Terbetik
- Warga Solok Khawatirkan Angin KencangRabu, 19 Juni 2013 14:46 wib
- Putusan MK Harus DiterimaRabu, 19 Juni 2013 14:40 wib
- MK Tolak Gugatan Eri-Meldi dan FaderRabu, 19 Juni 2013 14:37 wib
- Warga Datangi Lokasi Perampokan BPR KhatulistiwaRabu, 19 Juni 2013 13:04 wib
- Khaira Ummah Ikur Koto Lahirkan Generasi QuraniRabu, 19 Juni 2013 11:53 wib
- 113 Kuda Berpacu di 14 Race PenyisihanRabu, 19 Juni 2013 11:46 wib
-
Inilah Rute Tour de Singkarak 2013
PADANG -Tour de Singkarak, iven pariwisata dan sport yang dimulai hari ini mempunyai 7 etape ... baca selengkapnya »
Komentar
Baginya Tantangan Adalah Peluang

Karena nilainya saat pembagian jurusan di SMA tak memadai untuk masuk ke jurusan IPS, apalagi IPA, akhirnya ia terdampar di jurusan Bahasa. Meski menyesal telah belajar ogah-ogahan, namun tak ada pilihan lain. Ia harus menerima dengan segala konsekwensinya. “Ya…. terima saja takdirnya. Mau gimana lagi? Semua teman-teman di SMA itu tahu, bahkan menganggap jurusan bahasa adalah anak-anak buangan. Tapi saya siap menerima kondisi itu,” ungkap Iswandi Said kepada padangmedia.com. Di SMA Don Bosco, tempat sekolahnya dulu, memang tidak ada kompromi. Tidak bisa main-main dengan nilai. Makanya, ia tidak ingin merengek-rengek atau memohon agar bisa pindah jurusan. Ia juga tidak melakukan aksi protes seperti yang dilakukan temannya. Meski protesnya positif, tapi Wandi, begitu ia disapa, tetap konsekwen, menerima hasil itu apa adanya. “Saya terima jurusan bahasa itu dengan apa adanya. Saya tidak mau protes. Mungkin inilah kemampuan saya. Lagipula jurusan bahasa itu tidak buruk-buruk amat kalau kita bisa menyikapinya. Memang betul, dari jurusan itu tidak bisa banyak pilihan di perguruan tinggi seperti jurusan IPA. Tapi karena tidak banyak pilihan itu kita jadi focus,” jelas Wandi yang saat itu jumlah murid dikelasnnya hanya belasan orang. Tamat SMA, ia ikut seleksi perguruan tinggi dan ternyata diterima di Fakultas Hukum Universitas Andalas dan Universitas Indonesia. Ia lebih memilih ke UI. Artinya ia harus pindah ke Jakarta. “Saat itu ayah saya sangat kecewa. Sebagai pedagang ia ingin saya, anak bungsunya menetap di Padang. Keinginan ayah, saya tetap di Padang, meneruskan usaha ayah. Tapi saya pikir, di Jakarta akan lebih berkembang dan saya bisa mandiri. Saya sadar, ayah sangat kecewa,” kisahnya . Kekecewaan sang ayah memang berbuntut pada kehidupannya di Jakarta. Meski ayahnya punya rumah di Jakarta, Wandi lebih memilih tinggal sendiri dengan kos-kosan di Rawamangun, dekat dari kampus FHUI, jauh dari fasilitas orang tua. Namun ia tidak meratapi diri dengan keterbatasan itu, meski selama di Padang, ia terbiasa hidup serba ada. Keterbatasan itu justru membuat semangatnya terpacu. Bagaimanapun ia harus mencari tambahan uang untuk membiayai hidup. Pada tahun kedua, ia melamar ke Garuda. Sebagai mahasiswa, ia hanya bisa menyertakan ijazah SMA. Wandi diterima bekerja di bagian penghitungan tiket dan pendapatan. “Waktu diterima itu, mereka tahu saya masih kuliah. Makanya saya disuruh pindah untuk kuliah sore. Jadinya, pagi kerja, sore kuliah,” ujarnya. Berkarir di Garuda Selesai kuliah tahun 1985, ia bisa menyesuaikan ijazahnya dengan posisi pekerjaannya. Kuliah di hukum, ia seharusnya