Terbetik
- Pasar Padangpanjang Terbakar, Los Ikan Kering HangusRabu, 22 Mei 2013 07:04 wib
- Kantor Nagari Tj Betung Dapat Jatah Jaringan InternetRabu, 22 Mei 2013 06:40 wib
- 7 SD di Rao Utara Kekurangan RKBRabu, 22 Mei 2013 05:53 wib
- Pemkab/Kota Komit Tekan Penyalahgunaan Bahan Berbahaya ...Rabu, 22 Mei 2013 05:46 wib
- Persiapan TdS di Bukittinggi Mencapai 90 PersenSelasa, 21 Mei 2013 23:42 wib
- Bukittinggi Pusat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak ...Selasa, 21 Mei 2013 23:20 wib
-
Selain Nabila, Wisnu Mengaku Menghabisi Yanti
Bukittinggi – Tulang belulang manusia ditemukan sekitar 500 meter dari jalan raya dalam semak di daerah Banda Munggu, Jorong Gantiang, Nagari ... baca selengkapnya »
Komentar
Memproduksi 5 Ton Kue Selama Lebaran
ROSLAINI SYOFYAN (Kue Rose)

Rumah sederhana di Jalan HOS Cokroaminoto no. 75 Padang itu beberapa hari belakangan tak pernah sepi. Meski terlihat dari luar tampak adem-adem saja, tetapi aktifitas orang keluar masuk, bergantian, seolah tak pernah berhenti. Pengunjung yang kebanyakan kaum ibu itu, kala pulang, selalu membawa tas plastik, berisi bungkusan kue-kue yang sudah dipacking.
“Saya sudah berlangganan kue di sini sejak almarhum ibu saya masih hidup. Beliau, setiap Lebaran membeli kue di sini, bahkan sudah turun temurun. Anak-anak saya juga suka. Kayaknya lidah kami sekeluarga sudah cocok dengan kue-kue buatan Rose,” ungkap Lina, salah satu pelanggan yang baru saja membeli dua kantong plastik besar kue dengan berbagai jenis. Rose, adalah merk kue yang digandrungi keluarga besar Lina.
Di rumah sederhana, separuhnya terbuat dari kayu, disinilah berawal produksi kue kering “Rose”. Nama atau merek ini memang diambil dari nama si pemilik usaha Roslaini Syofyan, (83), yang sudah memproduksi kue Rose sejak tahun enam puluhan.
“Sejak mudanya, ibu saya gemar memasak kue kering. Ketika kue bikinan ibu dicoba oleh keluarga besar kami, mereka semua mengatakan kuenya enak,” ungkap Linda, putri kedua Roslaini, yang saat ini lebih banyak mengambil alih usaha.
Karena rasanya yang enak itu, kakaknya yang memiliki toko di kawasan Pasar Raya Padang menawarkan pada Ros untuk membuat dalam jumlah agak banyak untuk dititipkan di tokonya. Pada masa dulu, barangkali nama Toko Tip Top, menjual berbagai makanan dan kebutuhan sehari-hari di kawasan Pasar Raya, tepatnya di samping bioskop Mulia Padang, sangatlah populer. Kue-kue Rose, meski dalam jumlah terbatas, dipasarkan di Toko Tip Top.
“Hanya di toko Tip Top saja. Karena masih hubungan keluarga. Ya, sekitar 10 – 20 bungkus. Ibu kami tak berniat untuk memproduksi banyak masa itu,” tambah Linda.
Roslaini, yang sejak menikah tahun 1955 menetap di Padang, mempunyai kegemaran memasak kue sejak masih remaja bersama orang tuanya di Muaralabuh. Setelah menikah, hobi memasak kue itu masih ia salurkan dengan menggunakan resep yang ia coba sendiri. “Ibu saya tidak pernah kursus masak kue. Semua resep dicoba sendiri. Jadi semua resep kue di sini adalah hasil ramuan ibu,” jelas Linda.
Kue andalan dan merupakan kue yang selalu diproduksi Rose adalah kue Koya, sagun terbuat dari kacang hijau. Meski tidak musim lebaran, kue ini tetap ada di toko-toko di Padang. Tetapi saat Lebaran, Rose memproduksi berbagai jenis kue kering seperti kue kacang, kue spekulas, kue kenari, kue matahari, kue semprit, kue jaring, kue Sapik. Ada 19 jenis kue kering hasil produksi Rose. Yang menjadi keunggulan dan alasan kenapa kue Rose selalu digemari, karena rasanya yang garing, dan tetap bertahan dengan menu dan jenis kue lama. “Memang ada beberapa jenis kue baru. Kita sesuaikan dengan perkembangan zaman. Tahun ini kita buat kue coklat pelangi. Tapi kita tetap bertahan dengan kue-kue kering lama,” jelas Linda.
Selain itu, Rose selalu menjaga cita rasa sehingga dari tahun ke tahun, kualitas rasanya tak pernah berubah. Rasa kue kering Rose sejak pertama dijual di Tip Top, masih sama dengan hari ini.
Asal mula Roslaini menjual kuenya untuk ke luar, lantaran Toko Tip Top ditutup. Sementara pelanggannya sudah mulai ada. Ros merasa sayang meninggalkan pelanggannya. Akhirnya Ros memutuskan untuk menitipkan kuenya di Toko Ayu. Kemudian berkembang dan akhirnya kue kering Rose ada dimana-mana, khususnya saat Lebaran.
Setiap Lebaran, Imlek atau Tahun Baru, merupakan masa produktif bagi Ros dan keluarganya. “Dibanding Lebaran, saat Imlek dan Tahun Baru memang tak seberapa, tetapi tetap terhitung sebagai masa produksi. Sebenarnya kita tetap produksi untuk kue Koya. Hanya saja, untuk kue Koya, kan bisa tahan lama, bahkan setahun. Jadi kami produksi tidak tiap hari,” tambah Linda yang didampingi kakaknya Yanita.
