Ketika Guru Menjadi Tukang Parkir

padangmedia.com , Minggu, 08 April 2012 00:00 wib

“Aku menyesal. Kenapa aku harus berhenti jadi guru? Kalau aku tidak berhenti, mungkin aku tak kan berada di jalanan seperti ini,” ungkap Midiwati, kepada padangmedia.com suatu kali. Nada penyesalan jelas terdengar dari suaranya yang tertahan diantara hiruk ikuk dan kebisingan lalu lintas di perapatan Jalan Permindo Padang. Tetapi menyesalpun, tak akan bisa mengubah kondisinya. Bagi Wati, begitu ia disapa, mengubah hidup tidak juga begitu penting. “Bagiku, bisa bertahan, bisa makan, dan punya biaya sekolah lima anak, sudah lebih dari cukup. Aku harus memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anakku,” ucap Wati. Sendirian, menata hidup dalam segala sisi yang serba mahal, memang tidak mudah. Apalagi hanya melakoni peran sebagai tukang parkir. Berapalah yang boleh diharapkan dari tukang parkir yang selalu dikejar-kejar setoran. “Tapi syukurlah, Tuhan masih sayang padaku. Satu anakku sudah sarjana, dua orang mahasiswa di perguruan tinggi swasta dan dua lagi SMP juga di swasta. Sampai saat ini aku masih bisa membiayai mereka sendirian. Aku tidak meminta-minta apalagi mengemis,” ujarnya optimis. Sejak ditinggal suaminya yang menikah lagi dan menghilang entah kemana, Wati berjuang sendirian dan melawan hempasan badai dengan lima orang anak-anaknya. Diakui Wati, pekerjaan sebagai tukang parkir ini adalah “warisan” suaminya. “Dulu, dia yangmenguasai wilayah parkir di sini. Aku ketemu dia ketika dia sedang memarkir kendaraan. Aku mau belanja bedak ke toko Burma. Waktu tahun 80-an itu, aku masih mengajar di SD Mardisiwi,” jelas Wati yang enggan menyebut nama suaminya. Ketika menikah, tahun 1989, Wati tidak mengajar lagi. Karena tidak juga bisa menjadi PNS, ia putus asa. Menurutnya, kesabarannya tidak bisa ditoleransi setelah 9 kali test PNS. Sementara kawan-kawannya yang sama ikut test dan kemampuannya pas-pasan bisa lolos. “Kawanku itu pakai duit sejuta dua ratus ribu supaya lulus tes. Aku tidak ada duit. Mana bisa kucarikan duit sebanyak itu. Makanya aku tak lulus-lulus,” sambungnya lagi. Wati memutuskan berhenti setelah 8 tahun menjadi guru honor. Dengan keahlian yang dimilikinya dari kampung sebagai pedagang, iapun mulai berjualan. “Orang Batak kan banyak jualan keliling. Aku ikut jualan keliling. Waktu jadi guru, aku sudah dagang juga, bawa ke sekolah dan jualan di luar jam sekolah. Tapi waktu ngutip duit kreditnya, sering benturan dengan jam mengajar. Makanya setelah berhenti, waktuku penuh untuk jualan. Aku harus kerja, karena mengandalkan uang dari suami berapalah. Tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” ucapnya seraya mengejar sebuah mobil yang hendak keluar dari parkiran. Dengan sigap Wati membantu mobil Innova berwarna hitam itu keluar, memainkan tangannya dan setengah berlari memungut uang yang disodorkan sopir mobil “Masih mending, orangnya baik. Mau bayar 3 ribu. Kadang ada orang yang cerewet, ngotot hanya mau bayar 2 ribu. Banyak orang yang protes parkir dipungut 3 ribu, katanya biasanya 2 ribu. Aku dongkol juga. Padahal di kawasan pasar parkirnya sejak awal tahun 2012 sudah naik. Bahkan dengan memperlihatkan kartu parkir resmi dari balaikota, mereka juga tidak percaya. Celakanya, ada yang bilang karcis parkir ini aku bikin sendiri. Mana bisa aku bikin. Ini resmi, ada lubang-lubang tanda resmi dari balaikota. Dari pada bikin karcis itu, lebih baik aku ndak makan. Sekarang kalau mau bayar ya bayar kalau ndak mau bayar ya sudah. Jangan menuduh orang sembarangan. Tuduhan orang itu yang bikin kupingku panas,” katanya sambil mengomel. Diakui Wati, sejak awal tahun ketika diberlakukan tariff parkir 3 ribu rupiah untuk mobil dan seribu untuk sepeda motor, ia juga dituntut memenuhi setoran sehari Rp. 75.000,-. Jika hujan atau