Terbetik
- IKAPI Sumbar Canangkan Donor Sejuta BukuSabtu, 18 Mei 2013 08:19 wib
- Dasrul Lamsudin Kritisi Rencana Deklarasi ABS SBK di ...Sabtu, 18 Mei 2013 08:08 wib
- Stand Agam Curi Perhatian di International Trade Summit ...Sabtu, 18 Mei 2013 07:25 wib
- 2 Rumah di Surau Gadang Hangus TerbakarSabtu, 18 Mei 2013 06:54 wib
- Dua Kabid Disdikpora Agam di Lantik Sabtu, 18 Mei 2013 00:05 wib
- Sejak Kenaikan Minggu Lalu, Harga Cabe Belum PulihJumat, 17 Mei 2013 21:22 wib
-
Selain Nabila, Wisnu Mengaku Menghabisi Yanti
Bukittinggi – Tulang belulang manusia ditemukan sekitar 500 meter dari jalan raya dalam semak di daerah Banda Munggu, Jorong Gantiang, Nagari ... baca selengkapnya »
Komentar
Lebih Separuh Hidupnya Mengabdi untuk Universitas Andalas

Meski terlahir dari orang tua yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, tetapi Marlis Rahman tetap mendapat dukungan penuh dari keluarganya terutama orang tua. Ia ingat suatu ketika ibunya, Lian, yang nyaris tak bisa tulis baca memotivasinya dengan contoh-contoh melalui kalimat yang bermakna dalam. “Cubo caliak tu, urang basakola, cukuik jo pena sajo bisa hiduik. Indak paralu mamangkua sampai bakaringek baru bisa hiduik. “ (coba lihat itu orang yang berpendidikan, cukup dengan pena saja mereka bisa hidup, tidak perlu memakai cangkul sampai berkeringat baru bisa hidup). Kalimat itu terlontar dari sang ibu ketika mereka melihat segerombolan anak- anak berseragam sekolah melintasi jalan, tak jauh dari mereka. Kalimat itu benar-benar menjadi dorongan sangat kuat bagi Marlis untuk bertahan di bangku sekolah. Sementara kakak –kakaknya Abdul Majid, Rajiah dan Mardiah hanya menamatkan SD. Mardiana kakaknya yang ke 4, sempat duduk di kelas I SMA. Alasannya, karena factor ekonomi keluarga. Masa sulit perekonomian negeri ini pada masa itu dan pekerjaan bapaknya Rahman St. Batuah yang hanya sebagai buruh angkut (membawa pedati) memaksa saudara-saudaranya untuk menerima keadaan. Beruntung, meski berada dalam lingkungan itu, Marlis bisa selesai SMA, meraih gelar sarjana muda di FIPIA Universitas Andalas, mendapat kesempatan di ITB untuk strata satu bahkan sekolah ke Amerika hingga menjadi profesor. Sebagai anak dari seorang penarik pedati yang kala itu dipergunakan untuk sarana transportasi, Marlis kecil tumbuh dalam kehidupan yang lebih banyak diperankan oleh sang ibu. Maklumlah, ayahnya banyak menghabiskan waktu di luar rumah. “Dulu, sarana transportasi belum seperti sekarang. Pedati menjadi alternative untuk alat angkut pada masa itu. Apak membawa pedatinya sampai ke Simpang Ampek Panti. Dua kali sebulan baru pulang. Pekerjaan itu dilakukan Apak sampai Agresi Belanda kedua tahun 1950,” ungkap Marlis mengawali kisah menyangkut ayahnya yang ia sebut Apak. Setelah ada truk sebagai pengangkut barang, pedati tidak dipergunakan lagi. Pedati ayahnya diubah menjadi gerobak . Mulanya mengangkut kapur dari Padangpanjang, Bukittinggi, Ampek Angkek hingga ke Palupuah. Kemudian ayahnya mendapat tawaran mengangkut bensin. Dulu, belum ada mobil bensin. Bahan bakar bensin dibawa dengan kereta api dari Padang dikumpulkan di stasiun Bukittinggi. Disana sudah menanti