KIRIMAN ORANG TUA SELALU TELAT

Ia Harus Berpikir Mencari Uang sendiri

padangmedia.com , Senin, 07 Maret 2011 00:00 wib

Usaha Songket Silungkang yang sekarang menjadi andalannya, tidak langsung begitu saja menjadi besar seperti yang dimilikinya sekarang. Perjuangannya mencapai semua itui benar-benar diawalinya dari nol. Sebagai anak petani dipandai Sikek, ia menyadari kehidupan orang tuanya tidaklah akan cukup untuk membiayai kuliahny dengan 4 orang adik-adik. Nelvi, harus berpikir bagaimana agar biaya kuliah dapat tertutupi. Semula, karena alasan ekonomi juga, ia memiliki cita-cita sebagai guru. Karena pikirnya kala itu, ia bisa cepat bekerja dan mendapatkan uang. Maka Nelvi pun, saat usai SMA di Padangpanjang, tahun 1989, mengikuti Sipenmaru (sekarang UMPTN). Ia memilih jurusan Kimia, Biologi dan Bahasa Inggris di IKIP Padang . “ Dari tiga pilihan itu, saya diterima di jurusan kimia. Bagi saya, jurusan apapun tidak masalah. Yang penting bisa jadi guru. Karena tujuan saya cuma satu, segera bekerja menjadi guru. Saya dapat uang dan bisa membantu adik-adik yang juga kuliah. Apalagi sebagai perempuan, bekerja sebagai guru tidaklah begitu menyita waktu. Ia masih bisa mengatur waktunya jika ia berumah tangga nantinya,” jelasnya kepada padangmedia.com, suatu kali Namun, rencana yang ada dalam pikirannya, tidaklah sesederhana pelaksanannya. Pada tahun ke dua, ia mulai mengalami kesulitan untuk membiayai kuliah. Jika berhenti, terasa sangat sayang, karena banyak orang yang ingin masuk perguruan tinggi tetapi gagal dalam seleksi. Sebagai anak sulung, putri pasangan Syamsuddin dan Mursyida ini juga harus memikirkan biaya sekolah adik-adiknya di kampong. Sementara untuk dirinya sendiri, ia hanya dikirimi 50 ribu rupiah oleh orang tuanya. Semua biaya hidup dan kuliahnya dari uang itu. Jelas tidak bisa mencukupi kebutuhannya. “Kadang-kadang karena belum ada uang, orang tua saya telat mengirimkannya,” jelasnya. Karena itu, mau atau tidak, ia memutar otak agar beroleh pemasukan untuk membiayai kuliahnya. Suatu kali, saat pulang kuliah, ia diajak temannya, anak pemilik restoran Taman Sari Padang. Kala itu, ia minta ditemani ke Taman Sari. Disana, meski berupa restoran, Nelvi melihat ada juga menjual barang-barang berupa souvenir. Aming temannya itu mengusulkan bagaimana kalau Nelvi juga membuat souvenir yang bisa dijual disana. Nelvi pun tertarik. Ia pikir tak ada salahnya mencoba. Untuk menambah perbandingan, Ia dan Aming juga pergi ke took-toko souvenir lainnya melihat kemungkinan apa saja yang mungkin bisa dibuat. “Setelah melihat-lihat, saya pulang kampung. Saya sampaikan pada adik-adik rencana itu. Di kampong kami Pandai Sikek, kami sudah belajar menenun. Tetapi kalau membuat tenunan berupa kain songket dibutuhkan biaya mahal untuk membeli benangnya. Sedangkan kami tidak memiliki modal apa-apa. Hanya kemampuan menenun dan tekad. Maka kami putuskan untuk membuat souvenir berupa selendang dan gambar dinding. Kita bikin motif rumah minang. Minang village kami foto, rumah gadang dan rankiang. Kami pindahkan motif itu di selendang dan gambar dinding. jKami tidak bisa membuat songket karena songklet mahal modalnya. Makanya saya bikin yang kecil-kecil. Saya coba menawarkan ke took-toko . Ternyata