Dokter Saenah Abdullah (DSA Holistik)

Bahagia Bisa Menyembuhkan Orang Lain

padangmedia.com , Selasa, 14 Agustus 2012 16:26 wib

Mengatur jadwal untuk bertemu dengannya, memang  terasa agak sulit. Sebab hari-hari belakangan ia banyak melakukan perjalanan terutama  ke Indonesia untuk melakukan pengobatan. Bahkan hingga ke kampung-kampung kecil, daerah pedesaan, yang menurutnya tak tersentuh oleh paramedis.

Kenapa ia mesti ke indonesia? Padahal  ia berdomisili di Kualalumpur,  berkeluarga dan memiliki banyak kerabat di Malaysia. Meski ditelusuri asal usul, sebenarnya ia berdarah bugis,  masih keturunan bangsawan yang enggan disebut-sebutnya, tetapi bukan alasan itu yang menjadi faktor utama ia berkeliling kampung demi kampung, menyusuri alam pedesaan dan menginap di daerah yang  tergolong miskin di Indonesia.

“Saya terdorong  ke daerah pinggiran Indonesia itu, saya melihat rakyat Indonesia banyak sakit kanker, gula darah dan hiper tensi. Saya lihat orang-orang  ini  pasrah karena kemiskinan. Saya dekati jiwanya. Saya tanya kenapa ndak ambil obat rumah sakit, katanya ndak punya uang, mau makan pun susah, saya kasihan. Padahal umurnya abru 40 tahun tapi tidak bisa bekerja lagi tidak bisa jalan karena asam urat. Mereka di kampung kan bertani, menananm padi, kerjanya banyak membongkok. Makanpun tidak punya nutrisi yang lengkap, dia sakit –sakitan  dalam usia muda. Saya coba rawat, rasanya enak kalau saya sentuh dia. Timbul lagi keinginan saya untuk meneruka jauh ke daerah lain di dalam kehidupan masyarakat  desa di indonesia,” ungkapnya.

Selain itu, ia, Dr. Saenah Abdullah, seorang ahli holistik,  melihat di Malaysia, begitu banyak orang Indonesia.  Ia sangat sedih menyaksikan kehidupan mereka di Malaysia. Mereka yang dimaksudkan Saenah adalah penduduk Indonssia yang datang ke Malaysia  sebagai TKI.  “Sedihnya,  tertanam dalam hati saya, dia datang ke sini lebih kurang 3 juta jiwa, bekerja sebagai buruh. Kerja buruh. Apalah yang mereka bisa dengan ilmu paku dan bekal pemukul saja.  Rata-rata mereka  tidak ada ilmu, tidak ada pelajaran, sedih sekali saya. Dengan semangat juang dia, dengan cara terang dan gelap untuk menyambung hidup  keluarga yang dibawah sejahtera. Saya coba mendekati mereka dan membawa mereka pada pembelajaran.  Mereka datang ke sini untuk berobat,  dan membuat lawatan. Saya ajak mereka memulai bisnis melalui produk herbal setelah saya lakukan pengobatan,” paparnya.

 

Diakuinya, untuk bisnis produk itu, bukanlah  hal utama. Baginya, pengobatan dari dialah yang paling utama.  Kebetulan produk herbal yang dipergunakannya sesuai untuk pengobatannya, yang ia yakini tanpa mengandung unsur kimia. , Iapun mengajak mereka  memulakan bisnis.

Dari sekian banyak orang Indonesia yang ia ajak , beberapa diantaranya menawarkan datang ke kampungnya di Jawa Timur.  “ Diantara mereka ada yang bilang, kenapa dokter tidak datang ke kampung saya? Datanglah, di kampung saya ramai orang sakit. Lalu saya dibawa alamatnya. Pertama kali  saya datang ke Madiun, dekat Ponorogo. Jawa timur. Itu pertama kali saya pergi  ke sana. Saya datang ke  Magetan, Sarangan, dan kampung lainnya. Saya banyak menemukan orang sakit. Suatu ketika saya ketemu dengan kepala kampung,  dia buat pengumuman di masjid ada dokter dari Malaysia. Ternyata  ramai, ada 30 orang berobat. Saya tertarik, saya mengobati dengan gratis, itu kebahagiaan saya.  Mereka rata-rata umurnya 50 ke atas. Kita sedih karena mereka banyak sakit tapi kita gembira karena bisa mengobati mereka. Setelah itu kami dipanggil lagi untuk kampung lainnya,” tuturnya terkait kunjungannya ke Indonesia.