tanki-tanki kecil, diisi bensin dan ditarik dengan kerbau. Rahman adalah salah satu diantara beberapa lainnya yang membawa tanki itu ke pompa bensin di bawah jam Gadang. “Setelah ada mobil tanki, gerobak beliau tidak terpakai lagi untuk mengakut bensin. Tapi Apak tetap membawa gerobak, membawa apa saja. Disamping itu, kami membuka warung kecil-kecilan di rumah, menjual kebutuhan sehari-hari, dan minyak tanah,” jelas Marlis. Sementara ibunya, menjual kain usang di Los Bagaluang. Sebagai orang pedati, dikatakan Marlis, pergaulan ayahnya bisa disamakan dengan supir-supir pada masa sekarang. Karena masih muda usia, ayahnya termasuk orang yang mengikuti arus pergaulan yang lebih banyak negatifnya. “Ya, namanya orang pedati. Apak itu termasuk premanlah. Beliau ikut adu ayam, “ba koa” dengan taruhan, berjudi, sampai zaman Jepang. Waktu Jepang masuk itu, beliau tertangkap bersama beberapa orang yang sedang berjudi. Kalau zaman Jepang dulu, bila tertangkap langsung dibawa ke “loge”. Kalau sudah disana, dijadikan romusha, mungkin tidak pulang lagi. Apak takut sekali mendengar dibawa ke loge. Lalu Apak minta tolong dengan tetangga kami seorang Damang, namanya Pak Monek. Dialah yang menjamin Apak bisa bebas. Apak berjanji tidak akan mengulangi lagi,” papar Marlis. Kenakalan ayahnya, diakui Marlis sangat luar biasa. Untuk taruhan bersama temannya, Rahman membuka atap seng rumah bagian belakang, diganti dengan potongan kaleng. Seng itu dijualnya kepasar. Bukan hanya seng rumah, Rahman juga mengambil kain panjang ibunya di lemari, memotongnya dan merapikannya kembali seperti sedia kala. Potongan kain panjang itu juga dilegonya. “Bayangkan, kain panjang Amak yang disusun dalam lemari juga dijual. Dulu jaman Jepang itu kain kan mahal. Dipotong dua, dilipatnya, disusun rapi-rapi sehingga Amak tidak tahu bahwa kain itu sudah dipotong. Tapi setelah tertangkap Jepang itu, Apak benar-benar jera. Tobat setobat-tobatnya. Beliau rajin ke masjid. Kalau namanya Rahman St Batuah, diubah oleh tetangga menjadi Rahman Malin Batuah, jadi imam di masjid hingga ia meninggal dalam usia 86 tahun,” tutur Marlis. Sering Dimarahi Karena ke Bioskop Barangkali karena pengalaman masa lalunya, menurut Marlis, ayahnya sangat ketat dan disiplin. Seluruh anak-anaknya tidak diperkenankan pulang melewati jam 6 sore. Jika lewat jamnya, pagar rumah sudah terkunci. Anak-anak juga diharuskan mengaji di masjid dekat rumah mereka. Yang paling sering melanggar peraturan itu adalah Marlis. Mulai SMA Marlis semakin sering mangkir dengan peraturan itu. “Saya waktu SMA banyak kegiatan olahraga. Jadi pulang olah raga kami main-main dulu. Di Bukittinggi, tempat main kalau malam hari itu ke bioskop. Kami pulang setelah jam pemutaran film kedua masuk. Saya ditunggu di depan pagar dan diceramahi. Waktu itu saya janji tidak berbuat lagi, tapi ternyata besoknya berulang juga. Saya paling sering diceramahi,” ujarnya. Dulu, Marlis Rahman memang sangat gemar menonton film. Karena saat itu hanya film bioskoplah bisa dijadikan hiburan. Kalau ke bioskop, Marlis tidak menyelesaikan satu film sekaligus tetapi bisa tiga kali baru tamat. Karena film dulu itu