Lebaran kali ini, Rose memproduksi mencapai 5 ton kue kering. Dibanding beberapa tahun lalu, produksi kue kering Rose masih stabil. Kenapa kue kering ini bisa bertahan, rahasianya
ada pada bahan bakunya. Roslaini selalu wanti-wanti pada tiga anak perempuan yang mewarisi resep kue keringnya agar menggunakan bahan baku berkualitas. Seperti terigu, Blue Band margarine, mentega Wisman, coklat, susu, gula dan telur, semuanya harus kualitas nomor satu. Meski kue kering Rose bisa bertahan samapi beberapa bulan, rasanya masih tetap enak, dan tidak menggunakan bahan pengawet.
Selain kualitas bahan baku, ketika memproduksi, cara pembakarannya masih dalam pola tradisional. Bila saat ini orang sudah menggunakan oven listrik atau kompor sebagai alat pemanasnya, kue Rose dibakar dengan menggunakan hawa panas dari oven batu yang disebut dengan ‘perno’ (bahasa sanskerta – red).
“Dengan menggunakan perno, maka hasil pembakaran kue akan sempurna. Karena hawa panas yang bersumber dari hasil pembakaran kayu selama berjam-jam, akan membakar kue hingga ke bagian dalamnya. Itulah yang membuat kue Rose terasa garing dan renyah sampai ke dalam bagian kuenya,” kata Roslaini.
Perno adalah oven berukuran sekitar 3 x 4 meter persegi yang terbuat dari batu yang dilengkapi dengan cerobong asap. Sumber panasnya berasal dari pembakaran kayu dan tempurung kelapa.
Sebelum proses pemanggangan di dalam perno, sudah disiapkan sekitar 13 ikat kayu bakar, yang dibakar di dalam perno selama 4 jam. Beberapa jam kemudian arang atau abunya disisihkan, barulah kue yang sudah disiapkan dalam cetakannya dimasukkan dalam perno. Hawa panas yang tersimpan dalam oven itu siap membakar kue hingga ke pori-porinya. Hanya beberapa menit, kue sudah masak.
Sebagian besar bahan kue Rose didatangkan dari Jakarta. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi untuk kewaspadaan. Jika mengandalkan atau membeli di Padang, mereka khawatir kehabisan bahan. Sementara mereka membutuhkan mentega Blue band sebanyak 2 ton. Bila tak mencukupi artinya produksi mereka akan terhenti. “Makanya kami lebih cendrung membelinya di Jakarta. Begitu juga terigu. Untuk kebutuhan kue Lebaran ini kami perlu setengah ton terigu, 800 butir telur ayam dan 800 ikat kayu bakar,” tutur Linda.
Di antara kue buatan Rose yang sangat laris adalah nastar nenas, kue koya (sagun kacang hijau), kue kacang, skippy, semprit dan beberapa lainnya. Sementara pemasaran kuenya, tidak hanya Kota Padang, tetapi juga sampai ke Pekanbaru, Sungaipenuh dan Bukittinggi.
Memenuhi kebutuhan itu, Roslaini dan dua putrinya Linda serta Yanita harus bolak balik Jakarta Padang. Sebab, sejak suaminya meninggal tahun 1991, Roslaini tinggal bersama anak-anaknya di Jakarta, yang semuanya sudah menikah. “Saat bulan puasa, kami sudah di Padang untuk mempersiapkan produksi. Setelah Lebaran, kami kembali ke Jakarta. Tapi sekali dalam dua bulan, Ibu saya masih ke Padang membuat kue Koya. Kadang-kadang saya juga ikut. Tapi tidak bisa sering-sering, karena seluruh anak-anak dan keluarga saya di Jakarta. Kakak-kakak semuanya dengan keluarganya juga di Jakarta. Bahkan ada yang bolak balik ke Amerika karena anaknya juga di sana,” jelas Linda.
Untuk produksi khusus Lebaran ini, Roslaini mempekerjakan sekitar 30 orang wanita dari lingkungan tempat tinggalnya. Kebanyakan dari mereka adalah pekerja yang sudah rutin membantunya belasan tahun. Mereka juga berasal dari keluarga yang saling berhubungan satu sama lainnya. Para pekerja ini terlibat dalam hal mencetak dan mengemas. Dalam hal menyiapkan adonan, hanya Roslaini dan kedua putrinya. Menyangkut pembakaran, karena harus selalu dikontrol dan ahli, Roslaini membawa tukang bakar dari Jakarta
Ditanya batasan produksi, menurut Linda, mereka akan berproduksi sesuai dengan jumlah bahan baku. Kalau semua pesanan sudah disiapkan, bahan bakunya sudah habis, mereka akan menghentikan produksi, meski permintaan masih tetap ada. “Kami hanya produksi sampai bahan bakunya habis. Kami tidak memaksakan harus memenuhi semua permintaan. Biarlah, mereka mencari ketempat lain. Itu kan rezeki orang lain juga,” ujarnya seraya tertawa.
Soal harga, dibanding kue kering lainnya, harga kue kering Rose relatif murah. Berkisar antara Rp 120.000 sampai Rp.180.000,- perkilo. Kemasan yang tersedia adalah ukuran seperempat dan setengah kilo. Mau mencoba? Silahkan aja ke HOS Cokroaminoto 175 Padang. Linda dan Yenita, bahkan Roslaini akan melayani konsumennya dengan ramah. Meski sudah berusia 83 tahun, Roslaini tampak masih cekatan melayani dan menjelaskan tentang kue kering racikannya. (nita indrawati)





