Terbetik
- Besok, IKA Unand Gelar Rakernas di JakartaJumat, 24 Mei 2013 08:34 wib
- PAD Sawahlunto 2012 Tak Capai 100 PersenJumat, 24 Mei 2013 07:23 wib
- PT WWS Butuh Dana Rp10 Miliar untuk Pengembangan Jumat, 24 Mei 2013 07:06 wib
- Promosikan Menu Non Beras, Agam Lomba Cipta Menu Beragam ...Jumat, 24 Mei 2013 06:46 wib
- Atlet Berprestasi Kab.Solok Terima BonusJumat, 24 Mei 2013 06:25 wib
- Kota Solok Launching Kawasan Rumah Pangan LestariJumat, 24 Mei 2013 05:55 wib
-
Selain Nabila, Wisnu Mengaku Menghabisi Yanti
Bukittinggi – Tulang belulang manusia ditemukan sekitar 500 meter dari jalan raya dalam semak di daerah Banda Munggu, Jorong Gantiang, Nagari ... baca selengkapnya »
Komentar
Berproses Penting dalam Kepenulisan
Pipiet Senja : Tegar seperti burung pipitLangkah awal dalam kepenulisan dilakukan Pipiet Senja ketika masih remaja tujuh belasan. Kala itu, ia dalam sakit parah. Penyakitnya mengalami komplikasi dan dirawat di ICCU selama 3 minggu. Dokter memvonisnya tak bakal menikmati hidup panjang. “Kala itu dokter memperkirakan umur saya hanya 6 bulan lagi,” ungkapnya kepada padangmedia.com, suatu ketika dalam acara pelantikan Wanita Penulis Indonesia (WPI) di Padang. Bisa dibayangkan betapa hebatnya perjuangan batin Pipiet saat mendengar kabar itu. Meski sudah mengetahui bahwa ia mengidap talasemia bawaan sejak kecil, dan sudah transfusi darah rutin sejak umur 11 tahun, tetapi kematian yang begitu dekat diramalkan sang dokter tetap saja membuatnya terguncang. Tetapi tekanan itu dapat dilaluinya. Begitu ia keluar dari rumah sakit, semangatnya untuk bertahan hidup kembali ia bangun. Ia bertekad untuk menikmati sisa hidupnya dengan melakukan kegiatan yang berarti, tidak saja bagi diri sendiri, tapi juga bagi banyak orang. Hobi menulis yang sudah dimilikinya sejak SMP, ia tekuni kembali. Ia seperti dipacu untuk menulis. “Saya harus menulis agar tidak memendamnya dalam hati. Kala itu saya bertekad akan terus menulis sampai akhir hidup saya yang mungkin tidak lama. Dengan menulis saya bisa berbagi,” katanya. Bila sejak SMP tulisannya hanya disimpan sendiri, ketika diperkenankan keluar dari rumah sakit, ia mencoba mempublikasikannya. Pipiet yang bernama asli Etty Hadiwati Arief mengirimkan tulisannya ke beberapa media dengan nama samaran. “Waktu itu lagi ngetrend nama samaran, seperi La Rose , Remy Silado dan banyak lainnya juga pakai nama samaran,” ucapnya beralasan. Kenapa Pipiet Senja? Menurutnya, burung pipit adalah lambang ketegaran. Setiap pagi, ia melihat burung pipit beterbangan di sekitar persawahan di kampungnya. Ia melihat burung itu begitu tegar. Sore harinya, ia melihat kembali burung itu di sana. “Saya berpikir, apakah saya bisa seperti burung pipit ini yang bisa bebas berterbangan dengan tegarnya dari pagi hingga sorenya. Apakah usiaku bisa bertahan hingga senja hari? Pikiran semacam itu akhirnya melahirkan nama Pipit Senja,” jelasnya. Pertama kali ia mengirim tulisannya kepada Remy Silado yang diketahuinya jadi redaktur di salah satu majalah. Di akhir tulisan yang dikirim, ia menitipkan sebuah kalimat : “Mudah-mudahan redaksi mau memuat tulisan saya. Kalau tidak dimuat, bila aku mati, ntar kugentayangi ke kantormu.” Mengingat itu Pipiet tertawa sendiri. Memang kalimat itu sengaja ia titipkan