Sejak itu, ia beberapa kali ke Indonesia, meneruka daerah-daerah yang sulit dijangkau. Ia sudah ke Medan, Labuan batu, Bangkinang, bahkan ke Bukittinggi.  Dalam perjalanannya itu, ia menemukan banyak orang-orang  mengidap penyakit yang tidak mampu mengobati dirinya.  Saenah sangat prihatin, bahkan memberikan obat gratis.  “Ketika saya sentuh, mereka bilang enak. Rasanya lain sekali saat saya sentuh dia melalui titik syarafnya. Tapi saya  tidak bisa lama menyentuh mereka,  karena orang berobat banyak.  Makanya mereka merasa tidak puas. Mereka minta saya buka praktek di sana. Dan mereka bilang kalau saya buka disana maka akan ramai orang berobat. Tapi saya belum bisa. Kalau saya buka disana siapa yang bakal  meneruskan klinik saya di sini,” kata Saenah yang sehari-hari membuka klinik Holistik bernama DSA (Dokter Saenah Abdullah) di Wisma Pahlawan jalan Sultan Sulaiman Kualalumpur.  

Menurut Saenah, suatu saat,  holistik perlu dikembangkan di Indonesia, untuk membantu berbagai jenis lapisan masyarakat. “Kerjanya memang penat tapi  kita  mendekati jiwa sesama manusia. Kalau kita pikirkan capeknya kita hari ini, mungkin tak akan terdayakan,” ujarnya.

Saenah tak kenal lelah. Bila melakukan pengobatan pada seseorang melalui pijatan tangannya,  satu pasien membutuhkan waktu sekitar dua jam. Di kliniknya, patokan jam memang tak bisa dipakai.  Satu pasien kadang satu setengah jam, bahkan ada yang perawatannya dari pagi hingga sore.  Namun secara normal diperkirakan dua jam.  Bila lebih, ia tak menghitung biayanya lagi. “ Merawat itu tidak dengan uang tapi dengan jiwa kita. Rata-rata orang bekerja untuk uang, siapa yang tak butuh uang. Untuk kesinambungan hidup kita. Tapi uang tidak segala-galanya. Di tangan kita ada tanggung jawab.  Jiwa kita adalah  jiwa yang boleh mendekatkan pasien dengan kita. Itulah cara yang paling baik dalam perawatan holistik, menyelami secara kejiwaan,” jelas Saenah yang sehari-hari dibantu  seorang asisten dan anak perempuannya Lyn  yang juga mendalami holistik karena pengaruh ibunya. Tetapi untuk kasus-kasus yang berat, Saenah belum memberikan keleluasaan pada anaknya.

Pengaruh Keluarga

Minatnya yang besar terhadap pengobatan holistik dimulai ketika ia bekerja di pusat perawatan aman Singapore. Kala itu ia bekerja bersama Prof.  Dr. Arman Thalib, mantan suaminya.  Sang profesor adalah anak Melayu pertama menjalani pendidikan di China.  Pengobatan itu, menurut Saenah betapa uniknya pengobatan dalam syaraf.   Mengamati pasiennya, Saenah tertarik dan ingin mempelajari secara detil. Kala itu,  orang Singapore yang sudah maju, memilih  perawatan  akupunktur. Setiap pasien yang ditanyai kenapa menggunakan akupunktur, kebanyakan mengaku sudah puas dengan  obat-obatan medis. 

“Saya bermimpi  suatu hari  nanti  saya pasti akan belajar ke China juga. Impian itu membuat saya termotivasi belajar dengan tekun. Sebanyak membaca tentang human body.   Saya tidak mau terbelenggu dengan kegagalan. Saya mesti jejak, saya harus belajar ke Shanghai. Karena bertekad,  saya lulus dan diterima,” ujarnya dengan nada yakin.

Ditanya keinginan  di masa kecilnya, sama sekali Saenah tidak berminat pada pengobatan. Ia cendrung pada bidang bisnis.  Makanya ia memilih bidang ekonomi dalam masa sekolahnya.  Saat menikah, mempunyai rumah tangga ia terfokus pada pengobatan membantu suaminya di Singapore sehingga tak sempat membuka bisnis seperti yang diimpikan pada masa kecilnya itu. Ketika pusat pengobatan suaminya itu membuka cabang di Malaysia, dialah yang menghendel.  

Karena sehari-hari sudah  menggeluti dunia pengobatan itu, Saenah makin berminat.  Atas  keinginan lebih mendalami, iapun berangkat ke China pada tahun 1996 dengan tujuan belajar.

