmati cendol labu dan menghirup udara segar nagari leluhurnya. “Saya ingin orang menjemput produk saya ke sini. Kalau produk labu saya ada di Padang, kapan lagi orang datang ke Matua. Kalau dari sisi bisnis saya rugi karena lambat putarannya. Tapi niat saya adalah membangun kampung, mengajak orang datang, ini lo kampung saya. Makanya saya tidak pakai distributor. Banyak yang menawarkan diri. Tapi saya tidak mau. Belumlah, saat ini saya masih menanam imej, menjadikan labu sebagai icon Matua dan Matua itu labu, “ katanya optimis.
Sebagian impian Yuliana Oriza Sativa, mungkin sudah terwujudkan. Namun ia masih merasa belum maksimal menghidupkan perekonomian warga di kampungnya. Ia ingin lebih banyak berproduksi agar tak membiarkan labu membusuk. Namun, kerja secara manual menghambat produktifitasnya. Andai saja ia dapat menjalin kemitraan dengan salah satu dari sejumlah BUMN yang beroperaasi di Sumatera Barat, ia merasa lebih beruntung.
Secara kemitraan, pihak pemkab Agam, telah memberikan binaan melalui pemasaran, packing dan sejumlah pameran. “Saya ingin menggunakan teknologi tepat guna. Seperti yang saya dengar mesin yang dipakai untuk membuat keripik nenas, atau keripik nangka, mungkin kita bisa berproduksi lebih banyak lagi. Apalagi kalau kita punya oven pengering yang besar. Jadi tak terpengaruh pada cuaca, mau hujan atau tidak, kita tetap bisa mengeringkannya. Saya berharap suatu saat nanti dapat menjalin kemitraan dengan perusahaan-perusahaan besar. Kalau membeli sendiri, wah, harganya mahal,” ujarnya seraya terus berharap. (nita indrawati)