untuk Remy Silado sekedar bercanda. Ternyata Remy Silado tidak bekerja di sana lagi. Tapi tulisannya tetap dimuat oleh redaksi di majalah tersebut. Sejak itu, Pipiet sangat bersemangat menulis. Cerita pendek dan noveletnya banyak dimuat di majalah dan koran Jakarta. Kala itu ia dikenal sebagai pengarang paling produktif. Menurutnya, dengan menulis ia bisa menghilangkan pikiran dan perhatian dari penyakitnya. Menulis adalah spirit dan motivasi baginya untuk bertahan hidup. Tahun tujuh puluhan, nama Pipiet Senja selalu muncul di berbagai majalah dan Koran ibukota. Ia seolah tak pernah berhenti. Karya-karyanya yang meremaja kala itu diminati tidak hanya remaja tapi juga ibu-ibu rumah tangga. Jika dihitung jumlah, cerpen dan noveletnya sudah ratusan. Hingga sekarang saja novelnya sudah mencapai 200 judul. Tetapi yang sudah diterbitkan baru sekitar 80 judul. Tak hanya karya bertemakan remaja dan keluarga, Pipit juga telah menerbitkan 35 cerita anak. Awalnya, cerita anak itu adalah berupa dongeng yang ia karang dan ceritakan kepada buah hatinya Haekal Siregar. (26) dan Adzimattinur Siregar (18).. Disamping itu, anaknya juga ingin memiliki buku sendiri. “Kenapa tidak menulis buku anak saja? “pikirnya kala itu. Apalagi dua anaknya juga mendorong agar Pipiet menulis buku anak. Meski harus menjalani transfusi darah sebanyak 1000 CC sekali dalam 2 bulan, aktifitas Pipiet tak terganggu. Bila ia ingin melakukan perjalanan, ia harus transfusi dulu agar tetap kuat. Darah bersama obat diinfuskan ke dalam tubuhnya melalui bagian perut. “Alhamdulillah, saya masih diberi umur panjang. Meksi divonis berumur pendek, saya tak putus asa. Allah memberi kesempatan saya hidup lebih lama, pasti ada tujuannya. Jadi saya maknai seluruh hidup saya. Karena saya bisa nulis, saya nulis untuk orang banyak. Dengan menulis saya bisa mencerahkan umat. Saya munculkan spirit terutama bagi perempuan. Memang kebanyakan tulisan saya berangkat dari pengalaman pribadi dan lingkungan,” papar Pipiet, kelahiran Sumedang tahun 1956. Perjalanan kepenulisan Pipiet tanpa disadari mengalami proses dan perubahan. Jika penggemar tulisannya pada era tujuh puluhan mengenal Pipiet dengan gaya remaja dan dunianya, belakangan karyanya tampak lebih bernuansa reliji. Namun Pipiet menampik pengkotak-kotakan itu. Ia tak pernah berpikir mau masuk kepada kelompok mana, apakah populer, sastra secara umumnya atau sastra Islam yang berlakangan lagi booming. “Saya tidak nulis apa itu sastra atau populer. Saya nulis aja, tanpa mikir mau jadi apa.dan saya tidak mengotak-ngotakkan. Dulu memang saya lebih akrab dengan gaya populer. Tapi tahun 1982 sebenarnya saya sudah memasukkan unsur Islami. Bukan hanya tahun 2000 ini saja,” ucapnya. Hanya saja, ketika masa delapan puluhan itu, nama Pipiet seolah tenggelam. Dan begitu ia muncul lagi di era 2000-an, karyanya lebih reliji. Padahal, kata Pipiet, ketidakmunculan itu bukan berarti tidak menulis. Ia tetap berkarya, tetapi saat itu ia fokus pada cerita anak dan menulis sejumlah memoar. Kebetulan pada tahun 2000-an itu, Pipiet mulai kelihatan lebih reliji seirama dengan boomingnya novel fenomenal Ayat-Ayat Cinta (AAC) karya Habibburahman el Sirazy. Apakah karya Pipiet terkena imbas dengan sastra Islam yang dipopulerkan Habib? “Alhamdulillah