Bergabung dengan Rui Jin Hospital Medical University di Shanghai,bukanlah hal yang mudah. Ia menghadapi banyak test dan seleksi. Berkat keyakinannya, Saenah diterima setelah melalui banyak tahapan. Dialah orang Melayu dari Malaysia pertama yang  di terima di unversitas itu. Kebanyakan  pesertanya adalah  orang China dari Singapore. “Orang kita jarang yang berminat. . Ada beberapa dari Malaysia juga tapi mereka  orang China. Lebih kurang 10 orang. Mereka lebih tertarik mengejar dokter umum dan modern.  Tapi saya sudah bertekad, akhirnya saya berjaya mendapat  sertifikat kedokteran itu,” ujarnya.

Tahap awal pendidikannya, kata Saenah dasarnya adalah belajar perasaan.  Bila seseorang sudah memberikan hati dan jiwa untuk dihargai barulah ia bisa memulainya. Hal ini disebabkan kerja dalam holistik itu berat. Bukanlah sama dengan membuka satu tempat perawatan seperti spa, tapi  membutuhkan profesionalisme.  Dalam masa pendidikannya, Saenah tidak mengkhususkan pada akupunktur tetapi pijatan alami dengan langsung menggunakan kekuatan tangannya . Menurutnya, sentuhan body to body  lebih mengena pada sasaran dan langsung pada titik-titik syaraf  si penderita sakit.  Tekanan jarum dengan tangan beda. Kalau saya tekan pasien dengan jarum nyeri sementara di permukaan kulit, sampai ke dalam tak ada apa-apa lagi. Jadi jarum yang bekerja dengan  bantuan listrik. Tapi antara chi manusia dan chi manusia lain melalui tangan itu lebih afdol.

Kembali ke Malaysia tahun 2002, ia tidak serta merta membuka klinik. Ia melakukan penelitian dan kajian mengenai herbal. Di China,  pengobatannya menggunakan herbal. Mereka memiliki  gudang perobatan herbal. Makanya sepulang dari China Saenah mencari sendiri obatnya.  Selama satu tahun ia melakukan kajian tentang herbal yang sesuai dengan holistiknya.  “Produknya memang herbal, tetapi herbal  mana yang paling tepat dengan penyakitnya.  Setiap badan manusia tidak sama. Lagipula, bukan semua herbal itu terbebas dari unsur kimia. Meski herbal, ternyata ada juga sedikit kimianya. Mana mungkin saya memberikan pada pasien saya produk yang memberi dampak pada buah pinggang dan levernya. Itulah yang saya kaji.  Saya ambil beberapa sampel herbal. Saya lakukan demo untuk diri sendiri.   Saya tidak menolak produk lain.  Tapi dari hasil kajian sekian lama, saya temukan produk ini. Kebetulan saja mereknya K-Link. Kalau ternyata dari hasil kajian itu produknya adalah merek lain, ya saya akan pakai merek itu. Saya tidak mengutamakan merek.. Kalau ada produk lain yang saya ketemu dulu dan cocok mungkin saya pakai produk lain.. Apapun produknya, karena percaya pada ini karena tidak mengandung unsur kimia, maka akhirnya  saya cocok dengan k Link. Jadi perlu saya garis bawahi,  prosesnya pengobatan dulu,  baru saya dapat produk.  Saya tidak akan membuat komentar kenapa tidak menggunakan produk herbal lainnya.  Biarlah orang menilai sendiri,” urainya.

Ditambahkannya lagi, proses penyembuhan dari produk lain agak lambat. Sementara dalam herbal yang dipergunakannya mengandung unsur CBA  yang melakukan proses pembersihan lebih dulu sehingga penyembuhannya lebih cepat untuk perawatan holistik.  Lagi pula, alasannya, produk herbal ini sudah mendapat sertifikat MUI. 

Meski belum membuka klinik sendiri, namun Saenah sudah mulai mengobati pasien.  Para pasiennya itu kebanyakan warga Indonesia. Masyarakat Malaysia diakuinya masih kurang percaya pada herbal.  Mereka lebih pada pengobatan modern. Jika dibandingkan antara Malaysia dan Indonesia, melalui kajiannya,  menurut Saenah lebih mudah merawat orang Indonesia sebab dalam darahnya belum banyak kemikal.  Jadi akan mudah dengan herbal. Sementara bagi orang Malaysia, prosesnya agak lama karena mereka sejak kecil sudah mengambaikl obat penyakitnya dari bahan-bahan kimia.  “Jadi larutan kimia itu sudah mengendap penuh. Lagi pula orang di Malaysia cepat berputus asa karena di rumah sakit biaya murah, asuransinya ada, dan angsurannya murah. Kalau saya obati dengan herbal makan masa lama. Akibatnya mereka putus asa dan  berbalik pada kimia. Memang butuh waktu panjang. Untuk kanker, tergantung tahap kanker yang mau kita rawat, stadium satu, dua atau tiga,” ungkapnya.