panjang-panjang sampai 3 atau bahkan ada yang 4 jam baru selesai. Hari ini ia nonton sepertiganya, lalu pulang, esok dan lusanya disambung lagi. Kala itu, kata Marlis, ia dan beberapa temannya termasuk “urang bagak”. Kalau nonton tidak pernah bayar. Di bioskop Eri, kebetulan yang menjaga bioskop itu adalah mamaknya Zuiyen Rais yang masih tetangganya. “Namanya St Malako, kumisnya panjang. Semua orang takut padanya. Tapi kalau melihat kami, saat St Malako menjaga, malah ditawari masuk. “ka nonton ang, masuaklah” (kamu mau nonton, masuklah). Jadi kami bebas keluar masuk disana,” kisah Marlis seraya tertawa. Begitu juga dengan Bioskop Sovia, Marlis dan beberapa temannya juga bebas nonton film. Namun suatu kali, penjaga bioskop di Sovia itu diganti. Orangnya dari Padang. Marlis dan kawan-kawan agak keder juga. Lalu diantara mereka mencoba menguji, siapa yang berani masuk duluan melewati pintu dengan petugas jaga yang baru. Marlis dijadikan umpan. “Teman-teman menyuruh saya masuk duluan, kalau nanti saya ditahan di pintu masuk, mereka akan maju bersama-sama. Pas masuak, saya Cuma minta permisi sambil mengoceh kalau kami sudah bertahun-tahun di sini. Kalau dia berani macam-macam, dia juga bisa diusir dari sini. Saya bisa lewat. Teman-teman yang lainpun ikut lewat. Memang sulitnya untuk pertama kali. Kalau sudah lewat sekali, selanjutnya aman. Kami tinggal mengacungkan tangan, bilang “misi” dan lewat. Lagak kami seperti orang orang bagak yang sudah dewasa,” lanjut Marlis dengan tawa lepasnya. Bukan hanya dengan penjaga bioskop, Marlis juga akrab dengan petugas yang memutar filmnya. Karena itu pula ia bisa menonton film yang ditujukan bagi 13 tahun ke atas, meski usianya masih belum cukup. Ketika dilakukan razia, ia bisa lolos karena duduk di ruang atas tempat mesin pemutar film. Jadi, saat razia mendadak dilakukan, anak-anak lain melarikan diri ke bawah kursi, Marlis bisa dengan tenang mengintip dari lobang kecil di depan mesin pemutar film. Meski sangat ketat, Marlis tahu persis ayahnya sangatlah penyayang, tetapi tidak mengungkapkannya secara terus terang seperti yang terlihat dari kebiasaan ibunya.. Marlis masih ingat kalau setiap hari Jumat, ayahnya sholat Jumat ke masjid Tangah Sawah. Pulang Jumat, Rahman selalu berselempang kain sarung. Kalau sudah berselempang itu, Marlis dan saudara-saudaranya tahu kalau dalam sarung itu ayahnya menyimpan makanan yang dibelinya di jalan. Kalau musim buah-buahan misalnya duku atau rambutan, sarung itu penuh dengan duku dan rambutan. Setidaknya, ayahnya membawakan pisang goreng untuk anak-anaknya di rumah. Bercita-cita Jadi Guru Sejak kanak-kanak, Marlis sudah bercita-cita jadi guru. Alasannya sangat sederhana. Ia terobsesi melihat guru guru yang tamat SGB mengendarai sepeda relly. Marlis kecil sangat kagum, karena ketika itu hanya mereka yang bisa memiliki sepeda relly. Kepala sekolahnya di SR 3 Ateh Ngarai, Jamaliyah langsung mendaftarkan Marlis ke SGB. Namun ketika niat itu diutarakan di rumah, keluarganya tidak setuju, terutama kakak sulungnya. “Kamu badannya kecil, kalau jadi guru nanti ‘dicikuih se dek murid beko’, ” kata Marlis menirukan kalimat