bisa masuk ke bagian hukum Garuda. Sayangnya posisi di sana sudah penuh. Iapun dipindahkan ke bagian humas. Disanalah Wandi belajar banyak hingga tahun 1988. Karena kerja kerasnya juga, Wandi bisa mencapai posisi sebagai salah satu manajer di Divisi Humas. Sebagai pekerja keras, Wandi tak bisa puas dengan pekerjaan itu saja. Iapun diberi kesempatan mengikuti Basic Commercial Course angkatan 89. Ketika ada kesempatan untuk maju dan mengembangkan diri, ia akan mengambil peluang itu. Tahun 1988, ia langsung ditugasi mengurus ticketing Garuda. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya hingga tahun 1993. Pengalaman di ticketing itu membawanya pada posisi asisten General Manager di Singapore. Perusahaan seperti Garuda memang sangat memberi apresiasi terhadap karyawannya yang berpotensi. Melihat potensinya, karir Wandi terus melaju. Ia menjadi sales manager di Makassar tahun 1996 – 1999 dan menanjak menjadi General manager di Perth. Sebuah lompatan yang cukup tinggi tentunya. “Biasanya, setelah menjabat Sales Manager, seseorang akan menduduki jabatan GM dulu di dalam negeri. Tapi saya malah dipercaya menjadi GM di luar negeri. Alahamdulillah, Garuda memberi kepercayaan kepada saya untuk memegang posisi GM di luar negeri,” ungkap Wandi yang menjabat GM di Perth hingga tahun 2003. Kala menetap di Perth, Wandi bersama keluarganya tidak mengalami kendala. Karena anaknya Widya yang sulung bersekolah di Australian Islamic Collage . Namun saat pindah ke Sydney, tahun 2003, Widya masuk di Sekolah Katolik. “Dia masih 12 tahun. Sekolahnya Katolik, kayak SMA DB di Padang itu. Sulitnya saat ramadhan. Widya ngotot tetap puasa. Selama 6 tahun di Australia, puasanya penuh. Pertama-tama itu gurunya marah dan teriak-teriak karena kasihan ama Widya. Gurunya telpon saya supaya Widya nggak usah puasa. Nanti Widya bisa dehidrasi karena nggak minum-minum. Tapi lama-lama gurunya ngerti kok,” papar Wandi. Disana Wandi menjabat sebagai Direktur Garuda Orient Holiday, anak perusahaan Garuda berkedudukan di Sidney. Membuka Rute Eropah Dua tahun di Sydney, Wandi dipanggil pulang. Ia dipercaya menjadi Vice President Human Resources tahun 2005 – 2007. Kemudian terbang lagi menjabat sebagai Area Manager untuk Asia Tenggara, membawahi Singapore, Malaysia, Vietnam, India, Taiwan, Phillipinne dan Hongkong. Dalam masa itu, tahun 2009, ia ditugaskan membuka kembali rute Eropah yaitu Dubai, Amsterdam. Disini menurut Wandi, ia seolah mendapat beban dan tantangan yang sangat besar. Bisa dibayangkan rute Amsterdam yang dulunya tahun 2004 sempat ditutup karena beberapa persoalan lalu ditugaskan padanya untuk membuka kembali. “Bagi saya, apapun pekerjaan itu semuanya dilihat dari segi tantangannya. Saya tidak memilih-milih. Kalau dipromosi, saya tanya dulu tantangannya. Kalau saya merasa ditantang, saya harus ambil dan mengangapnya sebagai peluang. Tantangan itu membuat adrenalin saya terpancing,” ujarnya. Seperti membuka kembali rute Eropah. Tahun 2004 Garuda pernah terbang ke Eropah. Tahun 2005, bulan Maret Garuda cabut dari Belanda. Kemudian tahun 2010, Wandi ditugasi membuka kembali. Menurut Wandi, airlines Indonesia agak disangsikan masuk Eropah. “Kita meninggalkan Eropah dalam kondisi kurang baik. Waktu