Selama mengobati pasiennya, pada masa-masa awal, yang paling dihindari Saeanah adalah tudingan orang  menilainya menangguk di air keruh. Ia membuka holistik untuk menjual herbal multilevel.  Padahal baginya perawatan  si sakit adalah paling utama. Ia mendekati pasien melalui perawatannya, menjual kesehatan bukan produk.  Pandangan masyarakat Indonesia dan malaysia  tidak jauh berbeda dalam hal suplemen alami.  Mereka mengenali obatan tapi tidak kenal suplemen. Lalu ketika ia memperkenalkan suplemen dalam holistik, mereka ragu. Dalam benak mereka suplemen ini trading atau MLM.

Pasien yang datang kepada Saenah umumnya mereka yang sudah mencoba obat-obatan rumah sakit, kimia. Mereka mengenal saenah hanya lewat kartu nama, sebab ibu kelahiran 10 April 1960 ini tidak ingin propaganda. Hanya dari mulut ke mulut. Hingga akhirnya pada tahun 2008, anak sulungnya perempuan diserang kanker stadium 4.

Sebagai dokter, ia kecewa, kenapa  anaknya bisa mendapat kanker Sementara dalam keluarganya tak ada genetik kanker.  “ Saya belajar sudah sangat mendalam.  Saya pikir, ilmu saya akan sia-sia bila  tak bisa mengobati anak sendiri.  Lalu saya bilang pada Lyn, anak saya, kalau saya akan merawatnya. Atas kehendak Allah, saya sudah menemukan produk herbal yang cocok untuk perawatan saya.   Alhamdulillah, lebih kurang setahun, saya dapat  menyembuhkan Lyn.  Ia tidak dikemo.  Ketika kami periksakan pada dokter di rumah sakit, kebesaran Allah, anak saya bebas dari kanker. Saya merasa ini ajaib.  Ini kuasa Allah. Kita diberi akal untuk berusaha apa yang patut memberikan yang terbaik untuk anak saya. Bukan kimia. Perawatan saya ambil dengan rawatan dan produk berkualitas. Pertumbuhannya bagus tiap hari. Alhamdulillah sampai saat ini, kankernya sudah lenyap,” papar Saenah.

Pengalaman mengobati anaknya, memberi keyakinan luar biasa pada Saenah. Ia bersama suaminya sekarang Mohammad Othman,  membuka klinik Dokter Saenah Abdullah (DSA) Holistik. Sebagian besar pasien yang datang adalah mengidap kanker. Menurutnya, 80 persen  bisa disembuhkan karena izin Allah. Kalaupun ada yang tidak berhasil, dari analisanya,  dikarenakan  tidak sabardan kurang disiplin pada makanan. Sementara sel kanker itu bergerak sama dengan darah. Bila pasien tidak  mengawal makanan, membuat sel itu dan emosional itu bergerak terus. “Makanan betul-betul mempengaruh. Yang lebih bahaya dalam tubuh manusia adalah stressnya. Kalau pesakit datang ke holistik saya sering beri  motivasi,  semangat agar dia lebih yakin. Bukan obatnya tapi keyakinan pasien untuk sembuh, itulah paling penting” tegasnya.

Menurut pengakuan salah satu pasiennya, Yugo, penderita diabetes kronis, ia  sudah banyak mengkonsumsi obat-obatan rumah sakit. Jika diikuti pikiran secara manusianya,  mana  mungkin dalam sejarah kedokteran modern, sakit diabetes  dan darah tinggi yang dikawal, bisa diobati dengan alami. Dalam pengobatan modern, tak ada pilihan selain cuci darah.  Bila hingga hari in, setelah 5 bulan menjalani perawatan,  dia sudah bisa ke Paris, Jepang atau kemana-mana negara.

“ Mana ada pasien yang  kencing manis masih dikawal bisa pergi ke Paris. Ia ke Paris masih dalam perawatan saya. Saya beri motivasi pada dia, saya suruh dia pergi.  Karena dluar negeri lain perubahan cuaca mungkin dia bisa tenang. Apalagi pengobatan alami sudah masuk ke dalam tubuhnya. Kalaupun ia mengkonsumsi keju yang dapat meningkatlkan kolesterol, ia masih kuat karena alami sudah masuk dan kemikal sudah disingkirkan,” katanya.

Menyaksikan pasiennya masih bisa bertahan dan sembuh, sebagai dokter holistik, itulah impiannya. Pertumbuhan pasien menjadibaik adalah hadiah baginya. Sebab, bila pasien sehat, artinya ia masih bisa membuat amalan dan bekerja.