kakaknya. Akhirnya disepakati, Marlis masuk ke SMP 4. Ketika di SMP, waktu PDRI sekolah diliburkan. Marlis ikut mengungsi bersama keluarganya ke Lambah. Selama di pengungsian, Marlis bersama temannya, pernah menjual selebaran PRRI. Karena mereka masih kecil, tidak ada yang curiga. Namun ketika sudah ada temannya yang tertangkap, Marlis berhenti. “Kami tidak lama mengungsi, cuma 6 bulan, sekolah dibuka kembali. Sampai SMA tahun 1959, situasi mulai aman. Saya aktif olah raga, sepakbola dan angkat besi. Saya masuk grup angkat besi, namanya Hercules, latihan sampai jam 6 sore, di Atas Ngarai. Saya terpilih ikut PON di Medan. Tapi saya tidak sempat ikut PON karena tinggal kelas. Kakak sumando saya mengancam kalau saya ikut PON, saya harus berhenti sekolah. Saya takut juga, akhirnya tidak jadi ikut PON. Padahal sudah dibekali baju seragam atlit dan peralatannya,” jelas Marlis. Dua kali tinggal kelas, Marlis harus DO dari SMA B Bukittinggi. Meski dua kali tinggal kelas, bukanlah kiamat baginya. Iapun pindah ke Padang, ikut bersama kakak yang membantunya biaya sekolah. Padang, baginya sangat asing. Tetapi ia tak ada pilihan karena di sekolah negeri manapun di bukittinggi, ia tidak bakal diterima. “Kebetulan saya kenal sama Zuiyen Rais. Ia sering pulang ke Bukittinggi, tempat mamaknya, bertetangga dengan kami. Saya sering ngobrol sama dia. Waktu itu dia sudah mahasiswa di IKIP dan jadi wartawan di Aman Makmur. Saya bilang kalau saya mau pindah sekolah ke Padang. Tentu Da Zuiyen heran, SMA B Bukittinggi itu terbaik di Sumbar. Kok saya malah minta pindah. Akhirnya saya ngaku kalau saya dua kali tidak naik kelas. Dia janji mau bantu saya. Dialah yang merekomendasikan saya masuk ke SMA Karnas di Padang. Katanya banyak dosennya yang mengajar disana,” tutur Marlis. Perihal tidak naik kelasnya, saat kedua kali itulah baru orang tua dan keluarganya tahu. Marlis tidak pernah memberi tahu soal rapornya kepada ayahnya. Memang diakui Marlis, SMA nya itu sangat disiplin. Kalau rapor anak bermasalah, orang tua diminta datang. Tapi marlis tidak meminta ayahnya datang tapi miinta tolong pada abang temannya yang menjadi guru di ST, persis di depan SMA nya. Selalu, jika mengambil rapor, abang itulah yang menjemputnya ke sekolah. “Rapor itu tidak pernah saya perlihatkan kepada Apak. Saya, tiru tanda tangan beliau. Memang payah, tapi saya bisa meniru agak mirip-mirip,” ucapnya dengan tawa. “Tapi setelah di Karnas itu saya benar-benar belajar, saya juara kelas. Tentu saja juara, orang setahun kelas duanya, saya 3 tahun. Tapi tetap saja kalau ada pelajaran tidak suka, saya memanjat pohon rukam di samping sekolah atau main di Lapau Buya tempat anak-anak SMA I dan SMA Karnas mangkal,” lanjutnya. Lulus SMA, Marlis berencana masuk Akademi yang program TID agar cepat selesai dan bekerja. Ekonomi keluarga membuatnya berpikir cepat tamat. Kala itu orang tuanya tak bisa memberinya biaya lagi. Jadi untuk sekolah dan kebutuhannya sehari-hari Marlis dibantu kakak sumandonya yang menetap di Padang Iapun mendaftar di Akademi Pertanian, Akademi Tekstil yang sedang trend. Untuk masuk akademi tekstil harus dikirim oleh perusahaan tekstil. Ia