hari biasa, setoran itu pas-pasan, sehingga tak ada yang dibawa pulang. Sementara kebutuhan hidup dari waktu ke waktu semakin tinggi. Dalam sehari, ia harus menyediakan uang untuk transportasi 4 anaknya sejumlah Rp. 80.000,-, sedangkan belanja dapur 20 ribu. Untuk beras, katanya ia membeli beras satu karung 30 kg, cukup untuk kebutuhan dua bulan. “Kami semua di rumah 5 orang, aku dan 4 anak. Satu anakku sudah tamat di Unand fakultas hukum, sekarang dia kerja di Batam. Diantara semuanya, aku yang rutin makan di rumah. Kalau kerja, aku bawa nasi dari rumah. Anak-anakku kadang makan, kadang tidak. Ketika kutanya, dia sudah makan, katanya ada temannya traktir makan di KFC. Itulah anak-anakku, kawannya banyak, rata-rata orang berduit. Jadi sering diajak makan. Semua teman anak-anakku tahu kalau aku kerja di sini,” tuturnya. Wati bersyukur memiliki anak-anak yang penurut dan tidak macam-macam. Mereka tidak malu memiliki ibu seorang tukang parkir. Pernah Wati menanyakan pada mereka, anak-anaknya malah bangga mempunyai ibu yang gigih. Tak tanggung-tanggung, untuk pendidikan anaknya Wati sangat prioritas. Anaknya yang kedua bernama Ester, tamat SMA di Don Bosco meneruskan kuliah di UPI Lubuk Begalung. Anak ketiganya Paulinus, tamat SMA 6 Padang meneruskan ke STBA Prayoga. Sedangkan anak ke 4nya bernama Ivander, masih SMP Frater dan anak kelimanya Jesica juga di SMP Frater. “Bagiku pendidikan anak-anak nomor satu. Aku pilihkan sekolah terbaik untuk mereka. Malah yang SMP, aku masukkan privat les seminggu dua kali. Bagiku, mereka tidak perlu juara asal nilainya bagus. Untuk juara di sana susah, saingannya berat. Anak-anak Cina itu pintar-pintar. Mereka bisa bersaing dengan yang pintar-pintar itu, sudah bagus. Aku berharap mereka bisa jadi orang sukses, tidak seperti aku,” ungkapnya. Setelah 15 tahun hidup di jalanan, Wati mengaku tidak mempunyai tabungan hari tua. Semua penghasilan dari memarkir kendaraan habis dimanfaatkan untuk hidup. Dulu, sebelum diberlakukan perubahan tariff dan jumlah setoran, Wati bisa mengantongi seratus ribu bahkan lebih. Tapi sejak awal tahun 2012, ia kewalahan. Ada kalanya ia harus nombok setoran. Sykurlah, ia tidak memikirkan biaya kontrakan rumah. Karena saat ini ia sudah memiliki rumah sendiri di perumnas Pegambiran yang ia tempati sejak tahun 1986 dari dagang keliling. Rumah perumnas itu boleh dikatakan hanya beli tanah, karena harus ditimbun dan dibenahi. Ia mencicil Rp. 20.800,- sebulan selama 25 tahun. “Cicilannya sudah selesai. Aku tak mikir lagi soal rumah. Dulu, aku beli timbunan 75 ribu. Itu saja yang kubeli. Semennya aku ambil dari dalam kereta api pembawa semen di Bukik Putuih. Sehari aku ambil 5 kantong, kadang sampai 10 kantong. Aku beli kantongnya aja 2500. Aku minta sama orang setempat. Aku cicil-cicil membangun rumahnya. Tapi tahun 1999, tak ada lagi orang ngambil semen di kereta api,” paparnya polos. Hingga sekarang, tamatan SPG tahun 80 itu masih tetap optimis, selalu tegar menghadapi umpatan orang lalu lalang ataupun omelan pengendara kendaraan bermotor yang merasa keberatan dengan tariff parkirnya. Meski jarang istirahat bahkan nyaris tak pernah libur menjadi juru parkir, ia tetap kuat. Menurutnya, Tuhan sangat baik dan mengerti dengan tuntutan hidupnya. “ Tuhan sangat baik. Tuhan tahu kalau aku sendirian mencari hidup untuk anak-anakku, makanya aku jarang sakit. Sekali dalam sebulan memang aku sakit perut. Kutanya ke puskesmas, katanya aku mag sudah kronis. Jadi aku mesti jaga terus agar perutku tak kosong. Aku tidak ingin lebih parah. Kalau aku sakit atau sampai terkapar, bagaimana aku bisa kerja? Aku harus terus bekerja agar anak-anakku tetap sekolah dan mencapai cita-citanya. Mereka harus jadi orang sukses dan berguna bagi nusa bangsa,” katanya dalam nada bersemangat. Selamat berjuang , Wati…(nit)