Sekaitan dengan berbagai macam penyakit apakah itu berbahaya seperti kanker, jantung, asma kronis, ginjal, wasir dan lainnya yang  meliputi organ  bermasalah, semuanya berawal dari sistem dalaman.  Kalau toksin sudah mampat dalam  darah, kata Saenah,  mana mungkin manusia bertumbuh dengan  bagus. Karena dalam tubuh sudah penuh dengan segala toksin ,  darah tidak kuat mengalirkan  ke jantung sedangkan jantung  ini kerjanya  memompa. Bila sudah pekat, bagaimana dia memompa lagi. “Berapa lama mau naik ke otak. Kita membantu mengalirkan  penyumbatan itu. Dimana pointnya itu kita belajar dalam holistik syaraf. Jadi apabia kita betulkan  segala titik yang  ada, sekitar  4400 titik dalam badan, menyebabkan toksin dalam darah yang  berkumpul itu dipecahkan,  darah mengalir lagi, kita berii herbal berkualitas dan menolak.  Tidak harus cuci darah dulu. Tapi disini, kita melalui perawatan dulu, kita treatmen baru diberi cleansing dengan K Link. Muka yang pucatisa menjadi cerah,” jabarnya.

Jadi, sebut Saenah,  aliran dan koneksi pada paru, hati, dan ginjal yangkacau balau itu dibetulkan dulu.  Ini dilakukan dua kali pertemuan. Tergantung pada kasusnya.  Setelah dibetulkan barulah diberi produknya.  Dicontohkannya, seperti penyakit kanker. Jika kanker ikut perubatan adalah kemoterapi. Sebetulnya kanker tidak bisa mati, hanya bisa dilemahkan. Kalau kekurangan oksigen dalam tubuh, mengakibatkan sel kanker itu aktif.  Jadi manusia harus mengawal oksigennya. Sedang se hari- hari  dia berjuang dengan segala radikal dalam hidup. Seperti HP,  adalah gelombang radioaktif yang akan memusnahkan sistem syaraf manusia. Jutaan  dari sell tubuh manusia yang mati dalam sehari. “Adakah kita usahakan yang mati itu untuk pertumbuhan sel baru. Itulah sebabnya  penuaan berlaku meski usia muda. Hal ini disebabkan pengaruh teknologi, makanan sehari-hari,  menyebabkan beban tubuh berat pada hari ini. Makanya, manusia tidak bisa bertumbuh lebih jauh. Dalam  usia 35 dan 40 sudah ada darah tinggi, kolesterol. Zaman dulu kenapa tumbuh cantik, karena minum air perigi. Hari ini air kali sudah kotor, bangkai sudah masuk situ. Dari sumber air yang kotor itu disaring pada logi, cantik, kita lihat bersih, kita minum. Tapi apa yang kita minum itu menyebabkan dua biji buah pinggang sudah habis pupus.  Kalau baju kita yang warna kita beri pemutih,  masih tampak lusuhnya. Kalau  buah pinggang, apa bisa kita lihat? Tidak, karena  ini penyakit dalam diam,” katanya panjang lebar.

Selain pengobatan melalui herbal, Saenah mendekati pasiennya dengan motivasi agar tak putus asa.  Semua pasien dianggap sebagai keluarga.  Tidak jarang pula pasien mengeluh karena tak punya uang. Namun ia tak ingin gagal mengobatinya meski mereka tak cukup uang. Baginya, tak perlu mengejar kekayaan, popularitas, ataupun penghargaan.  Tapi cukuplah sekedar orang datang, minta pandangan perawatan,  dan mereka sehat atas ijin Allah. “Impian saya melahirkan banyak orang yang dapat menggantikan, saya mencari  orang-orang yang mau belajar. Saya akan latih dan bina mereka yang bisa menggantikan saya, saat saya lelah. Kalau suatu masa saya pergi, ilmu saya masih bisa dimanfaatkan,” ungkapnya.

Makanya, ketika melakukan perjalanan ke Indonesia, ia teus mencari siapa yang berminat untuk diajarkannya. Jika mau, mereka jyga bisa membukapusat pengobatan diIndonesia.  Sayangnya, hingga hari ini ia bekum menemukan orangnya. Karena itu bukan hal yang mudah. Merupakan kebahagiaan yang tidak terkirakan baginya bila banyak orang ingin belajar holistik dengannya agar kelak tetap bisa dikembangkan. Sehingga semakin banyak orang yang bisa disembuhkan . “Itulah impian saya,” tukasnya. (nita indrawati)