mendapat rekomendasi dari Talaha tekstil di Silungkang atas bantuan temannya. Sayangnya, lama menunggu, hasil dari akademi itu tak kunjung keluar. Rupanya kedua akademi itu pada saat Marlis mendaftar, tidak menerima mahasiswa baru. Dari pada tidak sekolah, ia mendaftar ke FIPIA. Ia tertarik karena diinformasikan bahwa akan dibuka jurusan Farmasi. Ia ingin menjadi apoteker. Tetapi saat mendaftar itu, ia memilih Biologi dulu menjelang dibuka Farmasi. “Saya masuk tes di Pertanian, FIPIA dan Kedokteran. Kakak saya ingin saya masuk kedokteran. Saya lulus di tiga jurusan itu. Saya menolak masuk Kedokteran karena biayanya yang mahal, takut merepotkan kakak. Saya masuk FIPIA dengan alasan mau jadi apoteker,” ujarnya. Hingga enam bulan jurusan farmasi itu belum juga dibuka. Karena dosen yang akan diperbantukan ke jurusan tersebut tidak jadi datang. Jurusan Farmasi baru dibuka setelah setahun. Beberapa temannya memang langsung pindah, namun Marlis membatalkan niatnya karena sudah setahun berjalan. Iapun meneruskan sampai sarjana muda. Begitu selesai sarjana muda, kuliahnya tidak ada lagi. Marlis mengisi waktu dengan mengajar les privat. Sambil memberi les, ia juga diminta membuat pembukuan di perusahaan orang tua anak yang diajarnya. Berbagai usaha ia lakoni untuk mengisi waktu senggang menjelang kejelasan statusnya setelah sarjana muda. “Saya pernah juga menjadi pemasok kebutuhan sehari-hari ke caltex di Pekanbaru. Kami bawa sayur, ayam, telur, kentang, beras dan lainnya. Pertama kirim, lewat, kedua juga lewat. Ketiga kalinya kami diserang banjir. Semua sayurnya busuk, kentang mulai tumbuh uratnya, ayam sudah megap-megap nafasnya. Tinggal telur dan beras yang masih baik. Akhirnya kami stop, dari pada rugi,” katanya. Cukup lama menanti, akhirnya penantian itu berbuah juga. Isrin Nurdin orang IKIP yang menjabat dekan FIPIA menilai jurusan itu perlu dikembangkan. Ia membicarakan dengan Harun Zain yang kala itu mejabat Rektor Unand. Gayung bersambut, disepakati untuk mengkader dosen dari lingkungan sendiri. Melalui kerjasama dengan ITB, seorang dosen ITB datang ke FIPIA untuk memberi pelatihan selama 6 bulan sekaligus menjalankan proses penyeleksian. “Kami sama sekali tidak tahu kalau dosen dari ITB itu melakukan penyeleksian. Yang kami tahu beliau melakukan pengkaderan. Kami dibina disuruh menyiapkan labor dan beberapa kegiatan. Setelah 6 bulan baru diberi tahukan bahwa ia diminta menyeleksi 10 dari 54 orang yang ikut bimbingan bersama beliau. Ia sudah menilai kerja kami dan sudah mendapatkan 10 nama untuk dikirim ke ITB melanjutkan sarjana. Saya termasuk yang dipilih. Padahal sebelumnya saya kecewa karena tidak terpilih dalam penerimaan asisten sedangkan saya sudah jadi asisten luar biaasa Pak Syofyan Asnawi. Ya, mungkin garis nasibnya saya harus ke ITB. Jadinya kami 10 orang itu lanjut ke ITB tanpa beasiswa karena kampus tidak bisa memberi beasiswa. Cuma Pak Harun mengupayakan agar diangkat jadi asisten golongen E2, sebagai biaya hidup,” papar Marlis. Dari 10 orang itu, 2 gagal. Namun dari 8 orang yang selesai, hanya 4 orang kembali ke Unand. Lainnya tersangkut di Jawa. Marlis tidak tergoda untuk menetap