masuk kembali banyak hal yang mesti diselesaikan. Kita mesti yakinkan mereka. Tidak serta merta orang percaya. Pekerjaan paling berat itu memang saat membuka rute Eropah kembali. Kita terkait hukum perburuhan setempat. Seemuanya harus mulai dari awal seperti mengurus izin terbang, membuka kantor disana. Karena dulu pernah disana, kemudain cabut orang nggak bisa langsung percaya,”jelasnya. Dari segi SDM, Garuda di Amsterdam sudah ready , tinggal lagi bagaimana meningkatkannya. Ketika meninggalkan Amsterdam, menurut bungsu dari 5 bersaudara ini, kondisi pembukuan dan penumpangnya sudah bagus. Sekarang kedengarannya ada tantangan juga garuda disitu. Rencanaya Garuda juga akan membuka rute ke Paris. Setelah Amsterdam, Wandi bergabung dengan Abacus, masih anak perusahaan Garuda. Ketika masuk di Abacus, kondisinya merugi. Ia ditantang untuk menjadikan perusahaan itu BEP. Alhamdulillah, katanya, pada Juni 2011 lalu sudah bisa memberi keuntungan sekaligus menutupi kerugian di kwartal pertama 2011. Perusahan seperti Abacus yang bergerak dalam sistim reservasi airlines, menuntutnya untuk terbang kemana-mana. Ia harus menawarkan kepada travel agen dimana saja agar menggunakan Abacus untuk melakukan pembukuan airlines. Yang tergabung di Abacus seperti Garuda Indonesia, Malaysian Airlines dan 200 lebih airlines di dunia. “Kita harus memotivasi airline dan travel agen menggunakan Abacus. Ada sekitar 200 lebih airlines di dunia yang tergabung dengan Abacus. Tidak hanya reservasi penerbangan, tetapi juga reservasi hotel, car rental, kereta api dan asuransi perjalanan. Misalnya ada sebuah agen perjalanan yang mau menghandel tour ke Eropah, mereka bisa pakai reservasi Abacus,” ungkap ayah dua anak ini. Dilihat dari latar belakang pendidikan dan ruang lingkung kerjanya, menurut Wandi banyak yang tidak sesuai. Namun katanya, latar belakang pendidikan itu ia tempatkan sebagai pengayaan diri. Pendidikan di Fakultas Hukum, jika dimanfaatkan dalam pekerjaannya, terkait pada kemampuan negoasiasi dan aspek hukum lain. Kalau sehari-hari seperti yang dijalaninya sekarang di Abacus atau sebelumnya, lebih banyak pada sisi marketing. “Ilmu marketing ini saya gali melalui training yang diberikan Garuda ditambah pengalaman selama kerja. Karena sehari-hari sudah berkecimpung dengan marketing, dengan sendirinya belajar. Yang menonjol memang kemampuan marketingnya,” ulasnya. Memang, diakuinya, cara kerja di Abacus dan di Garuda agak beda. Karena segmennya berbeda. Bila di garuda ia berurusan dengan penumpang dan penjualan tiket, di Abacus ia berhubungan dengan agen penerbangan dimana-mana. Kesulitannya sepertinya tidak terlihat, hanya transaksi dan kontrak. Tetapi begitu datang ke tiap perwakilan, ia melihat situasi lingkungan, pendekatan dengan local culture. Tantangan seperti itulah yang ia hadapi. Sejak di abacus, hamper setiap minggu ia melakukan perjalanan ke kantong-kantong penerbangan. Abacus , merupakan kerjasama Indonesa dan asing. Tetapi di Indonesia, saham Abacus, 95 persen milik Garuda Indonesia dan 5 persennya Abacus internasional yang berkedudukan di Singapore. Dari usaha dan kerja keras sehingga memperoleh karir yang bagus, sayangnya, sang ayah tak dapat menyaksikan lebih lama. Ayahnya H.M. Said sudah