mereka mau menerima,” papar Nelvi berkisah tentang awal perjuangannya menggeluti dunia bisnis. Selain mahir bertenun, Nelvi juga berminat dalam seni lukis. Sehingga bakatnya dalam seni itu dapat diapresiasikannya ke dalam motif-motif Minang sehingga kreasinya beragam. Meski dimulai dengan membuat produk dalam ukuran kecil, tetapi jumlahnya semakin banyak. Pesanannya terus meningkat, bahkan pemilik toko souvenir yang ada di Padang dan Bukittinggi rata-rata sudah menjualkan produknya. “Akhirnya kami menjadi pemasok rutin di toko-toko souvenir Padang dan Bukittinggi. Saking banyaknya permintaan, kami tidak bisa melayani lagi. Kami minta tolong pada orang-orang di kampong untuk memnuhi permintaan itu. Adik-adik saya jadi senang. Mereka terus bersemangat, bekerja bersama tetangga di kampong. Saya di Padang yang melakukan pemasarannya,” katanya. Terbiasa bekerja, Nelvi tak tinggal diam. Ia tetap ingin menenun. Nelvi memutuskan mmeboyong alat tenunnya ke Padang agar tetap beraktifitas. Ia pun menyewa sebuah rumah agar bisa pula mengajak beberapa orang lain ke rumahnya bekerja. “Alhamdulillah, semuanya lancer. Meski kadang-kadang tagihan di took-toko agak macet, tapi mereka tetap membayar. Keuntungan dari situ kami jadikan modal hidup sehari-hari dan membiayai kuliah. Adik saya juga ada 3 orang yang kuliah setelah itu. Sebelumnya, satu adik saya sempat menganggur karena tak ada biaya. Pada tahun ketiganya, karena sudah ada biaya, ia kuliah lagi. Ada yang kuliah di IAIN, kemudian di univ terbuka. Tahun berikutnya, adik yang kecil masuk pula di AMIK. Kami semua kuliah meski tetap bekerja. Adik-adik akhirnya bergabung dengan saya di Padang. Alhamdulillah semuanya bisa tertutupi dengan hasil kerja kami dengan tenunan,” urai Nelvi. Bahkan ketika salah satu adiknya sakit yang membutuhkan biaya besar, masih bisa diatasi dari pemasukan mereka. Perkembangan usahanya berjalan pesat. Selain adik-adiknya, Nelvi juga menampung remaja putus sekolah dari kampungnya untuk dipekerjakan di rumah yang ia kontrak di Padang. Ada 12 orang yang dibawanya serta. Namun hanya bertahan 3 tahun karena menurut Nelvi mereka kurang disiplin, padahal pesanan yang dating harus diselesaikan tepat waktu. “Hanya bertahan 3 tahun dihentikan karena orang-orang itu tidak disiplin. Aturan kerja sudah jelas, tapi tidak displin. Mereka suka bangun siang karena malam begadang. Jadi susah. Tidak sesuai pengeluaran dengan pemasukan. Payah mengatur mereka. Apalagi saya perempuan, mereka semua laki-laki. Saya memang memilih laki-laki karena perempuan resikonya lebih besar. Kalau cowok datang ke sini, saya kan repot,” alasnya. Hingga selesai kuliah tahun 1994, Nelvi tetap menekuni usahanya. Memang pernah ia mencoba mengajar di sebuah sekolah swasta untuk mengaplikasikan ilmunya dari IKIP. Namun sebagai guru honor, gajinya tidaklah memadai. Uang honor itu tidak memadai untuk ongkos transportaasinya. “Saya pikir adik saya banyak kuliah, butuh biaya, saya tangguhkan ngajar. Saya tidak mengajar lagi. Saya putuskan untuk terus mengelola bisnis ini,” jelas ibu kelahiran 25 Juni 1970 ini. Karena kuliahnya sudah selesai, Nelvi lebih focus mengurus usahanya. Ia tetap sebagai pemasok barang-barang ke toko-toko yang ada di Padang dan