117 Orang Tewas Dalam 575 Kejadian Longsor Tahun 2016

Febry Chaniago
By Febry Chaniago Desember 6, 2016 22:58

JAKARTA – Hingga saat ini longsor adalah bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa meninggal. Secara nasional,  selama tahun 2016 telah terjadi 575 kejadian longsor dan menimbulkan 177 orang tewas akibat longsor.

“Longsor juga menyebabkan 100 orang luka-luka, 38.506 orang menderita dan mengungsi, 1.069 rumah rusak berat, 987 rumah rusak sedang, 926 rumah rusak ringan, dan puluhan bangunan umum rusak,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho, Selasa (6/12).

Sutopo mengungkapkan, kejadian longsor diprediksi masih akan terus bertambah mengingat potensi longsor semakin meningkat. Menurutnya, setiap tahun, tren bencana longsor memang meningkat. Pada tahun 2012 terjadi 291 bencana longsor, kemudian tahun 2013 meningkat menjadi 296, meningkat lagi menjadi 600 kejadian pada 2014 dan tahun 2015 turun dengan 515 kejadian.

“Sementara untuk tahun 2016, per tanggal 6 Desember sudah mencapai 576 kejadian,” ujarnya.

Namun korban jiwa tewas bervariasi tergantung dari besaran longsor. Tahun 2012, sebanyak 119 orang meninggal dunia akibat longsor. Tahun 2013, jumlah korban jiwa meningkat menjadi 190 orang. Bencana longsor tahun 2014 tercatat paling banyak menelan korban dalam lima tahun terakhir yaitu 372 orang tewas sedangkan tahun 2015 sebanyak 135 orang korban dan tahun 2016 ini sebanyak 177 orang.

Menurut Sutopo, meningkatnya kejadian longsor di Indonesia disebabkan tingginya kerentanan tanah. Terdapat 274 kabupaten/ kota di Indonesia yang rawan longsor dengan jumlah penduduk yang tinggal di daerah rawan longsor sedang hingga tinggi sebanyak 40,9 juta jiwa.

“Artinya 40,9 juta jiwa masyarakat tersebut terpapar langsung dari bahaya longsor. Mereka tinggal di lereng-lereng dan tebing pegunungan dan perbukitan yang rawan longsor,” terangnya.

Meski tinggal di daerah rawan longsor, ironisnya, kemampuan mitigasi baik struktural maupun non struktural masyarakat tersebut masih minim. Masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk memproteksi diri dan keluarganya sehingga rentan menjadi korban.

Pemerintah dan Pemda telah banyak melakukan upaya pencegahan longsor seperti penguatan tebing, pembangunan sistem peringatan dini, sosialisasi, reboisasi dan penghijauan, dan lainnya. Namun upaya pencegahan seringkali kalah cepat dengan faktor-faktor penyebab longsor sehingga longsor terus berlangsung.

Bertambahnya jumlah penduduk, maka kerentanan masyarakat dari longsor juga akan meningkat jika tidak ada perubahan yang nyata. Permukiman harus diatur sedemikian rupa agar masyarakat tidak membangun rumah pada daerah-daerah zona merah dari longsor. Zona merah hendaknya tidak dijadikan permukiman tetapi menjadi kawasan lindung atau resapan air.

“Penataan ruang harus benar-benar ditegakkan jika ingin mengurangi risiko bencana longsor,” tutupnya.(feb)

Febry Chaniago
By Febry Chaniago Desember 6, 2016 22:58
Loading...
Write a comment

No Comments

No Comments Yet!

Let me tell You a sad story ! There are no comments yet, but You can be first one to comment this article.

Write a comment
View comments

Write a comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*