saat orang tidak menulis, saya tetap menulis. Artinya, saya tetap dicari. Tidak masalah dan tak ada pengaruh dengan boomingnya AAC. Barangkali karena saya lebih senior kali ya?” katanya. Kehadiran Habib dengan label sastra Islam, Pipiet tak begitu mempersoalkannya. Baginya yang terpenting, karya itu tidak menyesatkan. Karena karya itu akan diminta tangung jawab penulisnya bukan didunia, tapi juga di akhirat. Yang lebih utama adalah visi, misi yang jelas agar tidak mengacau. Mengamati dunia kepenulisan belakangan ini, Pipiet menyatakan respon positifnya terhadap pengarang-pengarang muda. Cuma, kata Pipit, mereka tidak bisa bertahan dan tidak kuat berjuang. Kebanyakan mereka tidak siap, tiba-tiba melejit. Seperti pengarang dari gagas media, nama mereka langsung melambung, tak lama hilang.. “Saya lihat mereka tidak siap. Satu melejit, lalu plek, habis.. Saya melihat kayaknya ngeterend aja. Sebetulnya potensi mereka miliki, tapi memenej karya dan mentalnya tidak bisa. Saya lihat satu dua penulis itu digabung dengan penulis senior tau-tau udah sombong bagai seleb. Kalau saya, tidak ingin ikut-ikutan. Saya konsen dengan gaya saya, Alhamdulillah sampai kini bertahan,” urai Pipit yang aktif sebagai Majlis penulis di Forum Lingkar Pena (FLP). Selain itu, menurut Pipiet berproses adalah penting bagi seorang pengarang. Kalau langsung melejit, bisa saja langsung down. Makanya, sekarang saya perhatikan, penerbit-penerbit mulai selektif, tidak tergoda pada tren-trend-an. Proses yang dimaksud Pipiet sangat erat kaitannya dengan menjaga rutinitas berkarya. Pipiet sangat menjaga disiplin dengan tiap hari menulis. Kemana-mana ia selalu membawa laptopnya agar bisa menulis dimana dan kapan saja. Bahkan satu hari, ia sengaja nongkrong di mall untuk menulis. “Karena kita penulis ya menulis. Menjaga agar tidak berjarak dengan remaja yang sering menjadi inspirasi, saya mengamati kehidupan mereka. Kebetulan saya punya anak remaja. Sering saya minta anak saya membawa teman-temannya ke rumah ngerujak. Bahkan saya bikinkan mereka spagethi di rumah. Bahan obrolan mereka saya amati, bahasa mereka saya pelajari. Saya sering ke mall, nongkrong, saya bawa laptop. Di sebuah sudut saya ngetik. Tongkrongi betul kelakuan anak-anak remaja sekarang. Jadi observasinya riil. Remaja Depok bahasanya gimana sih? Kalau bahasa saya kan lain. Jadi harus dipelajari,” jelasnya. Karya perempuan sekarang bagaimana? Pipiet melihat sebuah karya perempuan dengan komunitas tertentu yang sangat tidak sesuai secara etika. Menurutnya, mungkin tuntutan komunitas dan visi mereka memang begitu yang bisa merendahkan martabat perempuan lewat karya-karyanya. Tetapi sebaliknya Pipiet juga salut pada karya Asma Nadia yang jelas visi misinya. Bahkan sekarang Asma Nadia tidak hanya berhasil dalam berkarya, tetapi ia juga menjalankan bisnis yang bisa merangkul banyak orang. “Saya lihat Asma Nadia bagus. Rieke juga bagus. Artis pada nulis juga bagus. Saya respek pada mereka. Dulu dunia penulisan dikuasai oleh laki-laki, sekarang banyak wanita potensial. Mereka bagus secara finansial. Saya tahu Asma Nadia selain nulis juga pengusaha. Soal kekuatan dan jender pada penulis perempuan, jangan dipikirkan dululah. Yang penting karyanya,” ulasnya. (nita indrawati)***