Bukittinggi. Setiap tahun omsetnya meningkat dan pesannnya bertambah. Dari nilai Rp. 500.000,- awalnya, meningkat terus sampai mencapai puluhan juta. “Ya, diperkirakan bisa lebih Rp. 20 juta,” kata Nelvi yang lebih banyak di kampong setelah selesai kuliah. Nelvi tidak hanya membuat souvenir. Ia selalu berusaha mencari variasi dari motif dan jenis produknya. Ia tidak membuang sisa kainnya. Dari bahan perca ia membuat bross, dompet , jepitan dan gantungan kunci. “Saya ajak orang-orang di kampong bekerja. Ada satu keluarga yang khusus membuat dompet. Awalnya kami tidak buat banyak-banyak. Kalau tidak ada komplen saat dilempar ke pasar, barulah kami produksi dalam jumlah besar. Adik-adik saya tetap membantu meski sudah ada juga yang selesai kuliah. Bahkan adik-adik juga sudah bisa mengantar barang dan menagih ke toko. Tapi mereka kurang betah. Dalam menagih butuh kesabaran. Akhirnya saya yang selalu berurusan dengan tagihan di took-toko itu,” paparnya. Dengan statusnya yang masih sendiri dan tuntutan mengejar target, Nelvi belum berpikir untuk memiliki toko sendiri. Ia sudah kerepotan memenuhi permintaan dari toko-toko langganannya. . Diantara toko yang menjadi pelanggannya adalah Toko Sovenir Sartika di Jalan jendral Sudirman Padang. Sejak tahun 1991 ia sudah memasukkan produknya ke Sartika. Tetapi kala itu ia hanya kenal dengan Zulkifli, hanya sebagai pemilik Sartika. “Mulanya hanya sebagai mitra bisnis. Biasa-biasa saja,” ucapnyaa saat disinggung awal perkenalannya dengan suaminya. Ternyata setelah 5 tahun bermitra, hubungan mereka jadi dekat. Tahun 1997 pasangan ini memutuskan untuk menikah. Meski sudah menikah, hubungan sebagai pemasok dan pemilik toko masih tetap berlanjut. Tetapi usaha di kampungnya sudah banyak dikelola oleh adik-adiknya. Ia dan suaminya mengontrak rumah di kawasan Tabing Padang. Terbiasa sibuk dan bekerja, Nelvi tak bisa diam. Di rumahnya, ia menampung pula beberapa orang untuk bekerja . Ad a 2 kamar untuk anak-anak bekerja. Mereka yang dulu pernah bekerja dengannya waktu di Padang ia tawarkan kembali bekerja. Garasi rumahnya disulap menjadi bengkel bagi pekerjanya. Hanya beberapa tahun, pada tahun 2000 Nelvi dan suaminya pindah ke Sungai Beremas Padang. Ada tempat yang sudah 22 tahun tidak dimanfaatkan pemiliknya. “Kami perbaiki, diberi keramik dan dirapikan. Kami buat seperti perkampungan tenun. Di istu kami ajak masyarakt setempat belajar. Kita sediakan alat, mereka datang dan belajar. Dari hasilnya, mereka berikan barang pada kita. Mereka dapat kepandaian dan upah, kita dapat barangnya,” ungkapnya. Hingga tahun 2007, lebih dari 20 orang yang bekerja di tempat Nelvi. Selain yang tetap itu, banyak juga penduduk setempat yang bekerja di rumah mereka masing-masing. Karena tempatnya sudah ditata sedemikian rupa, banyak wisatawan melalui travel agen yang berkunjung ke tempatnya. “Hampir tiap hari ada saja tamu yang dating. Sebelum 2007 itu kan wisatawan masih banyak ke Sumbar. Kalau mereka berkunjung ke Padang, pasti mampir ke tempat kami. Mereka mau datang melihat orang kerja, setelah itu baru ke show room belanja. Waktu itu ada 17 tempat tenun. Tempat itu sudah kami perluas sampai belakang dengan ukuran 7 kali 22 meter,” terangnya lagi. Disana, mulai anak SD, SMP dan