di Jawa karena factor orang tua. Mereka sudah tua. Apalagi, sebelum berangkat itu, Marlis menjabat ketua Senat yang sangat sering berkomunikasi dengan Rektor. Dari pembicaraan itu Marlis menangkap isyarat bahwa sang Rektor betul-betul mengharapkan mereka untuk membangun Sumatera Barat. Makanya tekadnya untuk pulang sangat kuat. Padahal ia sempat ditahan oleh rector ITB kala itu ddijabat Dodi Suryaatmaja. “Beliau menawarkan saya menetap menjadi asistennya untuk dua atau 3 semeter, karena ia ditugaskan ITB ke Malaysia mengajar di Mara. Saya termasuk salah satu anak bimbingannya. Saya menolak. Tetapi beliau ngotot dan meminta langsung pada Mardinsyah, sekretaris jurusan kami yang kebetulan sedang mengikuti pertemuan di Bandung. Untung Pak Mardin menguatkan dengan alas an bahwa saya sangat dibutuhkan di Unand.,” jabarnya. Mengabdi untuk Unand Jika berprestasi baik, ada-ada saja peluang terbuka untuk seorang Marlis Rahman. Saat pulang, Mardinsyah yang sekretaris jurusan itu mengundurkan diri karena menjadi anggota DPR RI . Marlis ditunjuk menggantikan Mardinsyah. Karir Marlis terus melaju. Ia ditawari teman-temannya maju dalam pemilihan dekan. Ia berusaha menolak karena belum saatnya untuk maju, apalagi calon lainnya adalah Ahmad Mahyuddin kala itu adalah bekas gurunya di SMA. Tidaklah mungkin ia bersaing untuk posisi dekan dengan sang guru. Namun teman-temannya bersikukuh, Marlis tak bisa menghindar, hanya saja tidak mempromosikan diri atau berusaha. Mengalahkan diri dalam proses pemilihan, Marlis malah mengabdi di SMA Semen Padang yang baru berdiri. Saat itu Azwar Anas menjabat Dirut Semen Padang. Diakui pria kelahiran 9 Juni 1942 ini, menjadi kepala sekolah mempunyai warna tersendiri bagi hidupnya. Ia bersama wakilnya Jurnalis Kamil waktu itu merasa enjoy dan menikmatinya. Meski hanya tiga tahun, berada diantara murid-murid SMA dan mengantarkan mereka sampai lulus ujian adalah kesenangan luar biasa baginya, apalagi mereka adalah anak pertama dari sekolah itu. Sayang tak lama, karena FIPIA Unand sudah menanti. Di kampus yang juga almamaternya, tengah melakukan pemilihan dekan. Kali ini, Marlis didesak untuk kembali ikut berkompetisi. Iapun terpilih dan merasa siap membawa fakultasnya menuju perubahan dan menjadi yang terbaik. Karena keseriusannya, pada periode berikutnya (1980 – 1982), Marlis kembali dipercaya menjadi Dekan. Selain itu ia juga merangkap sebagai Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup Unand. Satu hal yang sangat menyedihkan bagi Marlis, ayahnya meninggal sebelum sempat menyaksikan puncak karir anak bungsunya. Ia yang menjadi kebanggaan keluarga, mesti mengikhlaskan kepergian ayahnya menghadap sang Khalik tahun 1981 dua minggu sebelum ia berangkat ke Amerika. “Sebelum berangkat Apak sempat terlompat bicara kepada tetangga. Kata Apak, kalau betul saya akan berangkat , mungkin tidak akan bertemu beliau lagi. Tapi tetangga itu tidak menyampaikan kepada saya. Setelah Apak meninggal baru ia menceritakan kepada saya. Apak meninggal malam hari setelah siangnya saya ke Jakarta mengurus visa untuk ke Amerika,” ujarnya. Begitu juga dengan ibunya, Lian. Ibu yang sangat