dipanggil menghadap sang khalik tahun 1994. Ibunya Hj. Nurina Said yang berusia 92 tahun menetap di Padang. Bagaimanapun, karirnya di dunia penerbangan ada pengaruhnya dari ayahnya, meski si ayah mengharapkannya jadi pedagang. Pernah Bercita-cita Jadi Pramugara Diceritakan Wandi, ketika ia masih kanak-kanak sering diajak ayahnya ke Tabing (lapangan udara padang dulunya). Ketika SMP itu, ia sudah hafal jenis-jenis pesawat. Sebagai pengusaha sukses di jamannya waktu itu, ayahnya sering mengajak Wandi dan saudara-saudaranya melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Bahkan ia sudah pernah diajak ayahnya ke Singapore, kala sang ayah mengurus bisnisnya di sana. Karena perjalanan bersama orang tua itu pula, Wandi pernah bercita-cita menjadi pramugara. Meski waktu kecil juga ingin jadi dokter, tapi dengan nilai SMAnya ia nyangkut di jurusan bahasa, adalah sangat tidak mungkin ia mengejar cita-citanya ke fakultas kedokteran. Ia sangat sadar, tidak mungkin masuk Kedokteran. Makanya ia beralih menjadi pramugara saja. Itupun tidak dirintisnya karena kuliah di fakultas hukum dan bekerja di kantor Garuda. “Tapi cita-cita saya itu jadinya kesampaian juga. Waktu itu tahun 1998, ada rekruitmen pramugara haji. Secara intern, kami di Garuda diberi kesempatan, tapi tetap melalui seleksi. Karena keinginan itu sudah ada sejak masih sekolah, saya coba-coba ikut. Ternyata lolos dan ditempatkan di Medan. Saya terbang dari embarkasi Medan membawa jemaah haji,” jelas laki-laki asal Sungayang ini seraya tersenyum. Lama menetap di luar negeri, Wandi merasa pola pikirnya jauh lebih panjang ke depan. Berhadapan dengan agama dan budaya yang beragam, mengharuskannya untuk cepat menyesuaikan diri. Bagi wandi dan istrinya Dina mungkin tidak terlalu masalah. Tetapi bagi kedua putrinya Widya dan Adilla, lama di luar negeri membuat cara berpikir mereka berbeda dengan anak-anak remaja di Indonesia. Seperti Widya misalnya. Kata Wandi ia sangat ingin putri sulungnya itu kuliah di Yogya. Padahal ia sudah diterima tanpa test disana. “Tapi ia memilih Bradford University United Kingdom jurusan manajemen bisnis. Sekarang ia menetap di Singapore menyelesaikan skripsinya. Sebetulnya awalnya kami sempat konflik, saya kecewa. Saya mau dia masuk kedokteran, karena ibunya juga seorang dokter. Tapi dia tetap ngotot dan mengatakan itu pilihannya dan akan bertanggungjawab atas pilihannya itu.” Sebagai remaja putri tinggal sendiri di apartemen di luar negeri, Wandi memberikan kepercayaan terhadap anaknya. Sebab, ia yakin pembentukan karakter sejak dini adalah bekal yang cukup untuk hidup terpisah dari orang tua. Apalagi ia dulunya juga sempat sekolah di Al Azhar dan sekolah muslim di Perth. “Alhamdulillah, ia aman-aman saja. Jauh dari pergaulan bebas, gaya hidup luar dan tidak mudah terpengaruh,” ucapnya. Sementara si bungsu Adila, meski masih sembilan tahun, tetapi cara bersikapnya sangatlah mandiri. Ia memiliki kepercayaan diri, ketika kembali ke Indonesia mengalami sedikit shock culture. “Mamanya sekarang focus pada Dila karena agak shock culture. Sebagai dokter, ketika pulang ke Indonesia mamanya masih belum terikat dengan rumah sakit . Jadi bisa punya banyak waktu menemani Dila,” tukasnya. (nita indrawati)