ibu-ibu, mereka diajar juga menjahit kepala samek, untuk dompet dan tas. Diakui Nelvi keberadaan songket mulai bergeser. Sulaman lebih dominan dan laku. Makanya Nelvi juga harus mengikuti perubahan itu. Ia membuat baju, dompet dan stelannya. Disamping songket ia juga mengolah bordiran, krancnag langsung, rajutan, sulaman. “Semuanya kita harus punya. Motifnya berubah-ubah, kita juga harus sesuaikan dengan permintaan dan trend saat itu. Dengan mengikuti perkembangan itu, produk kita tetap laku,” sebutnya. Jika ada pendapat yang mengatakan bahwa tenunan pandai sikek tidak boleh diajarkan kepada orang lain kecuali masyarakat asli Pandai Sikek, Nelvi tidak sependapat dengan hal itu. Meski di zaman nenek moyangnya dulu pernah ada tradisi semacam itu, Nelvi menilai, akhir-akhjir ini sudah berubah. Ia sendiri tidak belajar langsung dari ibunya. Ia mendapatkan kepandaian menenun dari nenek dan saudara-saudara neneknya. “ Tapi bagi saya tidak. Sebetulnya sama saja. Orang umum juga bisa. Yang penting ada kemauan belajar,” tegassnya. Jika sebuah usaha sudah memperlihatkan hasil, menurut Nelvi, semua jalan bisa terbuka. Banyak peluang yang bisa diraih, termasuk mendapatkan bapak angkat. Tahun 2003, Nelvi mendapatkan dukungan dari Pertaminan dalam program pembinaan usaha kecilnya. Diakuinya, perhatian BUMN sepertinya lebih konkrit ketimbang Dinas Perindustrian dan perdagangan yang bertanggung jawab membina usaha kecil. “Perhatian dari perindustrian, apalah perhatiannya. Kita usaha sendiri. Termasuk untuk pameran pun, kita tidak terlalu tergantung pada mereka. Kita sama tahu sajalah,” katanya seraya tertawa. Nelvi justru lebih beruntung dibina Pertamina. Mereka membawa produk Nelvi pameran. Hingga sekarang, sebut Nelvi, Pertamina masih melakukan pembinaan, sekalipun usahanya sudaha maju. “sampai kini masih jalan. Kita ddiberi pinjaman lunak. Jika ada informasi pameran, kita diajak ikut. Mereka menanggung semua keperluan kita. Tahu beres saja, bawa produk dan gelar barang. Kalau dengan pemerintah susah. Satu yang pergi, tapi mereka tidak mau membawa titipan barang lain. Kalau pergi bersama-sama, diambil 2 stand, kami ada 12 orang, kan repot. Makanya kalau mau pergi, saya cari jalan lain. Saya lebih sering pergi dengan Pertamina,” kata ibu 3 anak laki-laki ini tanpa bermaksud mengecilkan arti pihak lain. Sekarang, usaha yang dirintisnya dari nol, sudah membuahkan haasil. Keleuarganya sangat terbantu dengan adanya usaha itu. Sekarang, Ibu dari M Zakrul Khalis (11), Miftahul Khair (10) dan M Zilal (8) itu sudah bisa bernafas lega. Bersama suaminya ia membuka rumah Songket di Jalan Ratulangi Padang. Dengan halaman yang luas, yang bakal disiapkan untuk tempat menenun, ia ingin menciptakan rumah songket yang representative. Tempat ini, akan didisainnya untuk bengkel yang akan menampung dan mempekerjakan sejumlah remaja dan anak putus sekolah . Mereka akan didlatih bertenun dan diberi pekerjaan. Sekalipun urung mewujudkan cita-citanya sebagai guru, ia tetaplah seorang pendidik yang selalu siap melatih siapa saja yang mau belajar darinya. Untuk pembinaan yang pernah ia lakukan pada masa sebelumnya, pada tahun 2007 ia mendapat penghargaan dari pemerintah dalam hal pemberdayaan masyarakat. (nita indrawati)