pengasih itu pergi setahun sebelum ayahnya meninggal. Marlis sedang mengikuti penataran sebulan di Samaarinda. Jarak yang begitu jauh dan transportasi yang belum semudah sekarang membuatnya harus merelakan ibunya dimakamkan tanpa harus menunggunya sampai di rumah. Namun semangat kedua orang tua yang terus mendorongnya untuk sekolah dan mengejar prestasi tetap menjadi motivasi bagi Marlis. Ia tak membuang kesempatan ketika mendapat beasiswa melanjutkan S2 di Amerika dan langsung S3 di perguruan tinggi yang sama, Ohio University Athens USA tahun 1985 – 1990. Uniknya, sebelum ke Amerika, jabatan dekan yang dipegangnya, seolah disambung lagi pada pada tahun 1990 saat ia kembali. Ia diberi amanah lagi tahun 1990 – 1993 dan tahun 1994, yang sudah berubah nama menjadi FMIPA. Tak berhenti sampai disitu, tahun 1994, dengan prestasinya menjadikan FMIPA berkembang pesat, Marlis dipromosikan menjadi Pembantu Rektor I Unand sampai tahun 1997. Hidupnya yang tak neko-neko, jujur dan kerja keras, akhirnya membawa Marlis menuju tampuk pimpinan di Universitas Andalas. Jabatan sebagai Rektor, dipercayakan padanya dalam dua periode (1997 – 2005) Gagasannya membentuk Forum Rektor dan menjadi ketua forum itu untuk periode pertama, aktif di Ikatan cendekiawan Muslim Indonesia, terlibat dalam berbagai aktifitas social lainnya untuk masyuarakat, menjadikan sosok Marlis Rahman sebagai tokoh yang sangat terbuka. Ia bisa diterima dimana saja, di seluruh kalangan, berbeda dengan kaum intelektual lainnya yang cendrung menjadi menara gading dan besar hanya di lingkungannya sendiri. Karena itu pula pada Pilkada Sumbar tahun 2005 ia ditawari bersanding dengan Gamawan Fauzi sebagai wakil gubernur. Terpilih sebagai wakil gubernur hasil pilkada itu membuat pengabdian Marlis semakin luas. Tidak hanya untuk Universitas Andalas dan dunia pendidikan, namun lebih kompleks, memberikan yang terbaik bersama Gamawan membawa Sumatera Barat menuju lebih baik. Ia tak hanya sebagai pendamping, tetapi mempunyai komitmen bersama Gamawan berbagi tanggung jawab sesuai dengan kepiawaiannya. Bersama Gamawan ia berhasil membawa Sumatera Barat sebagai propinsi yang berhasil dan sukses dalam pelaksanaan pembangunannya. Menekan angka kemiskinan, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi pengangguran, adalah poin sukses yang diberikan oleh pemerintah pusat. Empat tahun bekerjasama dengan Gamawan, mengatasi berbagai persoalan Sumatera Barat, mengembangkan ranah Minang, mensejahterakan masyarakat bukanlah hal yang sulit bagi Marlis meneruskan pemerintahan sebagai Gubernur, begitu Gamawan diangkat menjadi Mendagri. Kejujuran dan kecerdasan adalah paduan yang ideal bagi sosok pemimpin.. Marlis bukan saja telah menjadi sosok yang dibanggakan keluarga tetapi juga menjadi kebanggaan Sumatera Barat. Sebagai ketua Umum Palang Merah Indonesia, saat ini Marlis lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada kegiatan kemanusiaan. Selain ke kampus, aktifitas social, Marlis menghabiskan waktu luangnya dengan menikmati liburan bersama anak satu-satunya Salsa dan sang istri Mairawita Marlis yang dengan setia mendampinginya. (nita indrawati)





