50 Tahun ASEAN, Perang Terhadap Terorisme Jadi Tantangan

Melda
By Melda August 11, 2017 16:20
Sejumlah kepala negara di ASEAN saat peringatan 50 tahun ASEAN di Jakarta, Jumat (11/8). (foto: humas setkab)

Presiden RI Jokowi bersama sejumlah menteri dan duta besar negara-negara ASEAN saat peringatan 50 tahun ASEAN di Jakarta, Jumat (11/8). (foto: humas setkab)

JAKARTA – Negara-negara ASEAN (Association of South East Asian Nations) hari ini, Jumat (11/8) memperingati 50 tahun kelahiran. Sejumlah kepala negara ASEAN menghadiri peringatan tersebut di ASEAN Hall, Sekretariat ASEAN, Jakarta Selatan, Jumat (11/8) siang.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam kesempatan itu memperingatkan bahwa negara-negara anggota (ASEAN) saat ini tengah menghadapi tantangan-tantangan baru, seperti ancaman terorisme, serta kejahatan lintas batas.

“Ancaman terorisme merupakan ancaman yang nyata, serangan terorisme di Marawi menjadi wake up call bagi kita yang perlu direspon dengan segera. Untuk itu, kita harus bersatu menggalang kerja sama, memperkuat sinergi untuk memerangi terorisme,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada Peringatan 50 Tahun ASEAN Tahun 2017.

Indonesia sendiri dalam menghadapi ancaman terorisme, menurut Presiden, telah menggagas sebuah pertemuan trilateral bersama Filipina dan Malaysia untuk bersama membahas penguatan kerja sama pemberantasan terorisme, di Manila 22 Juni 2017. Indonesia juga kembali menggagas pertemuan subregional bersama dengan Australia, Selandia Baru, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina, di Manado tanggal 29 Juli 2017 yang lalu.

“Saya yakin, dengan kerja sama yang lebih erat, lebih kuat, kita bersama-sama akan mampu melawan ancaman terorisme di kawasan ini,” tegas Presiden Jokowi.

Mengenai ancaman kejahatan lintas batas lain, Presiden Jokowi mengemukakan, yang perlu mendapatkan perhatian ASEAN adalah perdagangan obat-obat terlarang. “Kita harus menyatakan perang terhadap narkoba,” tegas Presiden.

Presiden Jokowi mengaku tidak ingin kaum muda ASEAN kehilangan masa depannya karena dirusak oleh obat-obat terlarang. Untuk itu, tegas Presiden, tidak ada jalan lain kecuali kita bersatu membebaskan ASEAN dari narkoba, dari obat-obat terlarang.

Presiden Jokowi juga mengemukakan, tantangan yang akan dihadapi oleh ASEAN di masa mendatang tidak mudah. Dari sisi politik keamanan, ASEAN akan menghadapi rivalitas negara-negara besar yang saling berebut pengaruh di kawasan Asia Tenggara maupun di level global. Di tengah rivalitas kepentingan negara-negara besar itu, ASEAN harus mampu menjaga kesatuan dan sentralitasnya.

Sementara itu, di bidang ekonomi, ASEAN harus semakin relevan dan semakin bermanfaat dalam menjawab berbagai tantangan bersama di tengah melemahnya laju perekonomian global. Integrasi ekonomi ASEAN, lanjut Presiden, harus mampu membawa manfaat bagi rakyat ASEAN, membawa manfaat bagi semuanya, membawa manfaat rakyat Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

“Membawa manfaat bukan hanya bagi pengusaha besar, tapi juga pada UKM, petani, nelayan, dan sektor informal. Mendatangkan manfaat bagi perempuan dan juga bagi anak-anak muda,” ujar Jokowi pada peringatan yang dihadiri pengurus Sekretariat ASEAN, serta sejumlah menteri dari negara-negara ASEAN dan duta besar dari negara-negara anggota ASEAN. (rin/*)

Melda
By Melda August 11, 2017 16:20
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*